Perhimpunan: Disabilitas laring semakin rentan terdampak COVID-19

id Disabilitas Laring,Pandemi COVID-19, Helena Liswardi ,Perhimpunan Wicara Esofagus Indonesia,Kanker Laring,COVID-19

Perhimpunan: Disabilitas laring semakin rentan terdampak COVID-19

Bungkus Rokok Seram Pedagang menata bungkus rokok yang bergambar seram di Banda Aceh. Sesuai dengan PP Nomor 109/2012 Kementerian Kesehatan telah mensosialisasikan lima gambar yang harus digunakan pada bagian atas bungkus rokok yakni gambar kanker mulut, kanker paru dan bronkitis akut, kanker tenggorokan, merokok membahayakan anak (ilustrasi bapak menggendong anak sambil merokok), serta merokok membunuhmu. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra) (Antaranews.com) (Antaranews.com/)

Jakarta (ANTARA) - Koordinator dan instruktur pelatih Perhimpunan Wicara Esofagus Indonesia Helena Liswardi mengatakan penyandang disabilitas laring semakin rentan terdampak COVID-19 karena fasilitas sarana dan prasarana yang belum memadai.

"Selain itu, penyandang disabilitas laring juga mengalami diskriminasi kerja dan rentan di-PHK serta belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah," kata Helena dalam sebuah seminar daring yang diadakan Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau yang diikuti di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Kanker pita suara incar para perokok

Helena mengatakan terdapat beberapa masalah yang dihadapi para penyandang disabilitas laring setelah pandemi COVID-19 melanda Indonesia, misalnya panduan yang minim dalam menghadapi COVID-19 dan tidak ada masker khusus leher bagi disabilitas laring.

Selain itu, karena terdapat pembatasan layanan di rumah sakit, jadwal pengobatan dan pemeriksaan para penyandang disabilitas juga terganggu dan mereka sulit mendapatkan rujukan.

Baca juga: Terapis wicara di Indonesia masih kurang dan belum merata

"Penyandang disabilitas laring juga tidak mendapatkan pendapatan atau pendapatannya menurun, ada yang belum mendapatkan bantuan sosial, dan latihan terapi wicaranya terhambat," tuturnya.

Disabilitas laring terjadi ketika kotak suara yang mengandung pita suara diangkat akibat kanker laring yang biasanya terjadi karena perilaku merokok. Operasi pengangkatan kotak suara tersebut meninggalkan lubang di bagian leher.

Baca juga: Bansos sembako Kemensos jangkau penyandang disabilitas di Bandung Raya

Karena kotak suara diangkat, maka penyandang disabilitas laring mengalami gangguan wicara. Untuk dapat berbicara, penyandang disabilitas laring menggunakan esofagus untuk mengeluarkan suara melalui lubang yang ada di lehernya.

Biasanya perlu latihan dengan bimbingan terapis agar penyandang disabilitas laring bisa berbicara menggunakan esofagus. 

Baca juga: Istana sebut Perpres dorong pemberian hak penyandang disabilitas

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar