Logo Header Antaranews Riau

Jakarta Yang Sumpek

Sabtu, 4 Mei 2013 11:15 WIB
Image Print

Jakarta, Ibu Kota Negara yang mulai sumpek. Padatnya kendaraan memenuhi tiap ruas jalan di tengah kota mendatangkan kepenatan yang luar biasa. Emosi bercampur aduk dengan kecemasan waktu yang terus memburu.

Jakarta, yang begitu 'berlimpah' dengan gedung dan menara pencakar langit, waktu seakan terus saja mubazir. Terbuang sia-sia di atas kendaraan yang selalu menghasilkan polusi, mencemarkan udara hingga kondisinya benar-benar sumpek.

Semisal perjalanan dari Hotel Atlet Century Park Senayan yang terletak di Jalan Asia Afrika menuju Pengadilan Tipikor yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (3/5).

Padahal, jaraknya hanya kurang dari 20 kilometer, namun akibat padatnya kendaraan yang mengisi tiap ruas jalan protokol, membuat perjalanan terasa begitu lama. Bahkan malam hari, kemacetan membuat perjalanan 'putus' ditempuh dalam waktu lebih dari satu jam.

Pada jam pagi, kondisi Jakarta seimbang dengan kondisi siang di berbagai wilayah kota besar lainnya di Indonesia, seperti Pekanbaru, Provinsi Riau. Kemacetan tetap saja terasa meski kebanyak manusia di kota ini yang sebenarnya telah sibuk di ruang kerja dalam gedung masing-masing kantor.

Namun Jakarta, tetap saja menjadi 'hantu' kemacetan. Terlebih memasuki siang hingga sore dan malam hari. Kota ini seakan tidak pernah 'mati'. Jutaan kendaraan berjalan merayap, lebih lambat dari 'mereka', para pejalan kaki yang mulai kehilangan jalur akibat pengendara sepeda motor yang selalu 'memakan' badan jalan demi 'memburu waktu'.

Jakarta yang sumpek, juga terasa begitu 'kental' jika melihat bangunan rumah susun (rusun) di Jakarta yang masih sangat amburadul. Padatnya penghuni, membuat lingkungan sekitar rusun terasa sangat kumuh. Sampah berserakan dan kendaraan 'bercecer' di sejumlah pinggir ruas jalan hingga kerap menambah daftar kemacetan terburuk di Jakarta.

Membuat Stres

Kemacetan di Jakarta yang begitu 'gila', tidak jarang membuat kepribadian seseorang menjadi terganggu. Bayang-bayang bangguan mental dan stres menjadi ancaman yang serius akibat kondisi 'amburadul' Jakarta.

Hasil riset Profesor Psikologi dan Perilaku Sosial, Susan Charles, menyatakan, ketegangan yang dialami tiap hari karena macet di Ibu Kota Negara bisa membuat iritasi kejiwaan hingga akhirnya menimbulkan gangguan mental yang parah.

Dalam penelitiannya, Charles menemukan stres akibat kemacetan dapat memicu perseteruan dengan pasangan, konflik di tempat kerja, tekanan psikologi, kecemasan, serta gangguan suasana hati.

"Gangguan ini dapat timbul 10 tahun kemudian," kata Charles. Hal itu sungguh harus menjadi perhatian berbagai pihak, karena bukan tidak mungkin, Jakarta bakal mendapat julukan sebagai 'kota stres'.

Data Midlife Development dan National Study of Daily Experiences di Amerika Serikat, bahkan memperkuat hasil riset Charles. Dimana banyak pria serta perempuan berusia 25-74 tahun yang menunjukkan gangguan mental akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung langkah kehidupannya.

Bahkan menurut lembaga riset itu, penyebabnya bukan hanya karena peristiwa atau masalah besar saja, namun juga gangguan emosional kecil, seperti waktu terjebak macet.

Untuk mengantisipasi dampak negatif itu, para ahli menyarankan masyarakat dapat mengelola emosi kala menghadapi kemacetan.

Menurut ahli, menjaga kepala tetap dingin dalam menghadapi situasi stres sehari-hari sama pentingnya dengan diet sehat dan olahraga rutin. Jadi, demikian ahli, mubazir waktu tidak lebih buruk dari pada mubazir fikiran. Namun waktu, merupakan hal penting untuk menjaga fikiran untuk tetap sehat.

Jakarta yang sumpek, bahkan membuat kehidupan masyarakat di kota ini begitu terbebani dengan gaya hidup yang 'ruwet'. Hasilnya, tiap tahun Ibu Kota Negara selalu 'menghasilkan' orang-orang dengan gangguan jiwa atau mengalami beban mental berat.

Data Pemda Jakarta menyebutkan, jumlah penderita psikotik atau orang gila di Jakarta terus meningkat, hingga empat panti laras (panti orang gila) yang ada disana kini mengalami kelebihan kapasitas.

Operasi rutin yang dilakukan Pemda setempat bahkan menghasilkan tangkapan sebanyak rata-rata 200 orang gila setiap bulannya.

Jumlah itu, menurut catatan Pemda, cukup memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius. Apalagi saat ini empat panti laras yang dimiliki Pemda DKI telah 'over' kapasitas. Dari daya tampung maksimal 750, kini terpaksa harus menampung lebih dari 1.200 orang gila.

Sudah saatnya, Jakarta sebagai Ibu Kota Negara berbenah. Mulai dari penguraian kemacetan kendaraan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakatnnya. Karena jika terus dibiarkan, menjadi tidak mustahil, Jakarta akan menjadi 'kota stres'. ***4*** (T.KR-FZR)



Pewarta :
Editor: Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026