Logo Header Antaranews Riau

PON, Momentum Keterlistrikan Riau

Rabu, 19 September 2012 16:55 WIB
Image Print

Pekanbaru, (antarariau) - Gedung Olahraga Tribuana Pekanbaru sebelumnya dinyatakan siap digunakan untuk arena olahraga pada cabang karate dan judo dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XVIII di Riau.

Perbaikan gedung olahraga seluas 2.500 meter persegi itu dilakukan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), salah satu raksasa nasional penghasil kertas dan bubur kertas yang biaya perbaikannya menelan dana Rp5 miliar.

Direktur Utama RAPP Kusnan Rahmin dalam siaran persnya mengaku sangat senang karena mampu berkontribusi dalam renovasi GOR Tribuana yang merupakan komitmen perusahaan terhadap masyarakat Riau di mana RAPP beroperasi.

Namun pada saat digunakan, Senin, (10/9), lampu PLN di bagian dalam GOR yang terletak di Jalan Diponegoro itu padam.

Padahal, pada saat yang sama akan dilangsungkan pertandingan final cabang olahraga karate pada nomor kata perorangan yang mempertemukan atlet karate Sulawesi Selatan Fizal ZN melawan Sandy dari Jawa Barat.

Penyebabnya, salah satu travo milik PLN terbakar sehingga pertandingan karate PON ke-XVIII yang dilangsungkan di GOR Tribuana menjadi tertunda selama 10 menit.

Menurut pelatih karate Sulawesi Selatan Mursalim, pertandingan karate PON nomor kumite perorangan akan dilanjutkan setelah lampu dalam GOR Tribuana menyala.

Akibatnya, pendingin ruangan dan semua lampu penerangan mati dan partai final pun tetap dilangsungkan meski tanpa lampu penerangan.

Padamnya lampu PLN pada saat pertandingan berlangsung, mejadi warna tersendiri pada even olahraga bergengsi empat tahunan di Tanah Air yang bermana PON.

Karena, kasus yang sama juga terjadi di Stadion Kaharuddin Nasution Rumbai Pekanbaru saat pertandingan sepakbola antara Jambi versus Jawa Tengah yang digelar pada Jumat, (14/9) malam.

Kemudian pada pertandingan cabang olahrga sepak takraw yang dilansungkan di Purna MTQ, Pekanbaru pada Senin, (17/9) siang dan pada hari yang sama dan pada hari yang sama terjadinya juga pada cabang senam di kawasan Rumbai, Pekanbaru.

Perburuk Iklim Investasi

Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah (BPMPD) Provinsi Riau menilai padamnya listrik PLN ketika berlangsungnya sejumlah pertandingan diarena PON ke-XVIII dapat merusak minat investor.

"Para ivestor akan memberikan penilaian negatif, karena kegiatan PON saja kondisi listrik PLN sempat padam dan itu meberikan penilaian yang buruk pada dunia investasi," ujar Kepala BPMPD Provinsi Riau, Adizar.

Ia mengatakan, PLN seharusnya bisa meminimalisir semua potensi yang menyebabkan padamnya listrik di arena pertandingan sehingga tidak menganggu jalannya pertandingan yang sedang berlangsung.

Memang permasalahan listrik di Riau masih menjadi kendala utama bagi dunia investasi dan promosi yang membuat para investor menunda niatnya untuk menanamkan modalnya di Riau.

Sejumlah perusahaan besar di Riau seperti Chevron, RAPP, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) masih menggunakan listrik miliknya sendiri agar perusahaan bisa beroperasi.

"Kalau infrastruktur listrik ini sudah bisa terpenuhi, saya yakin kalau investasi naik dari rangking tiga saat ini dan bukan suatu hal yang mustahil karena potensi Riau masih besar," katanya.

Momentum Tingkatkan Layanan

Direksi PLN menyatakan PON ke-XVIII di Riau akan dijadikan momentum dalam meningkatkan pelayanan listrik di provinsi yang berjuluk "Tanah Melayu Bumi Lancang Kuning" itu.

"Saya mengharapkan di Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau, usai PON ini dijadikan sebagai momentum untuk menjadi lebih baik lagi," ujar Direktur Operasi Indonesia Barat PLN, Moch. Harry Jaya Pahlawan.

Dia juga meminta, berbagai persepsi-persepsi atau ide negatif kepada PLN harus dihilangkan sedini mungkin, supaya bisa menyemangati para karyawan-karyawan PLN yang bertugas di lapangan.

PLN harus menjadi lebih baik lagi dan bukan bersifat stagnan, karena kebutuhan listrik akan meningkat yang sama-sama diketahui akan menyebabkan "growth" atau pertumbuhan dan PLN juga harus melihat ke arah itu.

Bangsa Indonesia saat ini sedang membangun, jadi bukan sampai PON terus selesai semua yang ada di dunia ini, tapi kondisinya (pelayanan PLN) harus ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.

Apakah itu mengenai aktivitas dari pada infrastrukturnya, maupun dari sisi pelayanan PLN juga harus terus ditingkatkan.

Seperti di Provinsi Sumatera Selatan, yang mulanya digelar PON kemudian dilanjutkan dengan Sea Games dan kemudian dijadikan momentum menjadikan semuanya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

"Misalnya sekarang sepuluh, besok sudah 11 jadi harus ada tambahan lima. Begitu juga di Pekanbaru yang digelar PON sekarang dan kita tahu ternyata 'demand' kelistrikannya, maka PLN harus siapkan 'suply-nya' banyak," ujarnya.

Akan ada pembangkit baru yang akan dibangun untuk mengaliri Riau. "Tidak kurang dari beberapa pembangkit di sekitar wilayah Sumatera bagian tengah ini akan menjadi pendukung kelistrikan," katanya lagi.

Jika saja iklim investasi sedemikian kondusifnya terutama di kabupaten/kota, seperti dibangunnya infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara dan terutama ketersediaan listrik PLN yang cukup.

Maka bukan tidak mungkin, "Tanah Melayu Bumi Lancang Kuning" sebutan bagi Riau betul-betul menjadi putri cantik yang dikejar orang seperti gula yang dikerubutin semut.



Pewarta :
Editor: Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026