Logo Header Antaranews Riau

Raja Ampat, Surga di Timur yang mengajarkan arti kepatuhan pajak

Kamis, 9 Juli 2026 14:20 WIB
Image Print
Raja Ampat, Surga di Timur yang mengajarkan arti kepatuhan pajak. (ANTARA/HO-DJP Riau)

Pekanbaru (ANTARA) - Suara azan belum terdengar ketika saya melangkahkan kaki memasuki halaman sebuah masjid. Dari kejauhan, seseorang melambaikan tangan dan memanggil. Sosok itu berdiri di dekat mimbar, tempat imam biasa memimpin salat.

“Bapa mau salat? Silakan azan dulu,” ucapnya dengan logat Papua yang kental saat saya mendekat.

Waktu memang telah memasuki salat Zuhur. Namun, masjid masih lengang, belum ada jemaah yang hadir.

“Yang biasa azan apakah tidak ada?” tanya saya.

“Belum datang sepertinya, Bapa,” jawabnya.

Saya pun mengiyakan permintaannya. Hari pertama menginjakkan kaki di tempat baru kembali diawali dengan pengalaman spiritual yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam. Alhamdulillah.

Sebelumnya, ketika tiba di Kota Sorong, perjalanan saya juga dibuka dengan suasana religius. Bertepatan dengan hari kedatangan, saya berkesempatan menghadiri kajian seorang ustaz nasional yang sedang mengisi agenda dakwah di Kota Sorong.

Namun, pengalaman azan kali ini terasa berbeda. Ini adalah pertama kalinya saya mengumandangkan azan di sebuah masjid besar, sekaligus masjid terbesar di Provinsi Papua Barat Daya.

Masjid itu bernama Masjid Agung Waisai. Berdiri megah di ibu kota Kabupaten Raja Ampat, masjid yang diresmikan pada 2025 tersebut mampu menampung hingga 8.500 jemaah.

Bagi saya, Masjid Agung Waisai menjadi pintu pertama untuk mengenal lebih dekat tanah yang selama ini dikenal sebagai salah satu surga dunia.

Menyapa Waisai, Gerbang Menuju Surga Bahari

Masjid Agung Waisai merupakan tempat kedua yang saya kunjungi setelah turun dari Kapal Motor (KM) Express Bahari yang membawa saya dari Sorong menuju Waisai. Sebelumnya, langkah pertama saya di kota ini berhenti di sebuah rumah makan Padang, RM S’Kumbang, yang lokasinya tidak jauh dari masjid.

Waisai berada di Pulau Waigeo, salah satu pulau utama dan terbesar di kawasan Raja Ampat. Kota ini dikenal sebagai kota transit karena menjadi persinggahan utama wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan menuju gugusan pulau kecil yang menyimpan pesona alam luar biasa.

Namun, Waisai bukan sekadar tempat singgah. Kota kecil ini memiliki daya tarik tersendiri. Pantai yang indah, aktivitas snorkeling, scuba diving, bird watching, hingga wisata alam menjadi alasan banyak orang memilih menghabiskan waktu di sini.

Beragam pilihan akomodasi tersedia, mulai dari hotel, homestay, hingga resort yang berdiri di tepian pantai dan menawarkan pemandangan laut yang memukau.

Salah satu destinasi yang sempat saya kunjungi adalah Kali Biru Raja Ampat yang berada di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit.

Di tengah rimbunnya hutan Raja Ampat, tersembunyi sebuah aliran sungai dengan air sebening kristal. Kejernihan airnya membuat dasar sungai terlihat jelas, seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan menikmati ketenangan alam.

Masyarakat Suku Mayalibit mengenalnya dengan nama Waiyal. Wai berarti udara, sedangkan Yal berarti mengetahui apa yang terjadi esok hari. Sebagian masyarakat juga menyebutnya Warabiar yang bermakna jernih.

Air Kali Biru terasa begitu menyegarkan. Dengan suhu sekitar 10–20 derajat celsius, kesejukannya tetap terasa meski matahari sedang terik. Air tersebut berasal dari mata air pegunungan dan menurut masyarakat setempat dapat diminum langsung ketika diambil dari sumbernya.

Dengan kedalaman sekitar dua hingga lima meter, Kali Biru menawarkan pengalaman wisata yang lengkap. Pengunjung dapat berenang, bermain air, atau sekadar menikmati suasana alam yang masih asri. Arus sungainya relatif tenang, bahkan beberapa bagian tepian sungai memiliki kedalaman kurang dari dua meter sehingga aman untuk berdiri.

Tidak mengherankan jika Raja Ampat mendapat berbagai julukan, mulai dari “The Last Paradise on Earth” hingga “Sepenggal Surga yang Jatuh di Bumi”.

Julukan tersebut terasa bukan sekadar ungkapan. Keindahan alam Raja Ampat memang menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara pun menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu destinasi impian.

Pesawat menuju Kota Sorong, sebagai pintu masuk utama menuju Raja Ampat, bahkan sering penuh oleh wisatawan yang ingin menyaksikan langsung pesona wilayah ini.

Raja Ampat terdiri atas 610 pulau yang tersebar di wilayah seluas sekitar 71.605 kilometer persegi. Empat pulau utama yang dikenal adalah Waigeo, Misool, Batanta, dan Salawati. Selain keindahan bahari, kawasan ini juga menawarkan kekayaan budaya, edukasi, serta panorama alam yang luar biasa.

Menjemput Kepatuhan Pajak di Negeri Kepulauan

Di balik pesona wisata yang mendunia, Raja Ampat juga menyimpan tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan publik, termasuk pelayanan perpajakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Raja Ampat pada 2025 tercatat sebanyak 71.605 jiwa. Mereka tersebar di 24 distrik, 4 kelurahan, dan 117 kampung.

Wilayah yang luas dengan kondisi geografis berupa gugusan pulau menjadi tantangan tersendiri bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Raja Ampat merupakan salah satu wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sorong. Namun, untuk mencapai Waisai, masyarakat harus menempuh perjalanan laut sekitar dua jam dari Kota Sorong.

Yang menarik, di Raja Ampat belum terdapat kantor pajak, baik KPP maupun Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).

Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, KPP Pratama Sorong menghadirkan layanan perpajakan di luar kantor dengan bekerja sama bersama Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

Layanan tersebut dibuka di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Raja Ampat. Tim KPP Pratama Sorong hadir selama lima hari kerja setiap bulan untuk memberikan pelayanan langsung kepada wajib pajak.

Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kehadiran layanan ini sangat dibutuhkan. Setiap kali layanan dibuka, wajib pajak datang untuk berkonsultasi, memperoleh informasi perpajakan, maupun memenuhi kewajiban administrasi perpajakan.

Bahkan, jumlah masyarakat yang mengakses layanan perpajakan sering kali lebih banyak dibandingkan masyarakat yang mengurus perizinan dan investasi.

Pada Februari 2026, antrean pelayanan perpajakan dalam satu hari mencapai sekitar 400 wajib pajak. Sebagian besar datang untuk melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berharap agar pelayanan perpajakan dapat hadir setiap hari di wilayah mereka. Jarak dan keterbatasan transportasi menjadi tantangan bagi masyarakat apabila harus datang langsung ke Kota Sorong.

Keterbatasan sumber daya juga membuat KPP Pratama Sorong belum dapat menjangkau seluruh wilayah Raja Ampat yang terdiri atas ratusan pulau. Namun, komitmen untuk hadir dan membersamai wajib pajak tetap dijaga.

Pelayanan diberikan dengan pendekatan yang humanis, santun, dan berintegritas. Bukan sekadar menjalankan tugas administrasi, tetapi menghadirkan negara di tengah masyarakat kepulauan.

Sebagaimana moto KPP Pratama Sorong: “Giat membersamai, santun melayani, integritas menyertai.”

Di tanah yang dikenal sebagai sepenggal surga yang jatuh ke bumi ini, keindahan alam berpadu dengan semangat pelayanan. Raja Ampat bukan hanya tentang laut biru, pulau-pulau eksotis, dan hutan yang memukau, tetapi juga tentang bagaimana setiap warga tetap mendapatkan hak untuk dilayani, termasuk dalam memenuhi kewajiban perpajakan.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026