
413 Hotspot Tertpantau Di Riau Selama PON

Pekanbaru, (antarariau) - Satelite NOAA-18 berhasil mendeteksi sedikitnya 413 titik panas di daratan Provinsi Riau selama 20 hari di bulan September atau saat awal hingga akhir penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVIII 2012.
"Selama bulan September atau salama penyelenggaraan PON, satelit mendeteksi sedikitnya 413 titik panas di Riau. Titik api terbanyak muncul pada tanggal 17, 18, dan 19 September," kata Analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Yudhistira Mawaddah di Pekanbaru pada Kamis.
Ardhitama yang ditemui ANTARA di ruang kerjanya menguraikan pada tanggal 17 September satelit mendeteksi kemunculan titik panas di Riau sebanyak 36 titik yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten/kota.
Jumlahnya kata dia kemudian meningkat drastis di tanggal 18 September dimana jumlah titik panas terdeteksi mencapai 105 titik.
"Kemudian di tanggal 19 September, jumlahnya sempat menurut namun tetap tinggi yakni mencapai 21 titik yang juga tersebar di sejumlah wilayah kabupaten/kota se Provinsi Riau," katanya.
Munculnya titik panas tersebut menurut Yudhistira disebabkan masih maraknya kasus-kasus kebakaran hutan atau lahan gambut di sejumlah kawasan.
"Titik panas kemungkinan adalah sebuah kebakaran lahan di suatu kawasan yang dapat memunculkan kabut asap seperti yang menutupi sebagian wilayah Riau sejak satu pekan terakhir," katanya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau sebelumnya telah mengajukan anggaran sebesar Rp100 miliar untuk mengatasi masalah kebakaran hutan atau lahan gambut penyebab kemunculan kabut asap di Riau selama PON.
Dana tersebut katanya diperuntukan untuk menyewa transportasi udara, dua diantaranya merupakan pesawat berisikan amunisi bom air guna mengantisipasi asap saat PON XVIII.
Selain dua unit pesawat pengebom air, juga disewa dua unit helikopter pemantau dan dua pesawat penabur benih hujan buatan guna meminimalisasi kebakaran di kawasan hutan dan sekitar lahan perkebunan di Riau.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

