Riau Diklaim Sebagai Pangsa Pasar "E-Commerce", Begini Penjelasan Kepala BI

id riau diklaim sebagai pangsa pasar e-commerce begini penjelasan kepala bi

Riau Diklaim Sebagai Pangsa Pasar "E-Commerce", Begini Penjelasan Kepala BI

Pekanbaru (Antarariau.com) - Bank Indonesia Provinsi Riau mengklaim wilayah tersebut merupakan pangsa pasar terbesar perdagangan sistem elektronik atau "e-commerce" karena mengingat jumlah penduduk usia muda yang besar dan pendapatan atau "income" perkapita yang tinggi.

"Riau sudah waktunya menerapkan sistem "e-commerce" Riau miliki penduduk usia muda yang besar dan rata-rata sudah faham dengan penggunaan gawai, " kata Kepala Bank Indonesia Provinsi Riau Siti Astiyah di Pekanbaru, Senin.

Siti menyatakan walau kondisi perdagangan elektronik dinilai sebahagian kalangan itu di wilayah lain telah berdampak bagi bisnis ritel namun berbeda dengan Riau yang justru menjadi pangsa besar.

Karena jumlah penduduk usia muda yang besar ini Provinsi penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia itu bisa jadi potensi pasar perdagangan dengan sistem elektronik. Sehingga ini akan membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi setempat.

Sebab ia menilai saat ini di Riau mulai terjadi pengalihan sistem perdagangan dari yang konvensional ke elektronik.

"Inilah yang namanya digital ekonomi mau tidak mau harus di respon sebab e-commerce akan berkembang," tuturnya.

Walau diakuinya Riau saat ini masih dalam posisi minim sistem perdagangan elektroniknya ini terbukti jumlah uang beredar (out flow) masih lebih besar ketimbang non tunai atau "e- money".

Makanya sebut dia BI Riau selalu mendorong sistem penggunaan non tunai karena akan lebih efisien, walau akan butuh persaingan yang lebih ketat dikalangan ritel dan e-commerce.

Terciptanya efisiensi ini terang dia terlihat dari memendeknya rantai distribusi pasar sehingga menguntungkan masyarakat sebab bisa berbelanja dengan harga yang lebih murah.

"Barangkali nanti yang akan terimbas di tingkat penghubung atau "midel" karena barang itu bisa langsung dari hulu ke pasar, " imbuhnya.

Siti juga membantah saat ini daya beli masyarakat Riau menurun justru data yang di himpun BI menyatakan sebaliknya.

Misalkan ia mencontohkan Indeks Konsumsi Barang Tahan Lama alami kenaikan pada triwulan III (September) menjadi 104,75 dari triwulan II (Juli) hanya 90.

"Artinya memang masyarakat konsumsinya masih meningkat Sehingga daya beli menurun itu tidak benar, " katanya.

Ia juga memaparkan indek lainnya yang menggambarkan ada kenaikan yakni Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 103,13 pada triwulan III.

"Ini artinya berada pada level optimis, " pungkasnya.

Sejalan dengan itu diberitakan sebelumnya Megawati Wennedi, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Pekanbaru, mengemukakan selama lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan pengunjung pusat perbelanjaan mencapai angka 12 persen per tahun. Ini didorong oleh semakin bertumbuhnya ekonomi warganya.

"Kota Pekanbaru menjadi daerah yang unik untuk bisnis pusat perbelanjaan," ujarnya.

Pertumbuhan jumlah pengunjung ini didukung oleh daerah-daerah satelit sekitar Kota Pekanbaru seperti Kampar, Pelalawan, dan Siak.

Peningkatan jumlah pengunjung di akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu, mencapai 20 persen bahkan 50 persen.

Sementara itu Operasional and Marketing Manager Mal Ska Pekanbaru, Imran Amin mengatakan, potensi pertumbuhan bisnis pusat perbelanjaan masih sangat besar di Kota bertuah. Menjawab itu, di tahun 2017 Mal Ska akan merampungkan renovasi dan ekspansi bangunan.

"Mal Ska Pekanbaru menargetkan pengerjaan pembangunan gedung akan selesai dan bisa dioperasikan di semester kedua 2017. Itu akan menyediakan 100 tenant. Saat ini terdapat 150 tenant," tambahnya.

Pewarta :
Editor: Vera Lusiana
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar