
AS & Brazil Senang Hugo Chavez Meninggal?

Pekanbaru (antarariau.com) - Presiden AS Barack Obama mengungkapkan belasungkawa yang tidak mengejutkan publik internasional karena justru optimis melihat masa depan Venezuela pasca meninggalnya Hugo Chavez, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu.
Menurut Obama, AS tertarik untuk membangun babak baru hubungan bilateral yang lebih baik dengan Venezuela. Seperti diketahui, Chavez selama ini merupakan penghujat nomor satu sebagai antikebijakan AS.
"Venezuela memulai babak baru dalam sejarahnya. Karena itu Amerika Serikat tetap berkomitmen dengan kebijakan yang mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi, aturan hukum, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia," kata Obama dalam pernyataan tertulis singkat.
Menurut Obama, kematian Chavez menjadi tantangan baru bagi rakyat Venezuela dalam menjalani masa-masa setelahnya. AS dikatakan selalu memberikan dukungan terhadap rakyat Venezuela dan mendorong hubungan yang lebih konstruktif dengan pemerintah Venezuela pasca Chavez.
Semasa hidup Presiden Hugo Chavez, pemerintah Venezuela selalu mengkritik kebijakan dan hegemoni AS di dunia. Bersama Iran, Kuba, dan beberapa negara yang menganut sosialisme lainnya, Chavez selalu menentang dominasi demokrasi AS yang dianggapnya sebagai biang persoalan di berbagai belahan dunia.
Sementara dari Brazil, pejabat senior Brazil kepada Reuters mendorong pemerintah Venezuela untuk menyelenggarakan pemilu secepat mungkin setelah kematian Chavez
Hal ini merupakan intervensi kekuatan besar di Amerika Latin untuk memastikan transisi kepemimpinan yang terjadi di Venezuela berlangsung lancar. Pejabat senior Brazil menyatakan harapannya secara langsung kepada Wakil Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Chavez telah menunjuk Maduro sebagai suksesor yang direstuinya apabila ia gagal melawan kanker yang dideritanya.
"Menurut kami, hal itu sangat penting untuk menjamin terjadinya transisi demokrasi yang damai, yang mana itu merupakan keinginan utama Brazil," kata pejabat Brazil itu.
Konstitusi Venezuela mengatakan pemilu harus diadakan kurang dari 30 hari setelah meninggalnya presiden. Sebelum pergi menuju Kuba, Chavez mendesak rakyat Venezuela untuk mendukung Maduro sementara para oposisi dan lawan politik Chavez mempersiapkan segala kemungkinan untuk menghadapi pemilu.
Mahkamah Agung Venezuela membuat keputusan kontroversial dengan menunda pelantikan Chavez minggu lalu, yang memberikan celah bagi pemerintah yang sedang berkuasa sekarang untuk mempertahankan kekuasaannya.
Pemerintah Venezuela mengatakan bahwa kesehatan Chavez membaik meskipun infeksi paru-paru yang dideritanya masih membutuhkan perawatan khusus. Sikap Brazil terhadap Venezuela sangat penting karena negara tersebut merupakan negara terbesar di Amerika Latin dan merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi serta punya kekuatan diplomasi terbesar di wilayah tersebut.
Presiden Brazil Dilma Rousseff, adalah seorang kiri yang moderat. Partainya sangat mendukung Chavez satu dekade belakangan ini. Namun, ia juga dianggap cukup demokratis dan netral untuk membantu Venezuela apabila krisis politik meletus. Brazil juga sudah menyampaikan keinginannya untuk menyegerakan berlangsungnya pemilu melalui utusan kepada pemimpin utama oposisi Venezuela Henrique Capriles.
Dengan dukungan mengenai solusi yang demokratis tersebut, Brazil berharap dapat menghalangi Capriles dan kelompoknya untuk memicu kerusuhan sipil apabila Chavez meninggal.
Capriles, yang diprediksi akan maju menghadapi Maduro pada pemilu, sejauh ini belum melakukan manuver apapun di tengah ketidakpastian politik ini. Minggu lalu ia mengatakan bahwa pendukung Chavez akan unggul secara politik apabila terjadi kekacauan.
Pewarta : FB Rian Anggoro
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

