Logo Header Antaranews Riau

PON: ID Card Pers Dikebut Manual

Sabtu, 8 September 2012 13:00 WIB
Image Print

Pekanbaru, (antarariau) - Panitia Besar PON XVIII Riau berusaha secara manual mengebut pembuatan kartu identitas dan surat izin meliput untuk wartawan, LO dan para pendukung penyelenggaraan PON karena 'server" komputer rusak sejak Jumat.

ANTARA melaporkan, di bagian akreditasi PB PON Riau, Sabtu, puluhan wartawan dan anggota kontingen berkerumun meminta penjelasan panitia, sedangkan para relawan di tempat itu hanya bisa melayani akreditas secara manual karena server untuk penyimpanan data identitas sempat rusak sejak Jumat sore (7/9).

"Kami belum bisa mengerjakan ID seluruhnya karena server rusak, semuanya terpaksa pakai sistem manual," kata seorang sukarelawan di bagian akreditasi, Anto.

Dampak dari kerusakan itu, panitia tak bisa lagi melayani pembuatan ID baru dan penggantian kartu yang keliru cetak.

Untuk sementara, ia mengatakan panitia hanya bisa membuat surat pernyataan untuk izin meliput bagi wartawan.

Humas PB PON Riau, Nurul Huda, mengakui bahwa server PB PON Riau rusak sehingga tak hanya mengganggu proses akreditasi, melainkan juga membuat situs resmi PON yang disediakan panitia tak berfungsi.

"Kami masih membahasnya secara internal untuk mencari solusi, apabila kondisinya terus berlanjut seperti ini," kata Nurul Huda.

Menurut dia, kemungkinan besar panitia akan melonggarkan kriteria untuk peliputan di arena PON. Bagi wartawan yang belum mendapatkan ID resmi dari panitia akan diperizinkan meliput, tentunya dengan ketentuan yang ditetapkan.

Sementara itu, sejumlah jurnalis mengeluhkan situs resmi PB PON di www.ponriau2012.com tidak bisa diakses untuk melihat hasil pertandingan. Selain itu, banyak juga wartawan yang terpaksa harus mencari sendiri kartu ID mereka karena panitia dinilai sangat lamban.

"Kerja panitia tidak profesional, sudah dua hari di Pekanbaru urusan ID tak selesai," keluh Lucas, seorang wartawan online dari Jakarta.

Ia juga mengeluhkan, banyak ID wartawan yang dicetak dobel dan data-data yang sudah dimasukkan ke panitia sejak lama malah hilang entah kemana di bagian akreditasi.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026