
Masyarakat Riau Kutuk Kekerasan di Mesir

Pekanbaru, (antarariau.com) - Sekitar seribuan orang yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Riau Untuk Mesir atau SMRUM mendesak pemerintah Indonesia untuk menyetop kebrutalan yang dilakukan militer di Mesir dan mengorbankan masyarakat sipil sekitar 6.000 jiwa.
Aksi solidaritas tersebut dilakukan usai sholat Jumat yang dipusatkan di Tugu Ikan Selais, depan kantor Wali Kota Pekanbaru, Jumat, dalam bentuk mayampaikan orasi secara bergantian oleh sejumlah ormas dan organisasi kemahasiswaan Islam.
"Besok kita akan memperingati hari proklamasi kemerdekaan dan Mesir tercatat sebagai negara yang pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia," ujar Ketua Front Pembela Islam (FPI) Riau, Zulhusmi Domo dalam orasinya.
Untuk itu, lanjutnya, SMRUM mendesak Presiden Indonesia untuk mengambil sikap tegas , peran aktif dan langkah kongkrit dalam menyuarakan tragedi kemanusiaan dan pelanggaran hak-hak azasi rakyat Mesir ke dunia internasional.
Menarik duta besar Indonesia di Mesir sebagai isyarat bentuk protes terhadap pembantaian dan penolakan legitimasi pemerintahan kudeta di Mesir seperti yang pernah dilakukan terhadap negara-negara lain di Timur ataupun Barat.
"Kami menyerukan kepada pemerintah untuk mendesak PBB agar bersikap tegas terhadap pembantaian rakyat sipil dan membawa pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap kudeta di Mesir ke makamah internasional," katanya.
Koordinator SMRUM, Agung Nugroho mengatakan, jika dikalkulasikan sampai hari ini ada sekitar 6.000 orang warga sipil yang menjadi korban pembantaian rezim militer Mesir dibawah pimpinan Jenderal Abdel Fattah Al Sisi.
Dari mulai tanggal 8 Juli lalu, ada sekitar 42 orang demonstran anti kudeta yang tewas dan 322 orang demonstran yang luka-luka. Kemudian pada 27 Juli sekitar 120 orang pendukung Mursi yang meninggal dan lebih dari 1.000 orang yang luka-luka.
"Tercatat tiga pekan sejak militer Mesir mengkudeta presiden yang sah Mesir, sudah 450 orang warga sipil telah terbunuh, sekitar 8.000 orang yang terluka dan 1.500 orang ditahan," katanya.
Pada tanggal 14 Agustus kemarin adalah hari kebiadaban militer dan polisi militer Mesir yang membantai warga sipil dengan menembaki demonstran serta mebakar masjid di Rab'bah.
"Jika dikalkulasikan yang mati syahid ada sekitar 3.000 orang dari 6.000 orang lebih dan yang terluka mencapai 15.000 jiwa," ucapnya.
Pewarta : Muhammad Said
Editor:
Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026

