
Piala Dunia Paling Sarat Kepentingan Politik?

Jakarta (ANTARA) - Turnamen besar seperti Piala Dunia selalu berusaha dieksploitasi sebagai panggung untuk menunjukkan pencapaian dan keagungan negara yang menyelenggarakannya.
Eksploitasi itu terutama untuk menunjukkan betapa berhasilnya pembangunan nasional sebuah negara, sehingga dunia mesti menjadikannya sebagai teladan.
Namun, sejauh ini hanya Italia yang memanfaatkan Piala Dunia untuk tujuan politis ideologis ketika diktator Benito Mussolini menyerahkan trofi selain piala resmi, Jules Rimet, pada Piala Dunia 1934 di Italia.
Baca juga: James Rodriguez dan Luis Diaz Jadi Andalan Kolombia di Piala Dunia
Mussolini menyerahkan trofi ‘La Coppa Del Duce’ kepada timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia edisi itu, dengan maksud menunjukkan superioritas bangsanya dan fasisme Italia.
Itu seperti Adolf Hitler yang memanfaatkan Olimpiade Berlin 1936 untuk mendewakan ideologi Sosialisme Nasional (Nazi) dan konsep supremasi ras Arya.
Namun, sejak itu organisasi-organisasi olahraga global, termasuk FIFA, berusaha keras menyingkirkan pengaitan tujuan politik dengan ajang olahraga.
FIFA sendiri dari waktu ke waktu berusaha membuat Piala Dunia sebagai turnamen yang apolitik, meskipun sulit diwujudkan dan bahkan kerap membuat FIFA terseret politik hingga dituding berstandar ganda.
Upaya keras FIFA dalam menghadirkan Piala Dunia yang apolitik itu kini mendapatkan ujian ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026.
Selain pertama kali diadakan di tiga negara, Piala Dunia 2026 adalah juga Piala Dunia pertama yang diikuti oleh 48 tim.
Semangat menyelenggarakan Piala Dunia di lebih dari satu negara adalah untuk membangun kesalingpengertian dan iklusivitas.
Baca juga: Wolfsburg Turun Kasta, Paderborn Resmi Naik ke Bundesliga
Namun yang terjadi kemudian malah menjadi tantangan besar untuk hadirnya Piala Dunia yang apolitik.
Kalau pada 1934 adalah Mussolini yang menyeret sepak bola ke arena politik, maka tahun ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlihat sebagai pihak yang berusaha melakukan hal seperti itu.
Trump tampaknya berusaha menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai kesempatan untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dari kegagalan-kegagalan politiknya selama ini.
Popularitasnya di dalam negeri AS mencapai titik terendah, khususnya gara-gara perang melawan Iran. Popularitasnya turun sampai hanya 37 persen.
Pewarta : Jafar M Sidik
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

