Logo Header Antaranews Riau

BMKG: Titik Api Di Sumatra Capai 274

Senin, 4 Juli 2011 20:06 WIB
Image Print

Dumai, 4/7 (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Provinsi Riau menyatakan cuaca panas yang melanda sebagian besar wilayah di Pulau Sumatera menyebabkan pertumbuhan titik api kian pesat bahkan mencapai 274 titik.

Analis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Riau Watih Puji Lestari kepada ANTARA di Kota Dumai, Senin, mengatakan, sebanyak 274 titik tersebut terpantau satelit cuaca yang dioperasikan "National Oceanic Atmospheric Agency" (NOAA) Amerika Serikat.

Titik api itu tersebar di seluruh wilayah Sumatera meliputi Bangka Belitung dan Sumatera Selatan masing-masing tiga titik, Bengkulu enam, Aceh 11, Sumatera Barat 20, Jambi 26 dan Provinsi Sumatra Utara sebanyak 42 titik api.

Sementera di Provinsi Riau, kata dia, terpantau sedikitnya 163 titik api dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Rokan Hilir, yakni mencapai 57 titik api, disusul Pelalawan 27, Siak 16, Indragiri Hulu 15, Bengkalis 11 dan Kuantansingingi sebanayak 10 titik api.

Selanjutnya, Kabupaten Rokan Hulu dan Kampar masing-masing sembilan titik, Kota Dumai lima, berikutnya Kabupaten Indragiri Hilir dan Meranti masing-masing dua titik api.

"Jumlah titik api pada Senin (4/7) merupakan yang terbanyak sepanjang 2011. Sementara sebelumnya (Minggu 3/7) di Sumatera terdapat 80 titik api," katanya.

Maningkatnya bertumbuhan titik api, menurut Warih, disebabkan minimnya curah hujan di sejumlah wilayah Sumatera sehingga menahan kekeringan lahan khususnya lahan gambut cukup lama.

Kondisi tersebut, menurut dia, kemudian menyulut kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra khususnya Riau.

"Beberapa hari sebelumnya, memang sempat terjadi hujan namun sifatnya lokal dengan intensitas ringan, sehingga tidak mengurangi kekeringan akibat cuaca terik hari sebelumnya," ungkap Warih.

Saat ini, kata dia, kandungan uap air pada admosfer juga cendrung minim sehingga cuaca panas diprediksi akan bertahan lama.

"Kemungkinan bertambahnya titik api atau 'hotspot' masih sangat besar mengingat suhu udara berada di atas 34,3 derajat Celsius. Kondisi ini berada di atas normal yang hanya berkisar antara 32-33,5 derajat Celcius," ujarnya.

Warih menjelaskan, saat ini arah angin cenderung bergerak dari tenggara sampai barat daya dengan kecepatan 5-17 kilometer per jam.

Kondisi tersebut, menurut dia, sangat memungkinkan asap sisa kebakaran hutan dan lahan du Pulau Sumatera sampai ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

"Namun apabila sewaktu-waktu angin berubah arah dan kecepatan terus berkurang, kabut asap justru akan berputar di wilayah Sumatera sendiri," demikian Warih Puji Lestari.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026