Logo Header Antaranews Riau

Balitsa: Program Ketahanan Pangan Kampar Diadopsi Kalimantan

Jumat, 7 Agustus 2015 14:50 WIB
Image Print

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) menyatakan Program Ketahanan Pangan Energi yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, telah diadopsi oleh beberapa daerah di Indonesia salah satunya Kalimantan.

"Saya telah melakukan peninjauan ke Kampar beberapa kali dan selalu menyampaikan dalam beberapa pertemuan di luar daerah termasuk di Kalimantan. Hasilnya banyak daerah yang tertarik untuk mengadopsinya," kata Kepala Balitsa Dr Liferdi saat berkunjung ke Kampar pada Kamis (6/8).

Ketika itu, Liferdi datang bersama mantan Wakil Menteri Pertanian yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Pungutan Kelapa Sawit Rusman Heryawan.

Kunjungan Liferdi bersama Rusman ketika itu fokus pada Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE) dan perkebunan kelapa sawit yang ada di Kampar.

Untuk Program ketahanan pangan dan energi yang dijalankan Pemda Kampar lewat Program RTMPE, menurut Liferdi adalah yang terbaik karena mengintegrasikan ternak dengan pertanian.

"Sirklusnya juga menarik karena saling menghidupkan. Sapi melalui kotorannya menyuburkan tanaman sayuran kelapa sawit, sementara kelapa sawit menghasilkan pakan bagi ternak. Selanjutnya masyarakat diajarkan untuk membangun ketahanan pangan tanpa harus fokus pada komoditi tertentu," katanya.

Bupati Jefry Noer mengatakan, bahwa yang namanya ketahanan pangan tidak harus menanam padi sebagai bahan kebutuhan mendasar bagi masyarakat.

"Kalau lahannya tidak bisa menghasilkan beras, maka dapat ditanam dengan jenis sayuran seperti bawang merah dan cabai. Hasilnya kemudian dijual untuk mendapatkan beras. Itu sama artinya membangun ketahanan pangan secara mandiri karena bawang merah selama ini juga sebagian besar masih impor," katanya.

Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Pungutan Kelapa Sawit Rusman Heryawan mengatakan, program integrasi antara perkebunan, pertanian dan peternakan yang dilaksanakan Pemda Kampar adalah yang terbaik di Indonesia.

"Jadi sangat pantas, jika Kalimantan dan sejumlah wilayah lainnya mengadopsi program ini," katanya.

Ia mengatakan, selain itu pengembangan bawang merah di lahan gambut yang dilaksanakan di Kampar juga diintegrasikan lewat Program RTMPE juga sangat baik, kedepan akan mampu membawa Indonesia lepas dari ketergantungan bawang impor.

"Dengan dapat ditanamnya bawnag merah di lahan gambut, maka diharapkan akan terus berkembang ke daerah lain selain Kampar. Maka jika teralisasi, persoalan bawnag merah mulai dari ketergantungan impor hingga harganya yang sering meroket tidak akan ada lagi," kata Rusman. (adv)



Pewarta :
Editor: Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026