Ahli: PLTA Batang Toru ancam spesies orangutan

id Plta batang toru,orangutan punah,lingkungan

Ahli: PLTA Batang Toru ancam spesies orangutan

Ahli sektor sumber daya alami dan ekstraktif Indonesia David W Brown Ph.D (kanan) pada diskusi analisis kebutuhan energi dan dampak PLTA di Batang Toru di Jakarta, Rabu, (22/1/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Ahli sektor sumber daya alami dan ekstraktif Indonesia David W Brown Ph.D mengatakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, akan mengancam keberadaan spesies Orangutan Tapanuli.

"Kera besar terancam punah di dunia," kata dia pada diskusi bertajuk analisis kebutuhan energi dan dampak PLTA di Batang Toru, di Jakarta, Rabu.

Para advokat lingkungan dan ahli fauna menyatakan bahwa konstruksi dam di Sungai Batang Toru akan memisahkan habitat orangutan tersebut secara permanen.

Berdasarkan data yang ada, saat ini spesies langka bernama latin pongo tapanuliensis tersebut memiliki populasi sekitar 767 individu. Penolak dan pendukung proyek ini cenderung menyetujui bahwa 72 individu populasi itu akan terbunuh atau terisolasi genetis secara permanen.

Hal ini, katanya, berarti dalam jangka waktu tiga tahun proyek tersebut akan mengurangi populasi Orangutan Tapanuli sebesar tiga kali lipat yang berujung pada kepunahan.

Ia mengatakan pendukung Batang Toru berargumen bahwa spesies Orangutan Tapanuli ke ambang kepunahan adalah konsekuensi yang layak untuk diambil dalam mendukung tenaga masa kini dan masa depan Tapanuli Selatan.

Dalam laporan yang ditulis David, selain habitat satu-satunya Orangutan Tapanuli, ekosistem Batang Toru juga beragam secara biologis dengan 310 spesies burung, 80 spesies reptil, 64 spesies katak, dan lebih dari 1.000 spesies pohon.

"Area ini juga merupakan habitat enam dari spesies yang terancam dan rentan seperti siamang dan owa ungko," kata pimpinan perusahaan Brown Brothers Energy and Environment (B2E2) tersebut.

Selain itu Batang Toru juga merupakan habitat dari Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae), beruang madu (helarctos malayanus), tapir (tapirus indicus) dan burung-burung di antaranya kuau raja (argusianus argus).

Sebelumnya, pengamat lingkungan hidup Emmy Hafild mengatakan bahwa pembangunan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan jangan dibenturkan dengan habitat orangutan karena kedua hal tersebut bisa saling berjalan secara harmoni.

"Kegiatan ekonomi masih dapat dilakukan dengan dampak minimal terhadap orang utan, bukan dengan melarang kegiatan ekonominya," ujar Emmy Hafild.

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar