
ODHA Mengadu nasib didiskrminasi

Pekanbaru - Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Pekanbaru, Riau, mengadukan nasib mereka ke Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) setempat setelah mendapat perilaku tak wajar atau diskriminasi dari pihak rumah sakit tempat mereka dirawat.
"Wujud diskriminasi yang dilaporkan salah satunya, pihak rumah sakit memusnahkan peralatan yang sebelumnya ODHA kenakan termasuk pakaian dan selimut. Selain itu juga, pasien ODHA diminta membayar biaya dengan harga yang relatif lebih mahal," kata Sekretaris KPA Pekanbaru, Hasan Supriyanto di Pekanbaru, Rabu.
Kasus-kasus seperti ini sebenarnya menurut Hasan, cukup banyak dialami ODHA, namun yang melaporkannya ke KPA hanya satu kasus ini saja.
Hal demikian katanya, juga sangat disayangkan dan pihaknya akan lebih proaktif dalam memberikan pengarahan terhadap rumah sakit tentang bagaimana menghadapi ODHA yang baik tanpa harus mendiskriminasinya.
"Untuk pengarahan atau sosialisasi ini sebenarnya juga telah dilakukan sejak lama, berkoordinasi dengan sejumlah pihak atau instansi terkait terutama Dinas Kesehatan dan rumah sakit," katanya.
Upaya pengarahan tersebut, kata Hasan, dilakukan melalui program rapat koordinasi dan rapat jejaringan yang diharapkan tahun ke tahunnya akan lebih optimal penyerapannya.
Dalam program ini, kata Hasan, pihaknya bersama Dinkes tidak hanya menghadirkan perwakilan setiap rumah sakit, namun juga beberapa organisasi medis yang ada, dimana di dalamnya juga membahas masalah standar pelayanan optimal pasien di rumah sakit.
Nah, katanya, diskriminasi terhadap ODHA di Pekanbaru ini tidak seharusnya terjadi apabila pihak dokter dan rumah sakit tidak memilah-milah pasiennya.
"Siapapun pasien dan dengan penyakit apa mereka datang, seharusnya dokter dan rumah sakit bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan optimal, termasuk untuk ODHA," ujarnya.
Memang, demikian Hasan, masalah diskriminasi terhadap ODHA, tidak hanya terjadi di Pekanbaru saja, namun di berbagai wilayah tanah air.
Seperti di Surabaya, katanya di daerah ini juga banyak kasus diskriminasi terhadap ODHA, bahkan lebih banyak dibandingkan dengan Pekanbaru yang laporan kasusnya masih terbilang minim.
"Namun hal demikian adalah masalah bagi kita bersama, bukan hanya KPA, Dinkes atau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) saja yang memperjuangkan nasib ODHA," katanya.
Untuk satu kasus diskriminasi ODHA yang masuk ini, kata Hasan, pihaknya akan menindaklanjutinya dengan berbagai upaya, termasuk mencari penyebab munculnya diskriminasi ODHA.
"Apakah masalah ini ada di manajemen, atau dari pihak medis dan dokter yang merawatnya. Hal ini masih akan terus diselidiki," katanya.
Di samping itu, demikian Hasan, pihaknya juga akan terus secara rutin menggelar pertemuan dengan berbagai organisasi medis, seperti Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Cabang Riau terkait masalah diskriminasi yang diterima ODHA.
"Kami juga masih dan akan terus melihat perkembangannya, sejauh mana efektivitasnya. Apakah mempengaruhi pelayanan rumah sakit terhadap ODHA atau tidak," ujarnya.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

