Kemenperin gencar cetak "start-up" sektor kerajinan dan batik

id Innovating Jogja,startup batik,usaha rintisan,kemenperin

Kemenperin gencar cetak

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Titik Purwati Widowati berfoto bersama dengan para peserta yang mengikuti Bootcamp Innovating Jogja 2019 di Yogyakarta, Senin. (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) gencar menciptakan wirausaha rintisan (startup), termasuk untuk sektor kerajinan dan batik, mengingat Industri Kecil Menengah (IKM) kedua sektor tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

“Guna mencapai sasaran tersebut, kami mengadakan kegiatan Innovating Jogja 2019. Kegiatan ini merupakan kali ketiga setelah sukses dilaksanakan pada tahun 2016 dan 2018 yang lalu,” kata Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kemenperin Titik Purwati Widowati lewat keterangannya di Yogyakarta, Senin.

Menurut Titik, penyelenggaraan Innovating Jogja 2019 merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin.

Dalam pelaksanaannya, BBKB Yogyakarta sebagai inisiator didukung oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Agro Kemenperin, Program Disseminating Capacity Pusat Unggulan IPTEK (Batik dan Kerajinan), serta Bio Hadikusuma Management Training & Consulting (BHMTC).

“Kegiatan Innovating Jogja secara umum menggabungkan tujuan kegiatan Innovating Jogja terdahulu, untuk menghasilkan startup kerajinan dan batik di Yogyakarta yang inovatif dengan fungsi alih teknologi dan inkubasi hasil-hasil litbang yang dihasilkan oleh BBKB Yogyakarta,” jelasnya.

Setelah proses seleksi atas 42 proposal inovasi yang masuk, Innovating Jogja 2019 sudah sampai pada tahapan bootcamp bagi 30 peserta (incubatee) dengan inovasi kerajinan dan batik yang terbaik.

Pada tahap ini, peserta kegiatan akan mengikuti pelatihan selama tiga hari yaitu 15 -17 Juli 2019 di Yogyakarta, dalam rangka workshop penajaman ide bisnis dan penyusunan rencana bisnis bagi peserta. Tahapan bootcamp ini dipandu oleh tim BHMTC.

“Setelah kegiatan bootcamp, diharapkan seluruh peserta baik yang terpilih menjadi tenant maupun yang belum terpilih, dapat mengetahui identitas ide bisnisnya, mampu menyusun langkah bisnis secara konkret, memiliki rencana keuangan, dan semangat melaksanakan langkah-langkah bisnisnya tersebut,” papar Titik.

Babak selanjutnya setelah tahapan bootcamp adalah tahap seleksi rencana bisnis yang akan dilaksanakan di BBKB Yogyakarta pada tanggal 18-19 Juli 2019.

“Akan dipilih dua tenant inovasi dan dua tenant alih teknologi kompor listrik batik tulis untuk mengikuti kegiatan inkubasi, di mana BBKB sebagai inkubator bisnis,” imbuhnya.

Para incubatee yang terpilih pada kegiatan ini diharapkan juga dapat menerapkan hasil-hasil litbang serta memanfaatkan keberadaaan BBKB Yogyakarta untuk pengembangan bisnis mereka.

“Keempat peserta yang dipilih akan mendapatkan program penguatan teknis produksi, pembangunan dan pengembangan bisnis dari BBKB, serta bantuan bahan produksi senilai Rp20 juta,” ungkap Titik.

Pada ajang Innovating Jogja sebelumnya, muncul inovasi bisnis yang terus berkembang, di antaranya Wastraloka yang bergerak di bidang seni lukis pada kerajinan kaleng, Janedan yang mengenalkan produk kerajinan kulit tanpa jahit, dan Alra yang menghasilkan produk fesyen kulit.

Selanjutnya, muncul pula inovasi bisnis di bidang batik, seperti Tizania Batik yang berinovasi dengan batik latar ringkel ataupun By&G yang mengkreasikan tas tenun agel kombinasi batik.

Selain itu, masih banyak lagi bisnis kerajinan dan batik lain yang juga tumbuh melalui jaringan Innovating Jogja yang telah terbentuk. BBKB Yogyakarta berharap, pada tahun 2019 ini akan muncul ide inovasi bisnis yang tidak kalah dibandingkan dengan sebelumnya.

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar