Logo Header Antaranews Riau

Fasda Tanoto Foundation manfaatkan wisata lokal Dumai sebagai sarana belajar siswa

Senin, 7 September 2026 17:13 WIB
Image Print
Siswa SMPN Binaan Khusus Kota Dumai menjelaskan hasil observasi di Taman Bukit Gelanggang Kota Dumai dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diinisiasi Fasda Tanoto Foundation (Diana/ANTARA).

Dumai (ANTARA) - Tim Fasilitator Daerah (Fasda) Perubahan Tanoto Foundation mendorong pemanfaatan potensi wisata lokal sebagai sumber belajar untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa. Inovasi pembelajaran tersebut diterapkan melalui kegiatan observasi di Taman Bukit Gelanggang, Kota Dumai.

Tim Fasda yang dinamakan Tim Gemilang terdiri atas Ketua Tim Muhamad Azahan Daulay, Husnal Hayati dari SMP Negeri Binaan Khusus Kota Dumai serta Rivia Dewi dari SMP Negeri 15 Dumai. Kegiatan melibatkan sekitar 30 siswa kelas VIII SMP Negeri Binaan Khusus Kota Dumai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bersama guru model Irda Eka Putri.

Ketua Tim Gemilang, Muhamad Azahan Daulay, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjadikan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang kontekstual. Siswa tidak hanya mempelajari materi di dalam kelas, tetapi langsung mengamati objek yang ada di lingkungan wisata lokal.

"Anak-anak kelas VIII berkegiatan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi laporan hasil observasi. Kami memanfaatkan wisata lokal yang lokasinya dekat dengan sekolah, yaitu Taman Bukit Gelanggang, sebagai sumber belajar," kata Muhamad Azahan.

Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus mengintegrasikan kemampuan literasi dan numerasi. Melalui penyusunan laporan hasil observasi, siswa dituntut menemukan fakta, mengumpulkan data, kemudian mengolah informasi berdasarkan objek yang mereka amati.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan menentukan objek yang akan diamati, seperti lapangan voli, lapangan basket, area jogging, hingga taman refleksi. Mereka kemudian melakukan pengamatan, mencatat fakta dan data, serta menyusun hasilnya menjadi laporan observasi.

Dengan memanfaatkan lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa, materi pembelajaran diharapkan lebih mudah dipahami sekaligus membuat siswa lebih aktif.

"Tujuannya bagaimana wisata lokal bisa menjadi sumber belajar bagi siswa. Kami ingin membuat inovasi pembelajaran yang kontekstual, sehingga anak-anak belajar dari lingkungan yang mereka kenal dan melihat langsung objek yang menjadi bahan pembelajaran," jelasnya.

Guru model mata pelajaran Bahasa Indonesia, Irda Eka Putri, mengatakan pembelajaran melalui observasi langsung memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka tidak hanya menerima materi mengenai teks laporan hasil observasi secara teori, tetapi juga mempraktikkan proses pengumpulan data dan fakta secara langsung.

Kegiatan pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan presentasi. Setiap kelompok siswa memaparkan hasil observasinya kepada kelompok lain. Pola tersebut mendorong siswa untuk lebih aktif berkomunikasi, menyampaikan hasil pengamatan, serta memberikan tanggapan terhadap pekerjaan kelompok lainnya.

Salah seorang siswa SMP Negeri Binaan Khusus Kota Dumai, Ismi Akila, menilai pembelajaran di luar kelas tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Siswa juga mendapatkan pengalaman baru karena dapat mengamati objek secara langsung dan bekerja sama dengan teman dalam menyelesaikan tugas.

Program pemanfaatan wisata lokal ini merupakan bagian dari Proyek Fasda Perubahan 2026 Tanoto Foundation Regional Sumatera B. Program tersebut hadir sebagai upaya menjawab tantangan literasi dan numerasi di daerah sekaligus mendukung peningkatan hasil belajar siswa melalui pendampingan dan inovasi yang sesuai dengan konteks lokal.

Project Management Unit Tanoto Foundation, Yusriwiati Yose, menjelaskan bahwa Fasda Perubahan menjadi ruang bagi para fasilitator daerah untuk mengembangkan solusi inovatif sesuai kebutuhan dan potensi wilayah masing-masing.

"Fasda Perubahan merupakan kesempatan untuk mengatasi tantangan literasi dan numerasi di daerah. Melalui proyek ini, Fasda didorong menjadi agen perubahan yang mampu melahirkan inovasi peningkatan literasi dan numerasi berbasis konteks lokal,” kata Yusriwiati.

Ia menjelaskan, proyek tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan Fasda serta mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, sektor swasta, organisasi lokal, dan pemangku kepentingan lainnya sebagai bagian dari ekosistem peningkatan kualitas pendidikan.

Untuk wilayah Riau, Proyek Fasda Perubahan 2026 menyasar tiga daerah, yakni Kota Dumai, Kota Pekanbaru, dan Kabupaten Bengkalis. Khusus di Dumai terdapat tiga proyek, yaitu Gemilang yang berfokus pada pemanfaatan potensi wisata lokal dalam penguatan literasi numerasi guru, EduCore Numeracy melalui kolaborasi guru dalam Lesson Study RME, serta Anre Beraksi melalui Gerakan Literasi Terbimbing (GLITTER).

Pada proyek Gemilang, sasaran program mencakup 43 guru dari 43 SMP di Kota Dumai. Sementara itu, EduCore Numeracy menyasar 45 guru dari 42 SD Negeri dan Anre Beraksi melibatkan 40 guru dari 20 SD Negeri.

Setiap tim Fasda dalam pelaksanaan proyek juga mendapatkan pendampingan dari seorang coach yang berasal dari perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Proyek Fasda Perubahan 2026 tersebut berlangsung sejak April hingga November 2026.

Melalui pendekatan tersebut, Tanoto Foundation berharap inovasi yang dikembangkan Fasda tidak berhenti pada satu kegiatan pembelajaran, tetapi dapat menjadi praktik baik yang direplikasi dan dikembangkan oleh sekolah maupun guru lain sesuai dengan potensi daerah masing-masing.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026