
Herman Ibrahim jelaskan penyebab blackout Sumatra

Pekanbaru, (ANTARA) - Pakar Ketenagalistrikan dan Mantan Direktur Transmisi dan Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Herman Darnel Ibrahim menilai penyebab "blackout" Sumatra Bagian Utara pada akhir Mei lalu dikarenakan cuaca ekstrem belum tepat.
Herman saat dihubungi Antara di Pekanbaru, Rabu mengatakan transmisi terganggu cuaca ekstrim kalau hanya satu ruas seperti di Jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai seharusnya tidak menyebabkan "blackout". Oleh karena itu padam total disebabkan oleh cuaca dalam kasus ini belum tepat.
Dengan demikian kesimpulan beberapa pihak yang mengklaim cuaca panas ekstrim yang menyebabkan gangguan transmis perlu diteliti secara detil dan mendalam. Pasalnya desain transmisi pada umumnya sudah memperhitungkan berbagai kondisi ekstrim yang pernah terjadi.
Menurutnya cuaca yang umum berpengaruh terhadap gangguan yang paling dominan adalah petir yang menyambar konduktor ataupun kawat tanah dan menara transmisi. Bisa juga badai angin kencang yang dapat merobohkan pohon dan menimpa saluran atau merobohkan menara.
Selain itu juga bisa karena hujan lebat yang dapat menurunkan kekuatan isolasi permukaan insulator sehingga terjadi lompatan arus. Selain itu suhu tinggi yang dapat meningkatkan "saging" atau andongan atau kendutan konduktor sehingga menyentuh pepohonan atau benda yang terhubung ke tanah.
Dia mengatakan penyebab "black out" itu bukanlah gangguan transmisi 275 kilovolt karena dalam operasional listrik gangguan transmisi itu hal yang biasa dan sering terjadi. Kalau sistemnya kuat gangguan transmisi tidak akan memicu "blackout" karena penyebab "blackout" adalah matinya atau lepasnya pembangkit-pembangkit secara beruntun setelah gangguan transmisi.
Dia menjelaskan dalam operasi sistem tenaga listrik yang terinterkoneksi seperti Sumatera, pada umumnya topologi sistem disiapkan atau dirancang untuk tahan terhadap gangguan pada satu segmen/ruas transmisi. Ini dilakukan dengan suatu analisa yang mensimulasikan gangguan satu ruas yang sering disebut Analisa Kontingensi N-1.
"Kalau satu ruas transmisi terganggu lalu menyebabkan 'blackout' seperti yang terjadi di Sumatera baru-baru ini, ada beberapa kemungkinan. Yang pertama adalah terjadi fenomena 'swing' atau ayunan antara pembangkit besar di utara dan pembangkit besar di selatan setelah gangguan. Jika ayunan berlangsung melebihi suatu batas waktu, pembangkit akan terlepas otomatis oleh sistem proteksi," ujarnya.
Kemungkinan kedua setelah transmisi terganggu, sistem di bagian utara yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat dan lainnya mengalami defisit pembangkit sebelum gangguan sistem selatan mengekspor listrik dalam jumlah besar ke utara.
"Kemungkinan skema pertahanan atau penyelamatan sistem dengan melepas beban tidak berhasil dengan baik, sehingga pembangkit yang tersambung ke sistem bagian utara lepas secara beruntun dan terjadilah 'blackout'," sebutnya .
Kemungkinan ketiga bisa disebabkan infrastruktur sistem interkoneksi Sumatera belum memadai atau belum cukup kuat untuk mampu mempertahankan diri dari Gangguan N-1 atau tak memadai untuk memenuhi Kontingensi N-1. Karena saluran utama yang menghubungkan sistem selatan dengan di Sumatera Utara baru satu ruas transmisi 275 kV di jalur barat. Sedangkan 275 kV dan 500 kV di jalur timur baru terhubung sampai Perawang di Riau dan belum tuntas sampai ke Sumatera Utara.
"Untuk menentukan penyebabnya diperlukan penyelidikan dan analisa berdasar data urutan kejadian yang terekam dan data operasional lainnya," tuturnya .
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

