Logo Header Antaranews Riau

WHO Ungkap Krisis Kesehatan Dahsyat di Palestina

Jumat, 22 Mei 2026 14:49 WIB
Image Print
Jenazah warga Palestina, yang meninggal akibat serangan udara tentara Israel di Kamp Pengungsi Jabalia, dibawa ke Rumah Sakit Shifa untuk dimakamkan di Gaza, Palestina pada Sabtu (9/5/2026). (ANTARA/Anadolu/Hamza ZH Qraiqea/pri)

Ramallah (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai sebuah tragedi mengerikan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan Kamis (21/5), Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy mengatakan sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan 182.000 lainnya terluka.

"Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan," kata Balkhy.

Baca juga: Krisis Rumah Sakit di Gaza: 76 Persen Alat Pencitraan Medis Lumpuh

Dia mengungkapkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan juga masih terbatas.

Saat ini, lanjutnya, tidak ada rumah sakit yang berfungsi secara penuh di Gaza dan tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi di Gaza utara.

Selain itu, lebih dari setengah stok obat-obatan penting habis, sementara ribuan pasien masih perlu evakuasi medis mendesak.

Lebih lanjut, penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental juga sangat besar, sementara risiko bagi ibu dan bayi baru lahir meningkat tajam.

Terkait wilayah Tepi Barat, WHO mengonfirmasi situasi terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.

Krisis finansial yang dihadapi otoritas Palestina juga sangat membatasi layanan kesehatan, di mana rumah sakit umum hanya menyediakan layanan darurat.

WHO bersama para mitra terus bekerja dalam kondisi sangat sulit. WHO juga telah mengajukan anggaran senilai 648 juta dolar AS (sekitar Rp11,4 triliun) untuk mendanai kesehatan di 2025, tetapi sejauh ini baru menerima 75 persen dari jumlah tersebut.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi itu, WHO telah memberikan dukungan dengan mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gaza serta memfasilitasi pengiriman bahan bakar agar sistem kesehatan di sana tetap berfungsi.

Baca juga: Terjebak Konflik Gaza, Puluhan Perempuan Desak Perbatasan Dibuka

Selain itu, WHO terus juga memperluas perawatan dan pengobatan darurat bagi para korban luka.

Balkhy menegaskan pernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan.

Dia mendesak adanya upaya perlindungan bagi layanan kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat pasokan medis penting dan tim medis darurat.

Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.

Sumber: WAFA



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026