Menjaring rupiah di lahan tidur Kualu Nanas

id Csr,pertyamina, desa nanas

Menjaring rupiah di lahan tidur Kualu Nanas

Petani Desa Kualu Nenas. (ANTARA/Vera Lusiana/19)

Pekanbaru (ANTARA) - Siang itu kaum ibu di Desa Kualu Nanas, Tambang, Kampar, Riau, sibuk menata menu makanan yang akan disajikan bagi para tamu di pondok yang terletak di tengah hamparan tanaman semangka.

Panas terik matahari membuat rasa dahaga yang luar biasa. Potongan semangka merah, merekah yang disuguhkan sebagai pembuka santap siang, habis dilahap para undangan. Rasa manis semangka membuat tenggorokan lega.

Hari itu sekitar bulan April 2019, setelah kurang lebih empat bulan menanti, tibalah waktu membahagiakan bagi kelompok Tani Karya Nenas, Kawasan Ekonomi Mandiri (KEM) Kualu Nanas, Tambang, Kampar. Pasalnya panen raya buah semangka perdana dilakukan di hadapan Bupati Kampar Catur Sugeng.

"Kami berterimakasih kepada Pertamina karena sudah membantu mengangkat ekonomi keluarga lewat pertanian ini," kata Undin (50) salah satu anggota kelompok Tani Karya Nenas, kepada Antara saat dijumpai di Kampar.

Diperkirakan sebanyak 30 ton buah semangka, berhasil dipanen dari lahan tidur itu. Jika harga semangka per kilogramnya saat normal Rp4.500, maka ada sekitar Rp135 juta pendapatan kotor yang diperoleh petani waktu itu. Hasil yang pantastis yang pantas membuat kegembiraan terpancar di wajah para petani yang sudah berlelah, hampir empat bulan menanti jerih payahnya.

Sejak awal Januari 2019 petani di Desa Kualu Nanas Tambang memang mulai mengelola, lahan tidur seluas 3,5 hektare, milik seorang warga Kampar yang bermukim di Pekanbaru. Mereka bekerja secara berkelompok dengan anggota 24 kepala keluarga.

Petani di Desa Kualu Nanas Tambang mengolah lahan tidur menjadi layak tanam dengan sistem tidak membakar lahan. (Vera Lusiana/Antara)


Forum Layanan Iptek Bagi Masyarakat (FlipMAS) Batobo telah memfasilitasi petani untuk mendapatkan hak pengelolaan lahan tidur itu selama lima tahun ke depan.

Sedangkan untuk modal, Kelompok Tani Karya Nenas mendapatkan bantuan lewat CSR Pertamina senilai Rp295 juta, yang merupakan salah satu SME & SR Partnership Program 2019 di Kampar, Riau.

"Bantuan CSR Pertamina ini diberikan secara cuma-cuma kepada petani Kualu Nanas," kata Ketua FlipMAS Batobo Wilayah Riau- Kepulauan Riau Dr. Padil, ST, MT.

Uang bantuan tersebut digunakan untuk biaya pengolahan, pembukaan lahan, juga membeli bibit, pupuk serta alat dan segala kebutuhan pertanian sampai panen.

Lewat pemanfaatan lahan tidur itu, kehidupan ekonomi di seputar area pertanian menjadi menggeliat kembali. Akses jalan terbuka, penampung hasil pertanian datang menjemput hasil pertanian langsung ke lokasi. Sehingga warga sekitar dan petani di Desa Kualu Nanas, termotivasi dan "moveon" ikut mengolah lahan tidur yang terdapat di sekitar lingkungannya masing-masing sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan sumber energi pangan baru bagi keluarga.

Puluhan warga yang sebelumnya cuma bekerja serabutan menjadi buruh perkebunan, bahkan tidak memiliki pekerjaan dan lahan, bisa bangkit menjadi petani yang sukses dan terangkat kesejahteraannya. Muncul pola pikir untuk bertani berkelompok dan meningkatkan penghasilan setiap warga.

Hasil pertanian petani Kualu Nanas selain semangka juga ada sayuran (Vera Lusiana/Antara)


Hingga mereka menjadi petani yang mandiri pangan, lewat upaya tumpang sari mampu menghasilkan jagung, cabai kacang tanah, melon, semangka dan lainnya, dalam jumlah besar.

"Produk mereka berlimpah, bukan lagi mandiri pangan tetapi bahkan sudah memasok pasar Pekanbaru, dan Sumatera Barat," kata Dr. Padil.

Selain keuntungan secara ekonomi yang didapat, teknologi pertanian yang diajarkan FlipMas Batobo juga mampu menekan kebakaran hutan dan lahan (Kahutla), yang sering melanda gambut di wilayah Kampar kala musim kemarau.

Dengan cara sistem olahan baru, petani tidak lagi membakar untuk membuka lahan pertanian. Akan tetapi menerapkan teknologi. Perubahan pola pikir yang ditanamkan FlipMas Batobo bagi petani ini menjadikan mereka "moveon" dari pertanian membakar menjadi tidak membakar, sehingga mampu menjaga kelestarian lingkungan yang berkelanjutan serta membangun tingkat kepedulian ke pada alam guna diwariskan bagi anak cucu.

Tak hanya itu, FlipMas juga memberikan bimbingan tentang manajemen keuangan. "Kami ajarkan mengolah lahan tampa bakar, tetapi pakai alat pertanian dan teknologi," sebutnya lagi.

Lahan tidur

Desa Kualu Nanas, Tambang, Kampar letaknya sangat strategis karena merupakan desa penyangga atau berbatasan langsung dengan Kota Pekanbaru, tepatnya di pinggir jalan lintas Sumatra Barat kilometer 27.

Desa Kualu Nanas merupakan daerah subur yang cocok untuk semua tanaman seperti karet, sawit, coklat, nangka dan nanas. Dari data Kantor Desa Kualu Nanas mencatat hampir 60 persen masyarakatnya atau sekitar 1.385 warga menggantungkan hidup sebagai petani. Hingga wilayah ini kini memiliki kebun nanas yang produktif lebih kurang 1.000 ha dengan jumlah produksi nanas segar hampir 4 ton per hari. Namun demikian, di wilayah tersebut masih terdapat lahan tidur atau kosong yang dibiarkan pemiliknya, yakni sekitar 233 Ha.

Semua potensi inilah yang menjadi awal Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, dan Forum Layanan Iptek Bagi Masyarakat Batobo menginisiasi program pemanfaatan lahan tidur bertajuk Kawasan Ekonomi Masyarakat di Desa Kualu Nanas, Tambang, Kampar.

Forum Layanan Iptek Bagi Masyarakat (FlipMas) memberikan pengarahan kepada kelompok tani Karya Nenas Kawasan Ekonomi Mandiri (KEM) Kualu Nanas, Tambang, Kampar Provinsi Riau. (Vera Lusiana/Antara)


Lewat program KEM Pertamina, masyarakat diajarkan dan didorong untuk "moveon" guna memberdayakan kreatifitasnya mengelola lahan tidur, semak belukar tidak berguna menjadi rupiah. Pada akhirnya kesejahteraan ekonomi keluarganya bisa terangkat. "Mereka sekarang telah memiliki penghasilan harian, mingguan, dan bulanan," ujar Ketua FlipMas.

Sekretaris Kelompok Tani Karya Nenas, Razali mengatakan program KEM yang dijalankan di Desa Kualu Nanas sangat membantu para petani menjadi lebih produktif.

"Kita tentunya dari petani akan berupaya maksimal manfaat anggaran yang dikucurkan Pertamina, memberi hasil berkelanjutan dari upaya pengelolaan lahan tidur," katanya.

Dia berharap hasil bimbingan dari para ahli di FlipMas mampu memberi penghasilan berkelanjutan bagi petani karena upah sebagai buruh tani yang didapat sebelumnya tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, apalagi menyekolahkan anak.
Peninjauan KEM Desa Kualu Nanas oleh Pertamina (Vera Lusiana/Antara)


Membangun negeri

Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina berkomitmen senantiasa memprioritaskan keseimbangan dan kelestarian alam, serta lingkungan dan masyarakat. Dengan menyejahterakan manusia, alam, dan lingkungan maka Pertamina akan mampu mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dengan beberapa inisiatif pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan, melalui pendidikan perubahan perilaku, pola pikir, serta pelatihan keterampilan dan kesehatan yang berwawasan pelestarian lingkungan.

Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, program CSR diadakan oleh perusahaan bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan lahan kosong tidak terpakai menjadi bernilai ekonomi serta menciptakan energi baru demi ketahanan pangan masyarakat.

"Melalui KEM, warga Desa Kualu Nanas juga mendapat bimbingan dan motivasi dari tim FlipMas," kata Roby Hervindo.

Roby Hervindo menyatakan mengatasi lahan tidur perlu ada upaya, agar bisa digunakan oleh masyarakat yang memang tidak beruntung memiliki lahan, sementara ada kemauan untuk mengolahnya. Makanya Pertamina Marketing Operation Region I menggandeng Forum Layanan Iptek Bagi Masyarakat Batobo, guna menginisiasi program pemanfaatan lahan tidur bertajuk Kawasan Ekonomi Masyarakat, di Desa Kualu Nanas Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

Mereka mendapat ilmu cara bercocok tanam, mengatasi hama, memilih jenis tanaman yang cocok dengan lahan serta menyesuaikan waktu tanam dengan panen terhadap kebutuhan pasar karena petani akan mampu berproduksi lebih baik dan menghasilkan lebih banyak.

"Ini wujud dukungan perusahaan menuju kemandirian masyarakat, memberi bantuan pembinaan pemanfaatan lahan, serta penyediaan peralatan hingga pembibitan untuk pengelolaan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan kepada kelompok binaan," ujar Roby.

Ia juga menjelaskan agar keberlangsungan program pemberdayaan terus berjalan, Pertamina bersama FLipMas Batobo juga memberikan pembinaan dan bimbingan kepada kelompok binaan dengan berbagai pelatihan pengolahan hasil KEM, serta pemasaran.
Lahan tidur di Desa Kualu Nenas yang mulai diolah. (ANTARA/Vera Lusiana/19)


CSR Pertamina

Pertamina dalam mengelola kegiatan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) mencakup program Corporate Social Responsibility (CSR), program Bina Lingkungan (BL) dan Program Kemitraan (PK).

Adapun tujuan strategis program CSR Pertamina adalah meningkatkan reputasi dan kredibilitas Pertamina melalui kegiatan TJSL yang terintegrasi dengan strategi bisnis.

Komitmen Pertamina dalam melaksanakan TJSL diwujudkan dalam berbagai kegiatan CSR yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, manajemen bencana, maupun bantuan khusus.

Realisasi kegiatan dilaksanakan oleh seluruh unit kerja fungsi CSR Pertamina, baik di kantor pusat, unit operasi, maupun anak perusahaan. Tujuan ini menjadi fokus Pertamina dalam menjalankan operasinya, di mana produk-produk yang dikembangkan dan jasa yang diberikan peduli terhadap kelestarian lingkungan khususnya bumi, untuk kepentingan dan masa depan generasi yang akan datang. Dimana CSR Pertamina berfokus pada empat isu yang menjadi pilarnya yaitu Pertamina cerdas, Pertamina sehati, Pertamina hijau, dan Pertamina berdedikasi.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar