Logo Header Antaranews Riau

Pemindahan Pedagang Pasar 'Dock' Molor

Minggu, 22 Januari 2012 17:29 WIB
Image Print

Dumai, Riau, (ANTARARIAU News) - Proses pemindahan para pedagang dari pasar tradisional 'Dock' ke 'Pasar Kelakap Tujuh' di Kota Dumai, Provinsi Riau, terancam molor, karena fasilitas fisik bangunan di lokasi baru belum 100 persen selesai dikerjakan.

"Bagaimana kami bisa pindah sekarang sebagaimana dijanjikan, fasilitas di lokasi baru belum pada beres," ujar Abdul, (27), salah seorang calon pengguna kios di 'Pasar Kelakap' Tujuh', Minggu.

Ia dan para pedagang kini mendesak dapat segera memperoleh lokasi berjualan baru yang memadai sebagaimana dijanjikan Pemerintah Kota (Pemkot) Dumai sebelumnya.

"Tapi melihat gelagat proses penyelesaiannya belum 100 persen, kami khawatir proses pemindahan pedagang pasar tradisional 'Dock', di Kelurahan Purnama ke 'Pasar Kelakap Tujuh' yang semula direncanakan pada awal Februari nanti, bisa terhambat," tuturnya.

Ia beralasan, hingga kini pembangunan fisik 'Pasar Kelakap Tujuh', di Kelurahan Simpang Tetap Darul Ikhsan (STDI), yang sebelumnya dinyatakan sudah selesai seratus persen oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Dumai, kenyataannya masih dalam proses pembangunan.

Namun nada optimistis datang dari Kepala Kantor Pelayanan Pasar Pemkot Dumai, Suardi.

"Meski masih ada pekerjaan (yang harus diselesaikan), namun kami berharap (sesuai target) pada (awal) Februari mendatang sudah bisa merelokasi pedagang dari pasar tradisional 'Dock' ke 'Pasar Klakap Tujuh'," katanya kepada ANTARA.

Ia menjelaskan, terkait teknis pekerjaan pembangunan pasar yang dibangun dengan biaya APBN tersebut, sebenarnya bukan wewenang pihaknya, melainkan pihak Disperindag.

"Kami hanya selaku pelaksana teknis pemindahan ratusan pedagang untuk mengisi pasar dan kegiatan pengaturan aktivitas jual beli masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Pemkot Dumai, Djamalus, menyebutkan, pembangunan fisik pasar kini hanya menyisakan pelaksanaan 'finishing' (penyelesaian akhir) dan pembenahan, dengan masa waktu pemeliharaan hingga akhir bulan Januari.

Dikatakan, total luas bangunan pasar sekitar 1320 meter persegi dengan 430 kios.

"Realisasi proyek sudah selesai seratus persen dan menunggu pekerjaan 'finishing' saja sebelum serah terima bangunan ke Kantor Pelayanan Pasar. Pekerjaan sudah sesuai dengan masa kalender hingga akhir tahun 2011 dan dalam prosesnya sering terkendala cuaca," ujaRnya.

Usai 'finishing', menurutnya, akan dilanjutkan serah terima pembangunan pasar yang dibangun dengan total anggaran senilai Rp8 miliar lebih tersebut.

"Pemindahan pedagang merupakan kewenangan Kantor Pelayanan Pasar setelah sebelumnya diresmikan," katanya menjawab ANTARA.

Di kompleks pasar baru itu, terdapat beberapa fasilitas umum, seperti instalasi listrik, mushala, toilet dan bak penampungan sampah serta areal parkir.

Proyek dengan pembiayaan yang menggunakan 'sharing budget' APBD dan APBN Pusat ini dimulai sekitar Juli 2011 lalu.

Dari pantauan ANTARA, kondisi pasar kini masih belum cukup tuntas, karena terlihat banyak kegiatan pekerjaan yang masih ditangani puluhan pekerja.

Realitas ini sangat bertolak belakang dengan pernyataan Djamalus yang mengatakan bangunan fisik pasar sudah selesai dan tepat waktu hingga akhir tahun.

ANTARA juga menyaksikan satu unit angkutan 'ready mix' sedang menurunkan semen basah untuk kegiatan 'cor' lantai areal parkir.

Kondisi tanah timbun di lokasi itu terlihat becek, karena digenangi air hujan. Bongkanhan-bongkahan material tanah dan batu bata juga masih bertumpuk di lokasi bagunan los bagian depan.

Selain itu, sejumlah pekerja juga terlihat di areal bangunan dengan dua unit alat berat yang sedang bekerja meratakan tanah.