
BPDP dan GPPI perkuat UMKM perkebunan dorong pertumbuhan ekonomi 8 persen

Pekanbaru, (ANTARA) - Peran perempuan dalam mengembangkan produk turunan sawit dinilai semakin penting dalam mendorong ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan. Melalui berbagai pelatihan dan penguatan kapasitas, perempuan pelaku usaha didorong agar mampu mengolah komoditas sawit menjadi produk pangan maupun kebutuhan rumah tangga yang bernilai ekonomi.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Pusat, Dr. Ir. Hj. Delima Hasri Azahari, MS, menegaskan bahwa penguatan kapasitas perempuan pengusaha di sektor perkebunan perlu terus dilakukan agar mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Menurut Delima, pelaku usaha perempuan tidak dapat bergerak sendiri dalam mengembangkan usahanya. Kolaborasi serta penguatan jejaring menjadi kunci penting untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk.
“Kita ingin mereka tidak hanya bermain di pasar provinsi, tetapi juga mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. Karena itu kapasitas dan networking harus diperkuat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Reza Harry Bastian mengatakan peningkatan kapasitas pelaku usaha wanita perkebunan menjadi langkah penting dalam mengembangkan potensi oleofood sebagai sumber nilai tambah ekonomi keluarga.
“Bidang oleofood memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dari sisi inovasi produk, kualitas pengolahan hingga pemasaran. Kegiatan ini bukan sekadar forum berbagi ilmu, tetapi juga ruang kolaborasi dan penguatan jejaring antar pelaku usaha,” jelas Reza.
Sebagaimana diketahui, pada Selasa (3/3/2026) lalu, GPPI wilayah Provinsi Riau menggelar workshop peningkatan kapasitas pelaku usaha wanita perkebunan untuk ketahanan pangan keluarga di bidang oleofood yang berlangsung di Ballroom Hotel Khas Pekanbaru.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai bagian dari upaya mendorong pemberdayaan perempuan serta pengembangan usaha mikro berbasis komoditas perkebunan.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa BPDP mendukung kegiatan yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“BPDP mensupport kegiatan seperti ini, tetapi harus benar-benar real. Bukan hanya ajang berkumpul ibu-ibu, melainkan menjadi wujud nyata pemberdayaan perempuan,” ujarnya.
Menurut Helmi, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan berbagai manfaat komoditas perkebunan seperti sawit, kakao, dan komoditas lainnya yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Ini juga bagian dari promosi kebaikan sawit dan komoditas lain yang bisa menunjang kesejahteraan ibu-ibu. BPDP sebagai BLU Kementerian Keuangan, mendukung pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari upaya mendorong program pertumbuhan ekonomi 8 persen Presiden Prabowo," ulasnya.
Mewakili Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kepala Bidang Produksi Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Riau Vera Virgianti menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pengembangan produk turunan sawit bernilai tambah tinggi sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Vera, perempuan memiliki peran strategis karena menjadi penopang keluarga sekaligus pelaku utama sebagian besar UMKM berbasis sawit. Dengan penguatan kapasitas dan dukungan ekosistem usaha yang baik, produk turunan sawit diharapkan mampu berkembang dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian Riau.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

