
Mahasiswa Raup Untung Via BBM

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi dewasa ini dirasakan amat berkontribusi terhadap meningkatnya kegairahan berusaha, termasuk di kalangan mahasiswa di Kota Pekanbaru, Riau.
Itu juga dialami Viki, (23), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di ibukota Provinsi Riau itu, yang mengaku meraup untung lumayan dari bisnis via BBM, sebagaimana dituturkannya kepada ANTARA, di Pekanbaru, Rabu (16/11).
Anak muda Kota Pekanbaru ini juga mengaku, ia berbisnis perlengkapan fotografi melalui fasilitas 'Black-berry Messenger' (BBM) sejak setahun terakhir.
"Saya langsung merasakan perbedaan omzet dan otomatis keuntungan lebih signifikan saat ini," kata Viki, mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi Negeri.
Ia mengatakan, usahanya kini semakin lancar, dan setiap bulan omzetnya mampu mencapai angka puluhan juta rupiah.
"Jualan pake BBM lebih enak, pembelinya jelas," katanya lagi kepada ANTARA.
Viki yang menjual berbagai kebutuhan bagi para pehobi fotografi itu memiliki banyak pelanggan, karena selain pergaulannya luas. Ia juga jeli mencari barang dagangan.
"Pembelinya kebanyakan teman, pehobi fotografi yang tidak mau beli baru, makanya mereka cari (barang) 'second'," ungkapnya.
Selain harus aktif mencari barang dagangan, Viki juga mengaku mesti rajin mem-'posting' di BBM.
Setiap mendapat barang baru, ia langsung melakukan survei harga barang sejenis di pasaran, menetapkan harga jual dan menginformasikannya via BBM.
"Ini sekarang saya 'broadcast' cuci gudang, ada 15 unit kamera Nikon D3100 murah, baru 10 menit sudah laku dua unit," tuturnya sedikit berpromosi.
Cepatnya barang dagangan laku, menurutnya, karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan kualitas barang masih bagus.
Kamera DSLR merk Nikon ia jual dengan selisih harga hingga Rp200 ribu (dengan di pasaran). Itu pun ia masih memberikan bonus asesoris fotografi kepada pembeli sebagai tambahan.
"D3100 ini bonus memori 8gb. Kemarin saya cuci gudang Canon 1000D, bonus 'tripod'," ungkapnya.
Bonus bukan satu-satunya cara Viki menarik pembeli. Ia juga rajin menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar alat, dan hobi fotografi melalui BBM.
"Tidak harus beli, saya senang juga jika diajak 'sharing' sesama pehobi foto," katanya.
Masih Meragukan
Kendati begitu, jual beli melalui 'online' dan sejenisnya masih dinilai meragukan oleh beberapa orang.
Maraknya penipuan dan status barang dagangan yang kadang ilegal, menjadi alasan yang paling banyak mengemuka.
"Saya tak percaya jualan 'online'," kata Ale, (26), seorang akademisi di salah satu universitas swasta di Pekanbaru.
Ale menilai bisnis 'online' saat ini belum dapat dipercaya.
"Banyak yang 'nipu, barangnya belum tentu jelas," tandasnya.
Namun Viki menjamin, barang yang ia jual resmi dari distributor langsung.
"Kamar 'Photography Equipment'", label dagangnya memberikan garansi resmi produsen sama seperti yang biasa diberikan oleh toko-toko konvensional. Jualan barang gelap itu resikonya besar, 'mending yang resmi bergaransi," katanya.
Dalam bisnisnya, Viki sangat mengutamakan kepercayaan. Ia mengaku harus selalu memastikan semua proses dari persetujuan harga, pembayaran, hingga pengiriman barang berjalan baik.
"Kadang pembeli 'kan dari luar Pekanbaru, bahkan luar Sumatera, makanya harus dikontrol betul-betul, 'packing' juga harus aman, jangan sampai barang rusak dijalan," ujarnya.
Meskipun Viki mengaku bisnisnya hanya sambilan, tapi ia serius menggeluti.
Tak tanggung-tanggung, ia melayani berbagai permintaan aneka kamera dan asesorisnya.
Viki bahkan dipercaya menjadi 're-seller' non toko untuk produk sekelas tas 'National Georaphic' di Pekanbaru.
"Sebetulnya, sudah mulai banyak juga rekan mahasiswa di sekitar saya, juga di tempat lain main via 'online'. Malah, ada yang omzetnya sudah sampai ratusan juta, dan dikelola secara baik, tidak ilegal," ungkap Viki.

