
Menebus Masa Lalu dengan Kesegaran Sayur Hidroponik di Lapas Pekanbaru

Pekanbaru (ANTARA) - Suasana sejuk dan asri langsung terasa saat memasuki area budidaya hidroponik di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru. Di antara barisan instalasi pipa paralon yang tertata rapi, dua orang pria tampak sibuk dan telaten merawat tanaman yang menghijau. Siapa sangka, di balik keahlian mereka mengelola pertanian modern ini, keduanya merupakan warga binaan yang sedang menjalani masa hukuman akibat kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
Adalah Suyoko, warga binaan dengan vonis 8 tahun penjara, dan Afrizal, yang kini tengah menghitung hari karena dua bulan lagi akan menghirup udara bebas. Tangan-tangan yang dulunya terbiasa dengan urusan birokrasi dan berkas kedinasan, kini justru terlihat cekatan meracik nutrisi, membersihkan instalasi, hingga menyemai benih sayuran.
Setiap harinya, dari pagi hingga sore, kedua pria ini mengabdikan waktu mereka untuk mengelola seluruh proses budidaya hidroponik. Mulai dari tahap pembibitan, perawatan harian, penyaluran nutrisi air, hingga masa panen tiba. Berbagai jenis sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan tanaman hijau lainnya tumbuh subur di bawah perawatan intensif mereka dengan pengawasan melekat dari Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Pekanbaru.
Keberhasilan program pembinaan kemandirian ini bukan sekadar pengisi waktu luang. Setiap seminggu sekali, kebun hidroponik di balik jeruji besi ini mampu menghasilkan 30 hingga 50 bungkus pakcoy dan selada segar siap konsumsi. Produk sayuran berkualitas tinggi ini kemudian dipasarkan secara luas, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan di dalam Lapas maupun dijual kepada masyarakat umum di luar Lapas.
Program budidaya yang berjalan sukses ini tidak lepas dari komitmen penuh Plh. Kalapas Kelas IIA Pekanbaru, Yusup Gunawan selaku pembina program. Guna memastikan keberlanjutan dan standar kualitas produk, pihak Lapas bahkan telah menjalin kerja sama strategis dengan mitra profesional, yaitu Green Farm Pekanbaru. Sayuran segar hasil keringat warga binaan ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 per bungkus.
Plh. Kalapas Kelas IIA Pekanbaru menjelaskan bahwa program pembinaan ini telah berlangsung lama dan menunjukkan grafik keberhasilan yang sangat positif, terutama dalam mengubah pola pikir dan keahlian para warga binaan.
"Kegiatan budidaya hidroponik ini sudah berjalan lama dan berjalan sukses di Lapas Pekanbaru. Banyak warga binaan yang dari awalnya tidak memahami sama sekali bidang pertanian modern ini, namun melalui ketekunan, akhirnya mereka bisa sangat memahami bahkan kini sudah dapat mengajari warga binaan yang lain," ujar Yusup Gunawan.
Lebih lanjut, Kalapas juga memaparkan bagaimana hasil panen tersebut didistribusikan secara adil dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi program pembinaan kemandirian.
"Hasil panennya kami bagikan untuk konsumsi warga binaan di dalam agar kebutuhan nutrisi mereka terpenuhi, dan sebagian lagi dijual ke masyarakat luar melalui kerja sama dengan Green Farm Pekanbaru seharga lima ribu rupiah per bungkus. Harapan kami, kita bisa melaksanakan kegiatan ini secara terus-menerus. Kalau bisa, lahannya semakin diperbesar agar warga binaan lain juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan produktif," pungkas Kalapas.
Bagi Suyoko dan Afrizal, berada di ladang hijau hidroponik ini memberikan kedamaian tersendiri sekaligus menjadi sarana untuk menebus kesalahan masa lalu. Rutinitas ini tidak hanya membekali mereka dengan keahlian baru, tetapi juga menumbuhkan rasa optimisme untuk kembali diterima oleh masyarakat luar.
Saat ditemui di sela-sela aktivitas memanen pakcoy, mereka mengungkapkan rasa syukur dan kecintaan yang mendalam terhadap kegiatan pertanian modern ini.
"Kami sangat menyukai kegiatan ini. Berada di sini setiap hari membuat kami merasa produktif dan berguna. Harapan terbesar kami adalah ilmu yang kami dapatkan di dalam Lapas ini dapat memberikan manfaat yang nyata, pertama-tama untuk diri kami sendiri, kemudian untuk keluarga, dan juga bagi masyarakat luas," ungkap Suyoko.
Bagi Afrizal yang akan segera bebas dalam waktu dua bulan ke depan, keterampilan hidroponik ini merupakan modal berharga yang akan ia bawa pulang ke rumah untuk memulai lembaran hidup yang baru.
"Sekembalinya ke masyarakat nanti, ilmu hidroponik ini tidak akan saya biarkan hilang begitu saja. Saya berkomitmen untuk menggunakannya dan mempraktikannya demi menghidupi keluarga serta membantu mengedukasi masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya. Ini adalah modal hidup baru bagi saya," tutupnya optimis.
Kisah Suyoko dan Afrizal di Lapas Pekanbaru menjadi bukti nyata bahwa dinding penjara bukanlah akhir dari segalanya. Di bawah bimbingan Seksi Giatja dan pembinaan terukur, dari tempat yang paling terbatas sekalipun, semangat perubahan dan ketahanan pangan dapat tumbuh subur dan hijau, memberikan harapan baru bagi masa depan yang lebih baik.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

