Satu kapal nelayan karam di laut Mukomuko

id Mukomuko

Satu kapal nelayan karam di laut Mukomuko

Sejumlah nelayan Desa Pasar Sebelah, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, membantu salah seorang nelayan yang menjadi korban kapal karam akibat diterjang ombak besar yang melanda perairan laut wilayah ini.(Foto Istimewa)

Mukomuko (ANTARA) - Satu unit kapal pengguna alat tangkap dogol milik nelayan Desa Pasar Sebelah, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, dilaporkan karam akibat diterjang ombak besar yang melanda perairan laut daerah itu, Senin pagi.

“Pemilik kapal yang karam tersebut bernama Alipuddin dari kelompok usaha bersama (KUB) nelayan Saiyo dan nelayan yang menjadi korban kapal karam bernama Kaharuddin Pani,” kata Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mukomuko Nasyyardi dalam keterangannya di Mukomuko, Senin.


Ia mengatakan, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut, namun akibat kejadian tersebut, pemilik kapal Alipuddin mengalami kerugian yang cukup besar mencapai Rp60 juta.

Nelayan di Desa Pasar Sebelah, Kecamatan Kota Mukomuko, mengalami kerugian sebesar itu karena hampir mayoritas badan kapal yang karam tersebut mengalami rusak parah.

“Kerugian yang dialami oleh tekong kapal atau nelayan yang menjadi korban kapal karam tersebut yakni kartu tandan penduduk (KTP), STNK motor dan telepon genggam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kapal karam karena musim angin selatan yang arahnya tidak teratur. Pada musim angin selatan ini bisa terjadi gelombang tinggi, sehingga sebagian nelayan takut untuk melaut.

Di sejumlah wilayah di daerah ini, banyak istilah musim angin selatan seperti nelayan di wilayah Desa Bantal, Air Rami dan Kecamatan Ipuh menyebutkan musim angina selatan ini dengan angina sakitan.

“Kalau datangnya musim angina ini bisa disebut dengan musim paceklik karena angina datang tiba-tiba,” ujarnya.

Tetapi penyebab kapal nelayan di Desa Pasar Sebelah ini karam ketika tekong kapal sedang menunggu ombak yang kedua dan haluan sudah memutar ke kiri lalu kapal digulung ombak sakitan.

Untuk itu, ia menyarankan, nelayan setempat untuk mewaspadai gelombang tinggi yang melanda perairan laut di daerah ini saat musim angina selatan atau istilah nelayan di wilayah ini musim “anggau”. Saat musim ini terjadi batang gelombang artinya gelombang tidak terputus.


Pewarta : Ferri Aryanto
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar