Nurfaizah penyandang difabel ajarkan baca Alquran di Aceh

id ACT Keterbatasan,Fisik Tak Kurangi,Penyandang difabel,Ajarkan Alquran,Pemerintah Aceh,Provinsi Aceh

Nurfaizah penyandang difabel ajarkan baca Alquran di Aceh

Seorang peyandang difabel Nurfaizah bersama suaminya usai bersilaturrahim ke Kantor ACT Aceh di Banda Aceh, Rabu (17/7). Foto: ACT Aceh

Banda Aceh (ANTARA) - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh menyebut, keterbatasan fisik tidak mengurangi semangat seorang penyandang difabel Nurfaizah (33), untuk mendidik anak-anak dalam membaca Alquran di Gampong (Desa) Weu Siteh, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar.

Siaran pers ACT Aceh diterima di Banda Aceh, Kamis, menyatakan, setiap malam rumah ditempati Nurfaizah penyandang polio selalu dipenuhi oleh suara anak-anak yang belajar, dan dijadikan sebagai balai pengajian bernama "Awwalul Qullub".

"Kami menerima anak-anak yang mau belajar Alquran. Tak sedikit anak-anak yang diterima belajar mengaji, karena harus memulai belajar dari dasar. Tapi insya Allah, selama ini kami siap menyambut mereka," ucapnya ketika mendatangi Kantor ACT Aceh di Banda Aceh, Rabu (17/7).

Nurfaizah mengidap polio sejak lahir pada bagian kedua tangannya. Segala aktivitas tetap dilakukan olehnya secara mandiri, menggunakan kedua kakinya.

Baik menulis, memasak, dan segala aktivitas lainnya. Kondisi fisik tidak mematahkan semangatnya dalam mengajar anak-anak dalam membaca kitab suci bagi umat Muslim selama 11 tahun yang dimulai sejak 2008.

Ia mengajar anak-anak dari dasar hingga bisa membaca Alquran dengan sepenuh hati. Baginya, anak-anak itu sudah dianggap seperti anak-anaknya sendiri.

"Kami mengharapkan bantuan sumur lengkap dengan kamar mandi di balai. Sumur yang ada saat ini masih berbagi dengan tetangga, sehingga kurang nyaman digunakan murid-murid. Di samping itu, jumlah iqra dan Alquran di balai pengajian kami masih terbilang kurang untuk mengajarkan 23 orang murid," katanya.

Ia mengaku tidak sanggup dalam memenuhi kebutuhan fasilitas balai pengajian, karena terbatasnya perekonomian keluarga tersebut. Rahmat (31), suaminya cuma bekerja sebagai tukang becak di seputaran Banda Aceh.

Penghasilan suaminya yang juga berasal dari kalangan disabilitas mengalami kesulitan komunikasi, lalu bagian wajah atas tepatnya di mata sebelah kanan tidak berfungsi normal sejak lahir, paling banyak Rp100 ribu per hari.

Di tengah keterbatasan fisiknya, tetapi Nurfaizah selalu berusaha membantu perekonomian keluarganya. Ia pernah berjuang, meski kekurangan modal. Lalu sekarang, dirinya ingin membuka usaha kerajinan tangan berupa menjahit payung pengantin, dan mengolah barang bekas menjadi pot bunga.

"Niat saya itu, belum saya laksanakan. Saya bingung ke mana nanti memasarkannya," terang dia.

Supervisor Partnership ACT Aceh, Lisdayanti mengatakan, pihaknya mendukung dunia pendidikan agama di tingkat desa karena merupakan tanggung jawab bersama.

"Minyeuk Pret', sebagai salah satu mitra peduli ACT insya Allah akan berpartisipasi mewakafkan 15 persen keuntungan dari penjualan produk 'Minyeuk Pret' untuk pembangunan sumur wakaf beserta sanitasinya di balai pengajian 'Awwalul Qulub'," ujarnya.

Ia mengatakan, melatih anak-anak dalam belajar Alquran di usia dini, menjadi modal yang sangat penting bagi perkembangan pengetahuan generasi masa depan.

"Apabila nantinya sumur sudah berdiri di 'Awwalul Qulub', mudah-mudahan semangat anak-anak belajar Alquran semakin meningkat," kata dia.

Pewarta : Muhammad Said
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar