
APP Tanam 10.000 Bibit Meranti
Selasa, 11 Agustus 2015 19:26 WIB

Perawang, Siak, (Antarariau.com) - Kelompok bisnis Asia Pulp & Paper Group (APP) bersama dengan masyarakat lokal menanam 10.000 bibit pohon lokal Meranti di Area Konservasi PT Arara Abadi Distrik Rasau Kuning-Pertiwi Kecamatan Tualang Kabupaten Siak sebagai bagian dari usaha reforestasi hutan terdegradasi di suaka margasatwa Giam Siak Kecil, Riau, Sumatra.
Kegiatan yang digelar pada Selasa (11/8) itu dihadiri oleh: Kepala Balai Besar KSDA Riau Yang di wakili oleh Kaban. Supartono, Atase Kehutanan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang. Maidiward, Forda BPTSTH Ā Kuok, Krisno, Pimpinan APP Group dan SMF Andi Hermanto, Sera Novianty, Project Manager ITTO Ma Hwan-Ok, Japan Agency for Enviromental, Mitsunori Kamiwa,pimpinan PT Arara Abadi, Appathurai Rajasingham dan Edi Haris, Senior Ddirektur IKPP, Hasanuddin The. GM.FED SMF Riau, Syarif Hidayat serta Humas PT AA-SMF. Herwansyah dan Nurul Huda dan para siswa SLTA yang cinta lingkungan di Perawang.
Dalam Sambutannya yang Mewakili SMF, Sera Novianty menyampaikan. pada April 2014, APP telah meluncurkan sebuah komitmen untuk mendukung perlindungan dan restorasi satu juta hektare hutan di Indonesia, yang berlokasi di sepuluh lanskap di Sumatra dan Kalimantan. Sejalan dengan komitmen tersebut dan atas rekomendasi dari tokoh lingkungan hidup dari Jepang, Profesor Akira Miyawaki, APP telah mempersiapkan sebuah proyek restorasi hutan seluas 25 hektare di lanskap Giam Siak Kecil.
Area yang terdegradasi tersebut akan ditanami dengan sekitar 10,000 bibit Shorea sp (dipterocarpaceae) atau lebih dikenal dengan Meranti. Area 25 Ha ini terdiri dari 24 ha yang terletak di zona inti Giam Siak Kecil di distrik Humus, Kabupaten Bengkalis sebagai area terdegradasi dan 1 ha area konservasi di area Pertiwi Rasau Kuning Distrik, Kabupaten Siak.
Penanaman ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal dan dikhususkan pada spesies lokal yang bertujuan agar hutan dapat kembali seperti aslinya. Keterlibatan masyarakat lokal ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya penanaman pohon khususnya di area terdegradasi. Selain itu, program penanaman ini memiliki durasi selama satu tahun dan masa pemeliharaan selama dua tahun dengan dukungan dari Sinar Mas Forestry (SMF).
APP mengajak Organisasi International Tropical Timber Organization (ITTO) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Kuok Riau (Forda Kuok) untuk berkolaborasi dalam program ini. Kerja sama ini dilakukan dengan pertukaran informasi dan spesies lokal. APP menyambut lebih banyak lagi kolaborasi ini dan dukungan dari para pemangku kepentingan global.
Sementara itu Suhendra Wiriadinata, Direktur APP, menambahkan dalam rilis kerjasama ini juga diharapkan dapat menambah kemitraan lintas sektor untuk dapat berbagi informasi tentang kebijakan pemerintah baik di tingkat nasional maupun regional serta berbagi metodologi dalam hal konservasi dan restorasi hutan.
Selain itu, kemitraan tersebut dapat menjadi model yang akan mendorong industri lain untuk memulai inisiatif serupa yang dapat membantu memulihkan hutan di Indonesia. Maka dari itu, kami memberikan apresiasi kepada ITTO dan Forda Kuok atas dukungannya dalam program ini"
Dr. Hwa Ma Ok, Project Manager ITTO, menambahkan "Penanaman pohon dengan menggunakan spesies lokal di area terdegradasi merupakan salah satu langkah dalam mengurangi emisi karbon dunia. ITTO bekerja sama dengan Forda-Kuok untuk memberikan kontribusi dalam manajemen berkelanjutan, konservasi, dan pemanfaatan spesies bernilai tinggi asli di Sumatera. Kami mendukung program yang dilaksanakan oleh APP dan SMF ini, karena untuk dapat mewujudkan tujuan ini dengan skala yang lebih besar maka dibutuhkan kontribusi dari setiap sektor."
Pada bulan Februari 2013 APP meluncurkan Kebijakan Konservasi Hutan APP (FCP) untuk melindungi semua hutan alam di seluruh rantai pasokan APP. Dengan adanya kebijakan ini, APP memastikan tidak ada lagi kayu hutan alam yang akan dikonversi menjadi produk yang dijual ke pelanggan. Disamping komitmen ini, APP merupakan satu-satunya produsen pulp dan kertas yang ikut menandatangani New York Declaration on Forest di acara UN Climate Summit bulan September 2014 yang lalu. Deklarasi tersebut berisi komitmen untuk menjaga hutan dan membantu mengatasi perubahan iklim.
*Perawang,Siak.*Asia Pulp & Paper Group (APP) bersama dengan masyarakat lokal menanam 10.000 bibit pohon lokal Meranti, sebagai bagian dari usaha reforestasi hutan terdegradasi di suaka margasatwa Giam Siak Kecil, Riau, Sumatra.Pada Hari Selasa, Tgl.11 Agust 2015 bertempat di Area Konservasi PT Arara Abadi Distrik Rasau Kuning-Pertiwi Kecamatan Tualang Kabupaten Siak yang dihadiri oleh: Kepala Balai Besar KSDA Riau Yang di wakili oleh Kaban. Supartono, Atase Kehutanan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang. Maidiward, Forda BPTSTH Kuok, Krisno, Pimpinan APP Group dan SMF Andi Hermanto, Sera
Novianty, Project Manager ITTO Ma Hwan-Ok, Japan Agency for Enviromental, Mitsunori Kamiwa,pimpinan PT Arara Abadi, Appathurai Rajasingham dan Edi Haris, Senior Ddirektur IKPP, Hasanuddin The. GM.FED SMF Riau, Syarif Hidayat serta Humas PT AA-SMF. Herwansyah dan Nurul Huda dan para siswa SLTA yang cinta lingkungan di Perawang.
Dalam Sambutannya yang Mewakili SMF, Sera Novianty menyampaikan. Pada pada bulan April 2014, APP meluncurkan sebuah komitmen untuk mendukung perlindungan dan restorasi satu juta hektar hutan di Indonesia, yang berlokasi di sepuluh lanskap di Sumatra dan Kalimantan. Sejalan dengan komitmen tersebut dan atas rekomendasi dari tokoh lingkungan hidup dari Jepang, Profesor Akira Miyawaki, <http://kabar24.bisnis.com/read/20141027/78/268257/bapak-penanam-pohon-akira-miyawaki-tanam-pohon-di-indonesia> APP telah mempersiapkan sebuah proyek restorasi hutan seluas 25 hektar di lanskap Giam Siak Kecil. Area yang terdegradasi tersebut akan ditanami dengan sekitar 10,000 bibit *Shorea sp* (dipterocarpaceae) atau lebih dikenal dengan Meranti. Area 25 ha ini terdiri dari 24 ha yang terletak di zona inti Giam Siak Kecil di distrik Humus, Kabupaten Bengkalis sebagai area terdegradasi dan 1 ha area konservasi di area Pertiwi Rasau Kuning Distrik, Kabupaten Siak.
Penanaman ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal dan dikhususkan pada spesies lokal yang bertujuan agar hutan dapat kembali seperti aslinya. Keterlibatan masyarakat lokal ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya penanaman pohon khususnya di area terdegradasi. Selain itu, program penanaman ini memiliki durasi selama satu tahun dan masa pemeliharaan selama dua tahun dengan dukungan dari Sinar Mas Forestry (SMF).
APP mengajak Organisasi International Tropical Timber Organization (ITTO) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan di Kuok Riau (Forda Kuok) untuk berkolaborasi dalam program ini. Kerja sama ini dilakukan dengan pertukaran informasi dan spesies lokal. APP menyambut lebih banyak lagi kolaborasi ini dan dukungan dari para pemangku kepentingan global.
Sementara itu Suhendra Wiriadinata, Direktur APP, menambahkan dalam release †Kerjasama ini juga diharapkan dapat menambah kemitraan lintas sektor untuk dapat berbagi informasi tentang kebijakan pemerintah baik di tingkat nasional maupun regional serta berbagi metodologi dalam hal konservasi dan restorasi hutan. Selain itu, kemitraan tersebut dapat menjadi model yang akan mendorong industri lain untuk memulai inisiatif serupa yang dapat membantu memulihkan hutan di Indonesia. Maka dari itu, kami memberikan apresiasi kepada ITTO dan Forda Kuok atas dukungannya dalam program ini"
Dr. Hwa Ma Ok, Project Manager ITTO, menambahkan "Penanaman pohon dengan menggunakan spesies lokal di area terdegradasi merupakan salah satu langkah dalam mengurangi emisi karbon dunia. ITTO bekerja sama dengan Forda-Kuok untuk memberikan kontribusi dalam manajemen berkelanjutan, konservasi, dan pemanfaatan spesies bernilai tinggi asli di Sumatera. Kami mendukung program yang dilaksanakan oleh APP dan SMF ini, karena untuk dapat mewujudkan tujuan ini dengan skala yang lebih besar dibutuhkan kontribusi dari setiap sektor."
Pada bulan Februari 2013 APP meluncurkan Kebijakan Konservasi Hutan APP (FCP) untuk melindungi semua hutan alam di seluruh rantai pasokan APP. Dengan adanya kebijakan ini, APP memastikan tidak ada lagi kayu hutan alam yang akan dikonversi menjadi produk yang dijual ke pelanggan. Disamping komitmen ini, APP merupakan satu-satunya produsen pulp dan kertas yang ikut menandatangani New York Declaration on Forest di acara UN Climate Summit bulan September 2014 yang lalu. Deklarasi tersebut berisi komitmen untuk menjaga hutan dan membantu mengatasi perubahan iklim.
Pewarta : Perawang, Siak, (Antarariau.com) - Kelompok bisnis Asia Pulp & Paper Group (APP) bersama dengan
Editor:
Maswandi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

