Logo Header Antaranews Riau

Menelusuri pesona batik Kudus, Demak, dan Banyumas dalam "Jejak Keindahan"

Sabtu, 3 Oktober 2026 11:39 WIB
Image Print
Sejumlah koleksi batik yang dipamerkan dalam pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil, Jakarta, dalam memperingati Hari Batik Nasional 2026. (ANTARA/Sri Dewi Larasati)

Jakarta (ANTARA) - Di balik setiap goresan malam pada selembar kain batik, tersimpan cerita tentang manusia, tradisi, dan perjalanan sebuah masyarakat.

Motif yang tampak sederhana dapat merekam jejak zaman, sementara warna dan ragam hiasnya menyimpan identitas daerah tempat batik itu tumbuh. Namun, perubahan zaman juga membawa tantangan. Sejumlah tradisi batik yang pernah mengalami masa keemasan kini justru harus berjuang agar tidak tenggelam dan dilupakan.

Batik Kudus, Demak, dan Banyumas adalah tiga di antaranya.

Ketiganya pernah menjadi daerah yang aktif memproduksi batik. Namun, memasuki periode 1960–1980-an, produksi batik di daerah-daerah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan. Perubahan dinamika pasar, berkurangnya minat generasi muda, hingga perubahan pola kehidupan masyarakat ikut memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut.

Kurator Junior Museum Tekstil Mutiara Zahwa Nauli Siregar mengatakan Batik Kudus, Demak, dan Banyumas merupakan bagian dari kekayaan tradisi batik Indonesia yang perlu kembali diperkenalkan kepada masyarakat.

“Batik yang berjuang ini perlu kita perkenalkan lagi, karena mau bagaimanapun batik ini tetap merupakan salah satu dari identitas nasional kita, dengan keindahannya yang tidak kalah menarik untuk mata dan hati,” kata Zahwa kepada ANTARA di Jakarta.

Upaya untuk mengenalkan kembali ketiga tradisi batik itu salah satunya dilakukan Museum Tekstil melalui pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas”, yang digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026.

Sebanyak 60 koleksi ditampilkan dalam pameran tersebut, terdiri atas tiga batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas. Sebagian besar merupakan batik tulis dan koleksi lama Museum Tekstil.

Pameran itu bukan sekadar menghadirkan kain-kain tua di balik kaca. Lebih dari itu, setiap kain menjadi pintu untuk melihat kembali sejarah, kreativitas, serta kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

Menyibak karakter tiga daerah
Ketiga daerah memiliki kekhasan masing-masing. Secara umum, motif yang ditampilkan banyak mengambil inspirasi dari alam dan kemudian mengalami stilisasi, sebagaimana karakter yang kerap ditemukan pada batik pesisir.

Batik Kudus, misalnya, tampil dengan karakter motif yang besar dan berani, berpadu dengan latar yang kaya isen-isen dan detail.

Salah satu koleksinya adalah Kain Panjang berupa batik tulis berbahan katun gaya kudusan dengan motif tanaman air, kyai janggar, dan beras mawur. Ada pula Kain Panjang Pagi Sore Sore Bolak Balik dengan motif buket, burung, kupu-kupu, dan sisik ulo.

Sementara itu, Batik Demak memperlihatkan karakter pesisir yang berpadu dengan stilisasi flora. Salah satu koleksi yang dipamerkan adalah Kain Panjang Pagi Sore, batik tulis berbahan katun dengan motif tabur bunga susymoyo lungkembang ukel tapaitik, ceplok nitik, dan isen semarangan.

Adapun Batik Banyumas memiliki karakter kuat melalui garis dan motif yang tegas. Koleksi yang ditampilkan antara lain Kain Panjang berbahan katun dengan motif lung lungan, burung dengan latar andang mukti, dan ukel.

Ada pula Kain Panjang Batik berupa batik tulis berbahan katun dengan motif Buketan Tambal.

Di balik keragaman motif tersebut terdapat pula perjalanan sejarah dan pengaruh kebudayaan yang membentuk perkembangan batik di ketiga daerah.

“Ketiga daerah ini memiliki pengaruh Islam yang cukup kuat karena karya batik daerah tersebut dipelopori oleh figur Muslim di Indonesia yang terkenal seperti Sultan Agung di Kudus, Sunan Kalijaga di Demak bahkan sampai Najendra, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Banyumas,” tutur Zahwa.

Bukan sekadar menyimpan kain
Bagi museum, menjaga warisan batik tidak berhenti pada upaya merawat kain agar tetap utuh.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati mengatakan pengetahuan mengenai pembuat, daerah asal, teknik pembuatan, motif, pewarnaan, fungsi, hingga cerita masyarakat di balik sebuah kain juga perlu didokumentasikan.

Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi mendatang.

Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan koleksi batik dari tiga daerah tersebut sekaligus membuka ruang dialog mengenai perjalanan, keindahan, dan keberlanjutannya.

“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri kepada ANTARA di Jakarta.

Menghidupkan kembali jejak yang nyaris terlupakan
Momentum Hari Batik Nasional menjadi pengingat bahwa batik tidak semata-mata kain atau busana. Di dalamnya terdapat identitas, pengetahuan, kreativitas, dan kekayaan budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui “Jejak Keindahan”, Museum Tekstil berupaya mengajak masyarakat mengenal kembali Batik Kudus, Demak, dan Banyumas—tiga tradisi yang pernah mengalami masa kejayaan, tetapi kini menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan zaman.

Sebab, keberlangsungan sebuah tradisi tidak hanya bergantung pada mereka yang membuatnya. Ia juga membutuhkan masyarakat yang mengenal, mencintai, menghargai, dan menggunakannya.

Dari balik lembaran kain yang tersimpan di Museum Tekstil, jejak itu masih ada.

Motifnya masih bercerita. Warna-warnanya masih menyimpan ingatan. Dan melalui generasi hari ini, jejak keindahan Batik Kudus, Demak, dan Banyumas masih memiliki kesempatan untuk kembali dikenal luas.

Masyarakat dapat menengok langsung pesona ketiga tradisi batik tersebut melalui pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil, Jakarta, yang berlangsung hingga 2 November 2026.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026