Anak remaja gagal ginjal kronis di Surabaya dapat bantuan kursi roda

id anak remaja gagal ginjal,pemkot surabaya,kursi roda,guruh prasetyo

Anak remaja gagal ginjal kronis di Surabaya dapat bantuan kursi roda

Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser. ANTARA/Abdul Hakim/am.

Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota Surabaya memberikan bantuan kepada Guruh Prasetyo, remaja penderita gagal ginjal kronis (GGK) dan penyakit lupus, warga Petemon, Sawahan, Kota Surabaya, Jatim, berupa berupa pemberian Penerima Bantuan Iuran (PBI) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan kursi roda.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M. Fikser, di Surabaya, Rabu, mengatakan Pemkot Surabaya sudah lama memantau pasien atas nama Guntur itu. Kebetulan, remaja itu juga merupakan anak Ketua RT, sehingga sudah terpantau sejak lama.

"Selama ini sudah dipantau dan dibantu dengan PBI yang dari Pemkot Surabaya. Hal itu sangat membantu dia untuk berobat dan kontrol kesehatan," kata dia.

Selain bantuan PBI BPJS Kesehatan itu, Pemkot Surabaya juga merasa Guntur perlu kursi roda untuk beraktivitas, makanya Pemkot Surabaya telah memberikan kursi roda untuk bisa digunakan setiap aktivitasnya.

"Semoga bantuan kursi roda itu bermanfaat dan bisa menambah semangat Guntur untuk terus berjuang demi kesembuhannya," katanya.

Baca juga: Lebih dari 800 orang warga Kepri menderita gagal ginjal

Baca juga: Terapi yang perlu dijalani pasien gagal ginjal


Sementara itu, ayah Guruh, Suparman mengatakan Guruh merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Di antara keluarga yang lain, tidak ada yang memiliki riwayat penyakit seperti yang diderita Guruh.

"Vonis gagal ginjal itu sejak Guruh usia 3-4 tahun. Kemudian sekitar tiga bulan lalu kena vonis lupus. Sekarang Guruh berusia 17 tahun," kata Suparman yang juga Ketua RT 05 RW 08, Kelurahan Petemon, Kecamatan Sawahan ini.

Suparman menyebut bahwa keinginan Guruh memiliki kursi roda sangat tinggi karena sejak divonis menderita lupus, Guntur mudah lelah dan nafasnya tersengal-sengal jika berjalan beberapa meter. Apalagi, Guruh tidak mau digendong.

"Saya sangat berterima kasih atas bantuannya. Sebelumnya juga sudah ada yang membantu tabung oksigen dari warga," kata Suparman yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek daring ini.

Ia menjelaskan, sebagai bagian pengobatan GGK, Guruh harus menjalani cuci darah mesin atau Hemodialisis (HD). Namun, karena keterbatasan biaya, akhirnya dipilih cuci darah manual di rumah menggunakan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Belakangan ini, lanjut dia, CAPD istirahat dulu karena bocor dan terkena ke jantung dan paru-paru, sehingga harus kembali ke HD.

"Terapi HD dua minggu sekali. Semua biaya sudah dibayar oleh BPJS Kesehatan yang preminya dari Pemkot Surabaya, jadi untuk biaya semua sudah dibayar, baik yang menggunakan HD atau CAPD. Alat CAPD jika dihitung-hitung biayanya bisa sampai Rp10 jutaan," katanya.*

Baca juga: Kenali lupus dan gejalanya

Baca juga: Selena Gomez persingkat tur dunia untuk obati efek lupus

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar