
November yang kelabu...

Tiada hari diakhir tahun tanpa banjir. Bencana satu ini kerap saja melanda sejumlah wilayah di negeri ini jika musim kemarau berganti hujan. Berrr.... November yang kelabu, mengulang kembali kenangan masa lampau tentang si' banjir.
Diawal November 2012, kabar tentang bencana satu ini datang dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Peristiwa tersebut melanda lima desa sekaligus yang berada di Kecamatan Limboto Barat. Desa-desa naas dengan penghuni ribuan jiwa ini meliputi Desa Haya-haya, Padengo, Ombulo, Tenilo dan Desa Yosonegoro.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, dari ribuan jiwa yang tringgal di desa-desa itu, sebanyak 400 jiwa diantaranya menjadi korban banjir bandang yang datang secara tiba-tiba.
Bahkan akibat dari peristiwa itu, sebagian korban banjir harus dievakuasi dari hunian mereka karena ketinggian air maksimal sempat mencapai dua meter. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Kepala bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Gorontalo, Sulistiyo, mengatakan pihaknya telah mendistribusikan bantuan ke korban bencana, seperti makanan siap saji, mie instan, ikan kaleng, air minum, tikar, selimut, termasuk susu bayi dan pakaian balita untuk korban banjir di sana.
Pada 5 November 2012, banjir juga melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan akibatnya, akses transportasi ke sejumlah kecamatan di wilayah itu sempat putus total.
Aparat pemerintah setempat menyatakan, banjir di Kabupaten Sintang melanda dua kecamatan dengan ketinggian air maksimal mencapai satu meter. Namun tidak disebutkan berapa korban dalam peristiwa ini.
Ditanggal 6 November 2012, Pemerintah Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga sempat direpotkan dengan datangnya bencana tahunan ini.
Aparat pemerintah di wilayah itu terpaksa menurunkan puluhan personel untuk melaksanakan tanggap darurat bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Padang Gelugur dan Panti.
Dikabarkan, banjir di Pasaman disebabkan hujan lebat yang mengguyur wilayah itu secara terus menerus.
Selain menerjunkan petugas, pemerintah setempat juga telah mengirim dua unit mobil BPBD untuk membantu warga dalam membersihkan puing dan lumpur dari rumah warga akibat terendam banjir.
Satu unit Damkar tersebut merupakan mobil siaga yang berada di Lubuk Sikaping, sementara satu unit lainnya yang diletakkan khusus di kawasan padat penduduk Padang Gelugur juga dapat diturunkan pada saat terjadi bencana.
Pada saat banjir, air sempat menggenangi sejumlah tempat di permukiman warga. Kawasan yang terparah terdapat di Pegang, Jorong Bahagia dan Kampung Tongah, Jorong Makmur, Kabupaten Pasaman.
Debit air pada waktu itu sempat mencapai satu meter, terutama pada kawasan yang terdapat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1, Sekolah Dasar (SD) Negeri 03 dan di kawasan lokasi Puskesmas Padang Gelugur.
Banjir bahkan menyebabkan kegiatan sekolah dan layanan masyarakat di Puskesmas itu sempat terpaksa diliburkan.
Selain itu, banjir terparah juga terdapat di Kecamatan Panti yang sempat merendam sekitar 130 dari 200 rumah warga dengan ketinggian air selutut orang dewasa di Kampung Sukadame III, Jorong Bahagia.
Tanah Batak
Dari wilayah Minang Kabau, beralih ke Tanah Batak, Sumatra Utara. Pada hari yang sama (6 November 2012), bencana banjir melanda sejumlah kawasan pedesaan di Kabupaten Mandailing Natal.
Peristiwa banjir yang terjadi di sana merendam Desa Gunung Manaon, Saba Jambu, Gunung Tua Jae, Kecamatan Panyabungan. Kemudian Desa Tangga Bosi I, Tanjung Sialang, Huta Godang Muda dan Muara Batang Angkola Kecamatan Siabu.
Banjir yang mencapai ketinggian air satu meter itu juga sempat membuat aktivitas sebanyak 75 kepala keluarga atau lebih kurang 220 jiwa yang merupakan korbannya menjadi terganggu.
Selain itu, banjir juga mengakibatkan tiga badan jalan yang menghubungkan desa per desa terputus, 50 hektare areal persawahan rusak, hingga satu unit musallah dan sekolah madrasah turut terendam.
Bencana yang sama juga sempat berlangsung di Kabupaten Serdang Bedagai. Parahnya, banjir di kawasan Tanah Batak kali ini merenggut korban jiwa seorang balita, Reja (4).
Balita naas ini harus menemui ajalnya setelah terjatuh ke dalam parit dan terseret arus banjir yang cukup deras.
Memasuki pekan kedua pada November 2012, bencana banjir kian "menggila". Bahkan datangnya disertai bencana lainnya seperti longsor yang terjadi di Desa Batanghuru Timur, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Peristiwa dahsyat ini parahnya mengakibatkan 10 orang tewas karena terserat banjir bandang yang melanda daerah itu.
Tidak "puas" disitu, beberapa desa di Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, juga turut dilanda banjir. Luapan air Sungai Kahayan akibat tingginya curah hujan di daerah hulu sungai di kawasan itu mengakibatkan puluhan rumah warga yang berada di sekitar lokasi terendam. Ketinggian air ketika itu makimal mencapai 50 centimeter.
Banjir Bandang
Banjir bandang juga melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, dengan merendam sekitar 630 unit rumah warga pada 14 November 2012.
Dikabarkan, bencana itu disebabkan beberapa anak sungai yang membelah daratan di sana meluap hingga ke permukiman warga.
Banjir merendam ribuan hektare lahan pertanian berupa sawah dan perkebunan kelapa sawit milik warga Desa Penago Baru, Pasar Talo, dan Rawa Indah, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu.
Dihari yang sama pula, warga petani di Desa Penago Baru, Salikin, Bengkulu, terpaksa menunda panen padi dan sawit mereka karena banjir merendam ratusan hektar sawah dan lahan perkebunan di sana.
Ketinggian air di kawasan itu dikabarkan mencapai lebih satu meter hingga membuat petani di sana sama sekali tidak dapat mengusahakan areal persawahan mereka.
"Tidak hanya padi, termasuk untuk panen sawit juga tidak bisa dilakukan maksimal karena air cukup tinggi," kata warga petani di kawasan itu.
Beralih ke Kalimantan Timur. Banjir di wilayah ini sempat dikabarkan di tanggal 15 November 2012 juga melanda sejumlah kawasan di beberapa kecamatan.
Seperti Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, dan Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Bahkan air pasang akibat hujan yang terus menerus di beberapa kecamatan itu turut melumpuhkan seluruh aktivitas warga.
Ketinggian air ketika itu dikabarkan cukup bervariasi, mulai dari setengah meter, satu meter hingga mencapai dua meter. Genangan air menutupi seluruh akses jalan penghubung kedua kampung tersebut.
Aparat pemerintah setempat mengakui, banjir di daerah itu sudah menjadi bencana tahunan semenjak puluhan tahun silam.
Meski banjir karena luapan air sungai, warga desa tetap mengharapkan adanya upaya pemerintah dalam pencegahan maupun penanganan masalah bencana itu.
Banjir Sulteng
Banjir juga terjadi di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Bencana ini juga mengakibatkan ratusan warga "teraniaya" hingga harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman, jauh dari terjangan banjir.
Warga korban banjir di sejumlah tempat di Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulteng misalnya, harus mendapatkan pertolongan karena air yang menggenasi kawasan itu menyebabkan aktivitas mereka lumpuh total. Hal itu disebabkan air yang menggenangi wilayah itu sempat mencapai ketinggian dua meter.
Kebanyakan warga yang saat itu dievakuasi adalah mereka yang tinggal di dekat bantaran Sungai Tuweley karena banjir di daerah itu merupakan yang parah.
Seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Baru, Mahdi Rumi mengakui banjir kali ini di Tolitoli merupakan banjir terbesar selama sekitar 20 tahun terakhir.
Hal ini disebabkan banjir ketika itu juga menyebabkan aktivitas masyarakat di Ibu Kota Kabupaten Tolitoli lumpuh total.
Kemudian kabar terikini, banjir juga melanda beberapa kawasan di Provinsi Jawa Barat. Akibatnya, ratusan kepala keluarga di Kampung Pangkalan Bambu, Margajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, memilih meninggalkan rumahnya karena khawatir terjadi banjir susulan.
"Mayoritas warga memilih untuk mengosongkan rumahnya meski banjir yang terjadi sejak Minggu (18/11) malam hingga hari ini berangsur surut," ujar Ketua RT 5, RW 1, Kelurahan Margayaja, Kecamatan Bekasi Selatan, Yadi.
Menurut dia, alasan warga memilih meninggalkan rumah karena mendengar adanya kabar bahwa di wilayah Bogor, Jawa Barat, masih diguyur hujan.
"Biasanya, banjir kiriman dari Bogor akan sampai di Bekasi beberapa jam kemudian," katanya.
Menurut dia, wilayah yang berdekatan lokasi dengan Kali Bekasi itu terendam air kiriman dari Bogor setinggi dua meter hingga menyisakan endapan lumpur yang merepotkan warga.
Lanacang Kuning
Lagi-lagi banjir. Bencana satu ini juga barusan (tanggal 19 November 2012) melanda berbagai kawasan di "Bumi Melayu Lancang Kuning". Beberapa kecamatan di wilayah Ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru, terendam dengan ketinggian air yang bervariasi.
Seperti di Kecamatan Rumbai dan Rumbai Pesisir. Ratusan rumah di dua kecamatan ini dikabarkan terendam banjir hingga ketinggian air maksimal 60 centimeter.
Bencana ini juga mengakibatkan satu sekolah swasta setingkat sekolah dasar (SD) di wilayah Kelurahan Meranti Pandak, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru, terendam yang disebabkan meluapnya Sungai Siak.
Pantauan di lokasi, SD Miftahuddin terendam dengan ketinggian air mencapai maksimal 60 centimeter atau mencapai selutut orang dewasa. Menyebabkan aktivitas belajar dan mengajar di satu sekolah itu terganggu, dimana pihak pendidik memutuskan untuk mempersingkat jam pelajaran.
Selain merendam satu sekolah, banjir di kecamatan itu juga tampak menggenai sejumlah kawasan permukiman warga sekitar.
Dari penelusuran di loksi banjir Rumbai Pesisir, lebih dari 20 rumah di kawasan ini tampak terkena dampak bencana alam itu, namun seluruh warga lebih memilih untuk tetap bertahan di huniannya masing-masing.
Sementara di kawasan Kecamatan Rumbai, lebih dari 300 warga yang tinggal di Kompleks Perumahan Witayu, Jalan Nelayan Ujung, terpaksa mengungsi akibat rumah mereka terendam.
"Untuk sementara ini warga yang mengungsi akibat banjir di Perumahan Witayu ada sebanyak 300 keluarga," kata Anto, seorang petugas dari Dinas Sosial Riau yang berada di lokasi bencana.
Dinas Sosial setempat juga telah membuka dua tenda pengungsian di daratan tinggi tidak jauh dari lokasi banjir.
Ratusan warga korban banjir tersebut, tampak mengungsi ke tenda yang disiapkan pemerintah daerah itu. Namun beberapa lainnya memilih untuk mengungsi ke rumah sanak keluarga yang tidak terkena banjir.
Di tenda pengungsian ini, terpantau sejumlah warga disibukan dengan aktivitas memasak dan menjalani perobatan yang difasilitas oleh pemerintah daerah.
Becana banjir agaknya telah menjadi "sahabat akrab" bagi manusia di negeri ini. Penyebab kedatangannya pun bisa jadi karena ulah manusia itu sendiri. November kelabu, tak layak menjadi cacatan sejarah soal banjir. ***3*** (T.KR-FZR)
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

