
Ikan Telah Pergi Dari Okura

Lamsiah (70) menusukkan lidi ke daun rumbio di dapurnya. Ia memaksa diri untuk terus bekerja walaupun setengah mati menahan kantuk.
Tapi tetap saja ia tak bisa menyelesaikan lebih dari sepuluh atap daun rumbio.
"Beginilah nasib kami, sejak ikan susah didapat. Kami beralih pencaharian," kata nenek satu cucu warga Desa Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru.
Dalam sepekan Lamsiah paling banyak mengumpulkan seratus lembar atap rumbia yang ditukarnya dengan Rp75 ribu. Uang itulah yang ia gunakan agar menyambung hidup.
Lamsiah menggeluti pekerjaan ini sejak lima tahun yang lalu. Dulu ia membantu suaminya Sulung sebagai nelayan. Namun sejak kehadiran Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di lokasi tersebut, ikan-ikan banyak yang mati akibat limbah yang dibuang ke sungai. Ia tinggal persis di sungai Ukui yang merupakan anak sungai Siak.
"Dulu menangkap ikan maupun udang sangat mudah. Sekarang jangan diharap, mencari ikan kecil saja susah," keluh dia.
Penduduk di desa ini, lanjut dia, masih menggantungkan kehidupannya pada sungai. Mulai dari mencuci hingga memasak.
Meskipun, lanjut dia, banyak masyarakat yang mengalami diare akibat menggunakan air sungai yang tercemar limbah kelapa sawit.
Mayoritas penduduk Desa Okura berpencaharian sebagai nelayan, kemudian mereka menjualnya ke Pekanbaru.
Akibat tingginya intensitas pencemaran, banyak nelayan yang beralih profesi sebagai buruh perkebunan sawit dengan upah tergantung banyaknya tandan yang dipanen.
Jarak Pekanbaru dan desa Okura kurang lebih 30 kilometer. Namun karena infrastruktur yang belum baik, perjalanan menuju desa tersebut ditempuh dengan perjalanan selama satu jam berkendara. Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatau Tualang, Kabupaten Siak.
"Sejak tahun 1945, desa kami selalu begini. Orang-orang kalau masuk ke desa ini, tidak menyangka kalau masih berada di kawasan Pekanbaru," keluh dia.
Ia menambahkan jalan baru dibuka oleh Pemerintah Kota Pekanbaru tiga tahun lalu. Jalan itu, lanjut dia, merupakan janji yang dilontarkan pasangan Wali Kota Pekanbaru, Herman Abdullah pada masa kampanye.
"Jalan itu diiming-imingi akan dibuat kalau kami memenangkan pasang tersebut," kata dia.
Janji itu baru terealisasi setelah walikota menjabat untuk kedua kalinya.
"Katanya tiga tahun lagi, walikota itu mau maju sebagai gubernur dan minta dicoblos lagi," lirihnya.
Tak hanya itu, selama merdeka, ia mengaku belum pernah merasakan aliran listrik dari PLN. Untuk penerangan, masyarakat menggunakan genset yang dihidupkan mulai pukul 17.00 hingga 22.00.
"Biaya yang dikeluarkan besar, satu bulan bisa mencapai Rp100 ribu," jelasnya.
Awal tahun lalu, Pemerintah Kota Pekanbaru menjanjikan masuknya aliran listrik PLN ke desa tersebut.
"Biaya yang dikeluarkan mahal, di koran diumumkan biaya yang dikeluarkan hanya Rp550 ribu. Tapi disini, orang PLN meminta hingga Rp2,2 juta," jelas dia.
Selain permasalahan jalan dan listrik, ia mengeluhkan permasalahan jembatan yang menggangu pendidikan. Jembatan tersebut menghubungkan antara Desa Okura dan Desa Melebung. Akibat rusaknya jembatan tersebut, banyak anak-anak Melebung yang bersekolah dengan menggunakan sampan.
Salah seorang warga Okura lainnya, Tri Anisa (32) mengeluhkan kurangnya perhatian pihak Pemerintah Kota akan pendidikan anak-anak desa tersebut. Di desa tersebut hanya terdapat satu unit SD dan SMP.
"Pendidikan anak-anak di sini banyak terhenti, karena di sini tidak ada SMA. Jika ingin melanjutkan ke SMA maka harus indekos ke Rumbai, karena jaraknya cukup jauh dari desa ini," jelas dia.
Menurut dia, masyarakat tersebut buka tidak mau membiayai anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Tapi keterbatasan dana, membuat putus sekolah menjadi hal yang tak terelakkan.
Sejarahwan Riau, Prof Drs Suwardi MS, mengatakan Okura merupakan salah satu pelabuhan besar pada zaman penjajahan Jepang. Pada masa itu, Jepang menjadikan Pekanbaru sebagai pusat perbekalan perang.
"Nama Okura juga berasal dari bahasa Jepang. Dulu tempat itu, merupakan pelabuhan terbesar tempat pengiriman bahan bakar yakni batu bara ke Singapura," jelas dia.
Daerah tersebut, lanjut dia, mengalami perkembangan pesat pada masa itu. Ia menyesalkan, justru sesudah merdeka, malah Okura semakin ditinggalkan baik dari fisik maupun Sumber Daya Manusia (SDM).
"Sangat disesalkan memang, mengapa terjadi kemunduran drastis pada saat kita dalam kondisi merdeka dan mempunyai anggaran cukup untuk membangunnya," jelasnya.
Ironisnya, hanya beberapa kilometer dari desa Okura terdapat perusahaan multinasional Chevron Pacific Indonesia (CPI), yang sudah mengeruk 11 miliar barel minyak bumi dari tanah mereka. Di areal tersebut, penghuninya bisa merasakan listrik tanpa pemadaman selama 24 jam, infrastruktur yang memadai dan pendidikan sesuai dengan standar internasional.
Pewarta : Indriani
Editor:
Indriani
COPYRIGHT © ANTARA 2026

