Logo Header Antaranews Riau

Fasilitator Tanoto Foundation hidupkan Numerasi lewat Pizza dan tinggi badan

Jumat, 21 Agustus 2026 16:55 WIB
Image Print
Fasilitator Tanoto Foundation hidupkan Numerasi lewat Pizza dan tinggi badan. (ANTARA/HO-Tanoto Foundations)

Pekanbaru (ANTARA) - Matematika tidak harus selalu dimulai dari rumus dan angka di papan tulis. Di Kota Dumai, guru-guru SMP/MTs mulai mengubah cara belajar matematika dengan menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan murid melalui inovasi KOLAB NUMERASI (Kolaborasi Guru melalui Lesson Study RME).

Inovasi tersebut dikembangkan dalam kegiatan Fasilitator Daerah Perubahan 2026 oleh EDUCORE NUMERACY TEAM Kota Dumai yang mendapat Hibah dari Tanoto Foundation serta didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Kantor Kementerian Agama Kota Dumai, serta kepala SMP/MTs se-Kota Dumai.
Sebanyak 45 guru SMP/MTs terlibat dalam proses pembelajaran bersama yang berfokus pada peningkatan kompetensi guru melalui Lesson Study dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

Kegiatan ini berangkat dari pertanyaan sederhana, yakni bagaimana membuat pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna bagi murid.
Pertanyaan tersebut menjadi relevan di tengah capaian numerasi murid di Kota Dumai yang masih perlu terus diperkuat. Berdasarkan data rapor mutu pendidikan yang digunakan dalam kegiatan tersebut, capaian literasi murid berada pada skor 77,7 atau meningkat 3,05 poin dari 74,5 pada 2024. Namun pada numerasi, murid belum menunjukkan nilai yang sebanding walaupun naik dari poin 66.5 meningkat 2.11 poin dibandingkan nilai tahun sebelunya yakni 64.39.

Melalui KOLAB NUMERASI, guru tidak berhenti pada pemahaman teori Lesson Study dan RME. Mereka bersama-sama merancang pembelajaran, menyusun RPM dan LKM, melaksanakan open class, mengamati aktivitas murid, melakukan refleksi, kemudian memperbaiki pembelajaran untuk siklus berikutnya.

“Pembelajaran yang baik bukan hanya tentang apa yang dilakukan guru, tetapi terutama tentang apa yang dialami murid selama proses pembelajaran,” menjadi salah satu kesadaran yang dibangun dalam proses kolaborasi tersebut. Kegiatan ini diinisiasi oleh EDUCORE Numeracy Team yang terdiri atas Rudi Candra sebagai ketua, M. Faisal sebagai sekretaris, dan Nolilita sebagai bendahara yang mengawal proses dan kualitas dari pelatihan ini.

Fasilitator Tanoto Foundation hidupkan Numerasi lewat Pizza dan tinggi badan. (ANTARA/HO-Tanoto Foundations)

Praktik nyata KOLAB NUMERASI kemudian dilakukan melalui dua siklus open class, yakni pada 13 dan 20 Agustus 2026.
Pada siklus pertama, matematika dihadirkan melalui aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan murid. Mereka mengukur tinggi dan berat badan, mencatat ukuran sepatu, mengolah data, serta membandingkan hasil pengukuran.

Dari aktivitas sederhana tersebut, murid belajar mengurutkan data, menentukan selisih, membaca frekuensi, membandingkan bilangan, dan menarik kesimpulan.
Konsep pecahan juga diperkenalkan melalui media sederhana berupa pizza kertas. Murid diminta membagi satu pizza secara adil kepada beberapa orang. Dengan melipat dan membagi kertas, mereka menemukan sendiri konsep satu per empat, dua per empat, hingga memahami hubungan pecahan senilai.

Pendekatan tersebut membuat konsep matematika tidak hanya hadir dalam bentuk simbol, tetapi dapat dilihat, disentuh, dibandingkan, dan dijelaskan berdasarkan pengalaman murid sendiri.

Hal menarik lainnya terjadi pada proses observasi. Guru peserta Lesson Study tidak ditempatkan sebagai pengawas guru model, tetapi sebagai mitra belajar. Observer mengamati bagaimana murid berpikir, berdiskusi, menemukan strategi, mengalami kesulitan, dan merespons pertanyaan guru.

Hasil pengamatan kemudian dibahas dalam sesi refleksi. Fokus diskusi bukan pada apakah guru sudah mengajar dengan baik, melainkan pada apa yang terjadi pada murid selama pembelajaran.

Hasil refleksi siklus pertama digunakan untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus kedua yang dilaksanakan 20 Agustus 2026. Pertanyaan pada LKM diperbaiki, aktivitas pembelajaran diperjelas, dan murid diberi ruang lebih luas untuk menjelaskan cara berpikir mereka.

Proses tersebut memperlihatkan prinsip utama Lesson Study, yakni merancang, melakukan, mengamati, merefleksi, memperbaiki, dan mencoba kembali.
Fasilitator Daerah Tanoto Foundation melalui kegiatan ini mendorong agar praktik baik tidak berhenti pada dua kali open class. Peserta telah menyusun rencana tindak lanjut berupa diseminasi praktik Lesson Study RME kepada guru lain, penerapan RPM dan LKM di sekolah, keberlanjutan siklus Lesson Study, penguatan komunitas belajar, serta dokumentasi praktik baik dalam bentuk tulisan dan e-book KOLAB NUMERASI.

KOLAB NUMERASI pada akhirnya tidak hanya menjadi inovasi pembelajaran matematika, tetapi juga ruang belajar bersama bagi guru.
Matematika yang sebelumnya kerap dipandang sebagai kumpulan angka dan rumus kini dapat ditemukan dalam tinggi badan, berat badan, ukuran sepatu, hingga potongan pizza. Dari pengalaman sederhana tersebut, murid diajak membangun kemampuan numerasi sekaligus memahami bahwa matematika hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026