
Kepala BPPMT Pekanbaru ungkap dampak komoditas transmigrasi tanpa dihilirisasi

Pekanbaru (ANTARA) - Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Ahmad Syahir, mengungkapkan dampak yang terjadi apabila komoditas unggulan kawasan transmigrasi tidak dikembangkan melalui proses hilirisasi.
Menurut Syahir, hilirisasi menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas yang dihasilkan masyarakat transmigrasi, baik dari sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan.
"Hilirisasi merupakan proses mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Apabila potensi tersebut hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, masyarakat berpotensi kehilangan nilai ekonomi yang lebih besar," ucap Ahmad Syahir kepada ANTARA, Sabtu (26/9).
BPPMT Pekanbaru terus mendorong pengembangan produk unggulan kawasan transmigrasi melalui berbagai program, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga bimbingan pascapelatihan yang berfokus pada proses hilirisasi. Syahir menilai pelatihan dan pendampingan hilirisasi menjadi langkah penting dalam mengembangkan potensi produk.
Ia menjelaskan, kawasan transmigrasi di seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi komoditas masing-masing. Kawasan transmigrasi di wilayah timur Indonesia, seperti Papua, Maluku dan Sulawesi Barat, memiliki potensi perikanan yang melimpah dan bernilai tinggi.
Sementara itu, kawasan transmigrasi Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memiliki potensi perkebunan, buah-buahan seperti durian. Kemudian Kawasan Transmigrasi Tubbi Taramanu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dikenal memiliki potensi komoditas kakao.
Potensi tanaman pangan juga terdapat di Kawasan Transmigrasi Telang, Banyuasin, dengan komoditas padi dan jagung. Adapun di Lampung terdapat potensi perikanan darat dan pertanian seperti ubi, sedangkan Kawasan Transmigrasi Barelang, Kota Batam, memiliki komoditas perikanan tangkap dan perkebunan.
Berbagai komoditas unggulan lainnya juga tersebar di kawasan transmigrasi di Pulau Sumatera, seperti kelapa, kopi, udang serta sayuran berupa cabai dan tomat.
Jika komoditas unggulan di Kawasan Transmigrasi tidak disentuh melalui proses hilirisasi maka akan berdampak kepada banyak sektor kehidupan masyarakat.
Dampak pertama, kata dia, adalah hilangnya nilai tambah produk (value lost). Komoditas yang dijual dalam bentuk mentah memiliki nilai ekonomi lebih rendah dibandingkan produk yang telah melalui proses pengolahan.
"Contohnya nanas. Jika hanya dijual dalam bentuk buah, nilai jualnya berbeda ketika diolah menjadi sirup, selai atau keripik. Produk turunannya memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," ujarnya.
Dampak kedua adalah minimnya lapangan kerja baru. Menurut Syahir, berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan perikanan, baik dalam skala rumah tangga maupun industri lebih besar, dapat membuka lapangan tenaga kerja mulai dari teknisi, operator hingga manajerial.
Dampak ketiga adalah ketergantungan pada harga global (volatilitas tinggi) berkaitan dengan tingginya ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas. Harga bahan mentah sangat dipengaruhi kondisi pasar sehingga ketika harga komoditas turun, pendapatan masyarakat yang menjual bahan mentah juga ikut terdampak. Sebaliknya, produk yang telah melalui proses hilirisasi cenderung memiliki harga lebih stabil dan kuat.
Dampak keempat adalah rendahnya pendapatan transmigran. Ketika komoditas hanya dijual dalam bentuk bahan baku, masyarakat belum memperoleh manfaat ekonomi secara maksimal dari potensi yang mereka hasilkan.
"Oleh sebab itu, BPPMT Pekanbaru hadir untuk menjembatani transmigran dalam meningkatkan nilai komoditas kawasan transmigrasi dengan program pelatihan dan pendampingan hilirisasi produk kawasan," kata Syahir.
Ia menambahkan, program BPPMT Pekanbaru dilakukan dari sisi hulu hingga hilir. Masyarakat tidak hanya diberikan pelatihan produksi, tetapi juga pendampingan pengemasan, pemasaran hingga pengurusan legalitas produk.
Melalui program tersebut, BPPMT Pekanbaru bersama masyarakat di sejumlah kawasan transmigrasi mulai melihat munculnya berbagai produk turunan dari komoditas unggulan lokal. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong komoditas kawasan agar memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat transmigrasi.
Pewarta : Diana Syafni
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

