
Jumlah UMKM Di Pekanbaru Mencapai 67.728

Pekanbaru (Antarariau.com) - Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Provinsi Riau dari waktu ke waktu terus meningkat disebabkan makin tumbuhnya kesadaran menjadi wirausaha akibat belum seimbangnya jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang tersedia.
"Pekanbaru merupakan wilayah dengan jumlah UMKM terbanyak yaitu mencapai 68.728 UMKM diikuti Kampar (45.446), Inhil (44.891), Bengkalis (42.029), Rohil (34.036), Rohul (27.074), Inhu (26.488), Siak (22.948), Kuansing (21.450), Dumai (20.782) dan Palalawan (13.824)," kata staf ahli gubernur bidang hukum dan politik Tien Mastina dalam acara Rakor pelaksanaan kredit usaha rakyat di Hotel Grand Central, Kamis.
Setiap tahun UMKM di Riau tumbuh pada kisaran 5-10 persen.
Ia mengatakan, banyaknya jumlah UMKM ini bisa dimanfaatkan untuk mengelola SDM ataupun mendorong para pencari kerja untuk membuat usaha baru yang lebih variatif sehingga makin banyak jumlah pencari kerja yang bisa diserap.
Keberadaan UMKM di Riau ternyata cukup mampu menyediakan lapangan kerja bagi warga sekitar serta saudar dari pemilik usaha itu. Namun pertumbuhan UMKM perlu terus dipacu dalam mempercepat terciptanya kesejahteraan di masyarakat.
Dalam menumbuhkembangkan usaha UMKM, menurut Tien perlu didukung oleh pengusaha perbankan terutama dalam memberikan bantuan permodalan dalam bentuk pinjaman lunak.
Selain itu pelaku UMKM juga harus dibina terutama dalam meningkatkan kualitas barang, kemasan serta pemasaran.
"Saat ini dengan kemajuan teknologi, pelaku UMKM bisa memanfaatkannya dalam mengenalkan produk serta mendapatkan pembeli," ujarnya.
Jumlah UMKM Riau di bidang perdagangan sebanyak 77.156, bidang jasa 19.656, bidang produksi 12.760, dan bidang industri 11.320.
Terkait pinjaman yang disalurkan oleh perbankan ke pelaku UMKM didasarkan data BI terus meningkat, namun tunggakan pinjaman angkanya juga cukup besar.
Kepala Bank Indonesia Pekanbaru Ismet Inono menyatakan kredit macet (non performing loan) sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berada pada level 7,56 persen pada tiga bulan pertama tahun ini, meningkat dari Triwulan IV/2015 yang hanya 6,76 persen.
Ia menyatakan peningkatan NPL kredit UMKM ini karena terdorong oleh NPL UMKM sektor konstruksi dan perdagangan. Dua sektor ini NPL UMKM nya mencapai 10,56 persen dan 8,26 persen.
Data Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit ke UMKM pada triwulan I/2016 mencapai p19,9 triliun dan diserap paling besar oleh sektor perdagangan 45,49 persen, lalu disusul pertanian 33,62 persen. Kredit ke sektor perdagangan ini senilai Rp9,05 triliun atau tumbuh 7,09 persen yoy dan sektor pertanian senilai Rp6,69 triliun atau tumbuh melambat 0,52 persen.
"Sementara kalau kami melihat penyaluran kredit UMKM ini paling besar ke sektor usaha kecil 39,14 persen atau Rp7,79 triliun, lalu usaha menengah 31,54 persen atau Rp6,28 triliun, dan usaha mikro 29,32 persen atau Rp5,48 triliun," katanya.
Oleh: Gebby Fadhila Sari
Pewarta : Antara Riau
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

