Ilham Habibie pastikan ayahanda masih jalani pengobatan

id Ilham Habibie, UNS

Ilham Habibie pastikan ayahanda masih jalani pengobatan

Ilham Habibie saat menerima Anugerah UNS Award Parasamsya Anugraha Dharma Widyatama Makayasa di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Foto: Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Salah satu putra Presiden ketiga RI Baharuddin Jusuf Habibie, Ilham Habibie, memastikan ayahanda masih menjalani pengobatan di Jerman.

"Pak Habibie sekarang di Jerman. Kesehatannya ya begitu-begitulah. Memang lagi berobat, belum bisa pulang," katanya usai mewakili ayahanda menerima Anugerah UNS Award Parasamsya Anugraha Dharma Widyatama Makayasa di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Senin (11/3).

Ia mengatakan saat ini aktivitas ayahanda juga mulai berkurang dan lebih banyak beraktivitas di rumah.

Menurut dia, BJ Habibie berada di Jerman sejak bulan Oktober 2018 dan rencananya akan pulang pada bulan April tahun ini.

Sementara itu, mengenai penghargaan dari UNS tersebut, dikatakannya, merupakan sebuah kehormatan bagi sang ayah.

"Insyaallah apa yang disumbangkan oleh bapak akan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia sehingga kita bisa meningkatkan dan memaksimalkan kesejahteraan Indonesia," katanya.

Pada sambutannya, Ilham juga mengajak masyarakat untuk mereatualisasi nilai-nilai Pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi Bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar negeri.

"Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini," katanya.

Ia mengatakan saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini.

"Demokrasi hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warga negara serta pelecehan terhadap supremasi hukum," katanya.

Ia mengatakan dalam perspektif itulah Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan Indonesia yang majemuk.

Sementara itu, pada acara tersebut Rektor UNS Ravik Karsidi mengatakan BJ Habibie dipandang pantas untuk memperoleh penghargaan Parasamsya Anugraha Dharma Widyatama Makayasa karena telah berjasa besar dan sebagai pelopor yang luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. ***3***
 

Pewarta : Aris Wasita
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar