Logo Header Antaranews Riau

Densus 88 dan Disdik Siak edukasi 180 kepsek cegah paham IRET

Rabu, 27 Mei 2026 05:12 WIB
Image Print
Satgawil Riau Densus 88 Antiteror Polri bersama Disdik Siak menggelar FGD yang diikuti para kepala sekolah SMP secara daring, di Siak, Riau, Selasa (26/5/2026). ANTARA/HO-Pemkab Siak

Siak, Riau, (ANTARA) - Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Riau Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Republik Indonesia bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Siak melakukan edukasi di sekolah untuk mencegah generasi muda dari pengaruh paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).

Perwakilan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri Iptu Umar Dhani menjelaskan pola penyebaran paham radikal terus berkembang mengikuti kemajuan teknolog, jika sebelumnya dilakukan melalui pertemuan langsung, kini berbagai platform digital menjadi sarana yang kerap dimanfaatkan untuk menjangkau generasi muda.

"Guru memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan siswa di lingkungan sekolah," katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti sekitar 180 kepala SMP se-Kabupaten Siak secara virtual, Selasa .

Oleh karena itu, kata dia, kewaspadaan dan komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam mendeteksi potensi penyebaran paham IRET sejak dini.

Ia menekankan peran guru dan orang tua merupakan benteng pertama dalam pencegahan paham IRET kepada murid, dan keduanya perlu membangun komunikasi aktif dan pendekatan yang humanis, serta dialog kepada murid agar berbagai persoalan yang dihadapi anak dapat diketahui lebih awal.

Ia juga mengingatkan bahwa media sosial dan game daring menjadi ruang yang perlu mendapat perhatian karena tingginya intensitas penggunaan teknologi di kalangan remaja saat ini.

"Perkembangan modus penyebaran paham radikal saat ini semakin kompleks. Anak-anak dan remaja menjadi target melalui ruang digital yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari," ujarnya

Melalui kegiatan FGD ini, para kepala sekolah diharapkan dapat membawa pemahaman yang diperoleh ke satuan pendidikan masing-masing sehingga penguatan karakter, literasi digital, dan kewaspadaan terhadap berbagai pengaruh negatif dapat berjalan seiring dalam proses pendidikan.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Romy Lesmana juga menyinggung peristiwa yang terjadi di Islamic Center Siak sebagai pengingat ketika seorang siswa meninggal dunia akibat senapan rakitan yang dibuatnya saat praktek pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

"Peristiwa yang terjadi di Siak harus menjadi pelajaran bersama bahwa upaya pencegahan harus diperkuat, terutama di lingkungan sekolah agar anak-anak tidak mudah terpapar paham radikal berbasis kekerasan," kata dia.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026