
Bupati: Kampar Akan Tuntaskan Program Lima Pilar

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Pemerintah Kabupaten Kampar, Riau, akan menuntaskan program lima pilar pembangunan dan "zero" kemiskinan, kata Bupati Jefry Noer.
"Namun semuanya dilakukan secara bertahap dan tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata Jefry kepada pers di Pekanbaru lewat pesan elektronik yang diterima, Rabu.
Ia menjelaskan, kalau tidak ada komitmen dengan janji politik yang dilontarkan pada pemilihan bupati tiga tahun lalu, tidak akan pernah tampak kegusaran di walayah ini, manakala para staf tampak lamban untuk menuntaskan program Lima Pilar Pembangunan yang diusung.
"Saya tak mau main-main dengan program lima pilar pembangunan yang mengerucut pada zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh itu sebab program tadi adalah amanah masyarakat Kampar yang saya emban. Saya ingin program itu benar-benar terwujud dan dirasakan oleh masyarakat," kata Jefry.
Jefry juga merupakan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau.
Dia mengatakan pihaknya tidak pernah bosan memberikan arahan kepada seluruh perangkat yang terkait dengan program itu, baik pembangunan dan penuntasan kemiskinan.
"Tak hanya dalam suasana formal, pada suasana nonformal pun saya terus menyemangati para bawahannya itu," kata dia.
Memang kata Jefry, bisa jadi hanya Kabupaten Kampar yang membuat pelatihan untuk masyarakat tanpa uang saku, dan gara-gara itu juga barang kali, banyak masyarakat yang ogah untuk ikut.
"Saya tak mau mereka ikut pelatihan hanya gara-gara mengharapkan uang saku. Tapi ikutlah pelatihan lantaran butuh ilmu," katanya.
Kemudian, lanjut dia, yang ikut pelatihan cukup satu orang saja dalam satu rumah tangga agar rumah tangga lainnya kebagian.
"Pelatihan itu kami buat bukan asal-asalan. Mereka dilatih di lembaga yang sudah mendapat sertifikat madya dari Kementerian Pertanian," katanya.
Kalau sudah lulus pelatihan, kata Jefry, masyarakat berhak mengajukan pinjaman dana bergulir untuk modal usaha dan bunga pinjaman itu sangat rendah.
"Hanya 0,5 persen dari total pinjaman per bulan. Jadi, ilmu sudah disalurkan. Dan duit pun sudah dipinjamkan untuk bekal mereka berusaha. Kalau masyarakat tak mau juga, ini yang menjadi masalah," katanya.
Pada persoalan semacam itulah kata Jefry dibutuhkan kebersamaan semua pihak untuk menyemangati masyarakat agar mau berkembang.
"Jangan dibiarkan mereka. Lagi-lagi saya bilang, menyemangati bukan berarti membujuk. Tapi kami berusaha menumbuhkan kesadaran di jiwa mereka bahwa kehidupan tak akan berubah apabila tidak ada upaya untuk berubah," katanya.
Saat masyarakat sudah berusaha, katanya, tugas pemerintah kemudian membuat yang namanya Badan Penyangga (BP).
"Kami harus segera mendirikan BP ini. Biar bisa mengontrol harga saat panen masyarakat memuncak. Jadi, mau panen puncak atau tidak, masyarakat tak was-was lagi hasil panennya tak laku, atau laku tapi dengan harga murah," kata dia.
Yang sudah sukses di usaha masing-masing kata Jefry, mereka akan dibebani tugas menjadi "Tim Tangguh" yang terus menerus mensupport masyarakat untuk mengikuti jejak para petani sukses itu.
"Inilah siklus kerja sama yang baik. Saya yakin kita akan bisa mewujudkan ini kalau kita mau," kata Jefry.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

