<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">
  <channel>
    <title>ANTARA News Riau - Citizen - Puisi </title>
    <description>News And Service</description>
    <link>https://riau.antaranews.com</link>
    <language>id</language>
    <copyright>2026 Antaranews, Pekanbaru Riau</copyright>
    <lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 04:20:01 +0700</lastBuildDate>
    <atom:link href="https://riau.antaranews.com/rss/citizen-puisi.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/>
    <item>
      <title>Puisi-Puisi Alifa Monica Jency</title>
      <link>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-alifa-monica-jency</link>
      <pubDate>Fri, 27 May 2016 10:31:20 +0700</pubDate>
      <description><![CDATA[<img src="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/05/B612_20160415_094604.jpg" align="left" border="0" width="90" height="60"><p>Padam memendamTelah padamTiap malam detik ini menemani kalbuDetak jantung berpacu melawanBeriring dengan denyut nadi ituAku terus menggerakkan tanganLelah tak berarti dalam hidupMengimbangi dengan segala yang harus dilakukanMenerawang sejenak akan kehidupan yang ku hirupBerpapasan dengan impian yang belum terwujudkanSetiap peluhku satu harapanBegitu juga semangat yang tak pernah padamHanya beralaskan tumpuan dari kehidupanAku berhenti sejenak untuk di pendam.Deburan RasaKesungguhan ku padaAku ...</p>]]></description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Padam memendamTelah padamTiap malam detik ini menemani kalbuDetak jantung berpacu melawanBeriring dengan denyut nadi ituAku terus menggerakkan tanganLelah tak berarti dalam hidupMengimbangi dengan segala yang harus dilakukanMenerawang sejenak akan kehidupan yang ku hirupBerpapasan dengan impian yang belum terwujudkanSetiap peluhku satu harapanBegitu juga semangat yang tak pernah padamHanya beralaskan tumpuan dari kehidupanAku berhenti sejenak untuk di pendam.Deburan RasaKesungguhan ku padaAku ...</p>]]></content:encoded>
      <guid>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-alifa-monica-jency</guid>
      <enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/05/B612_20160415_094604.jpg"/>
    </item>
    <item>
      <title>Puisi-Puisi Monica Alifa Jency</title>
      <link>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-monica-alifa-jency</link>
      <pubDate>Fri, 29 Apr 2016 08:30:42 +0700</pubDate>
      <description><![CDATA[<p>Lepas lelahKala aku dekat maka dengan semakin itulah telah adaRasa yang tertanam bagaikan tumbuh mekarDan seketika mekar tatkala ingin bersinarSekita itu pula mulai menghilang dan menjauhAkupun tak tau mengapaAku tak bisa nenjawab kenapaAku tak bisa pula mengertiSeperti apa yang telah terjadiMemang semua sudah sebagaimana mestinyaTapi sampai kapan pula akan berakhirAkupun ingin mengakhiriTapi aku tak berdayaSudah suratannya seperti ituNamun rasanya ada hal yang anehYang menerawang dipikiran dan ...</p>]]></description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Lepas lelahKala aku dekat maka dengan semakin itulah telah adaRasa yang tertanam bagaikan tumbuh mekarDan seketika mekar tatkala ingin bersinarSekita itu pula mulai menghilang dan menjauhAkupun tak tau mengapaAku tak bisa nenjawab kenapaAku tak bisa pula mengertiSeperti apa yang telah terjadiMemang semua sudah sebagaimana mestinyaTapi sampai kapan pula akan berakhirAkupun ingin mengakhiriTapi aku tak berdayaSudah suratannya seperti ituNamun rasanya ada hal yang anehYang menerawang dipikiran dan ...</p>]]></content:encoded>
      <guid>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-monica-alifa-jency</guid>
      <enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://img.antaranews.com/cache/800x533/no-image.jpg"/>
    </item>
    <item>
      <title>Puisi Andreas Pandiangan, Teror Mencekam </title>
      <link>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-andreas-pandiangan-teror-mencekam</link>
      <pubDate>Sat, 16 Jan 2016 20:07:12 +0700</pubDate>
      <description><![CDATA[<img src="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/01/Photo_00034.jpg" align="left" border="0" width="90" height="60"><p>Teror Mencekam Teror yang mencekam terjadiPorak porandakan hidup dan nyawaEntah apa yang sedang dicariMembunuh bagaikan hal yang biasaMencabut nyawa seperti padiBetap senang dan bahagiaSiang tenang di negara indahJadi mencekam saat teror datangBukan harta yang jadi hadiahHanya ingin nyawa melayangUjungnya menimbulkan amarahMemulai hadirnya kembali perangPercuma!!! Percuma yah Percuma!!!!Kami tak takut untuk ituSusah senang kami tetap bersamaMelawan kalian para teror pecanduBuang wajah polos di ...</p>]]></description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Teror Mencekam Teror yang mencekam terjadiPorak porandakan hidup dan nyawaEntah apa yang sedang dicariMembunuh bagaikan hal yang biasaMencabut nyawa seperti padiBetap senang dan bahagiaSiang tenang di negara indahJadi mencekam saat teror datangBukan harta yang jadi hadiahHanya ingin nyawa melayangUjungnya menimbulkan amarahMemulai hadirnya kembali perangPercuma!!! Percuma yah Percuma!!!!Kami tak takut untuk ituSusah senang kami tetap bersamaMelawan kalian para teror pecanduBuang wajah polos di ...</p>]]></content:encoded>
      <guid>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-andreas-pandiangan-teror-mencekam</guid>
      <enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/01/Photo_00034.jpg"/>
    </item>
    <item>
      <title>Puisi-Puisi Alex Wahyu</title>
      <link>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-alex-wahyu</link>
      <pubDate>Mon, 11 Jan 2016 09:47:16 +0700</pubDate>
      <description><![CDATA[<img src="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/01/alex.jpg" align="left" border="0" width="90" height="60"><p>&quot;Tiga November Dua Ribu Empat Belas&quot;Aku ingin menulis satu atau dua bait sajaMenemaninya, saat pelukan tak dapat dirasaSenyuman tak sempat terucapHembusan tak mampu membenahi hasratSemauku untuk bergelanggang dengannyaKata indah, sebaris puisi cintaHanya satu atau dua bait sajaSaat, seperti kita bertemuDi perempatan jalan menuju kampusKau begitu lincah dengan gerakanmuDan aku hanya diam melihatmu dari sudut pandang tiga puluh derajatTersenyum manyun, entah saat itu kau juga mencuri ...</p>]]></description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>&quot;Tiga November Dua Ribu Empat Belas&quot;Aku ingin menulis satu atau dua bait sajaMenemaninya, saat pelukan tak dapat dirasaSenyuman tak sempat terucapHembusan tak mampu membenahi hasratSemauku untuk bergelanggang dengannyaKata indah, sebaris puisi cintaHanya satu atau dua bait sajaSaat, seperti kita bertemuDi perempatan jalan menuju kampusKau begitu lincah dengan gerakanmuDan aku hanya diam melihatmu dari sudut pandang tiga puluh derajatTersenyum manyun, entah saat itu kau juga mencuri ...</p>]]></content:encoded>
      <guid>https://riau.antaranews.com/berita/puisi-puisi-alex-wahyu</guid>
      <enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://img.antaranews.com/cache/800x533/2016/01/alex.jpg"/>
    </item>
  </channel>
</rss>
