Logo Header Antaranews Riau

Bahaya abu vulkanik bagi paru-paru, warga diminta waspada

Senin, 7 September 2026 14:45 WIB
Image Print
Petugas Kepolisian Direktorat Pam Ovit Polda Lampung membagikan masker kepada warga di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (6/9/2026). Aksi Pembagian masker kepada warga terebut dilakukan karena dampak dari abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau. ANTARA FOTO/Ardiansyah/YU/pri. (ANTARA FOTO/ARDIANSYAH)

Jakarta (ANTARA) - Abu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah akibat meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Jika terhirup dalam jumlah banyak atau terus-menerus, partikel halus yang mengandung mineral, bebatuan, hingga kaca vulkanik itu dapat mengganggu saluran pernapasan dan memperburuk penyakit paru kronis.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan abu vulkanik yang masuk ke saluran napas secara langsung dapat memicu batuk dan iritasi tenggorokan.

"Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi," kata Prof. Tjandra kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Pernyataan tersebut disampaikan Tjandra menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Menurut dia, paparan abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis atau penyakit serupa bronkitis. Risiko tersebut menjadi lebih serius bagi masyarakat yang telah memiliki penyakit paru kronis, terutama asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

"Abu yang terhisap masuk ke paru dan saluran napas secara langsung akan dapat menyebabkan keluhan batuk dan iritasi tenggorok," ujarnya.

Bukan Hanya Paru-paru
Dampak abu vulkanik tidak berhenti pada sistem pernapasan. Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata.

Tjandra menjelaskan, apabila abu vulkanik mencemari sumber air dan makanan, masyarakat juga dapat mengalami gangguan pada saluran pencernaan.

Dalam kondisi ekstrem, terutama ketika seseorang berada sangat dekat dengan pusat letusan dan menghirup abu dalam jumlah sangat banyak, paparan tersebut bahkan dapat menyebabkan asfiksia, yakni kondisi kekurangan oksigen yang dapat menimbulkan sensasi seperti tercekik.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika konsentrasi abu vulkanik di udara meningkat.

Masker hingga Tutup Rumah Rapat
Tjandra mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi resmi pemerintah dan lembaga terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi paparan abu, khususnya bagi penderita penyakit paru kronis dan masyarakat yang tinggal di wilayah dengan paparan abu cukup tinggi.

"Kalau abu cukup banyak jumlahnya bahkan ada anjuran menggunakan kacamata pelindung dan baju tangan panjang kalau sedang di luar rumah," kata Tjandra.

Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas fisik yang berlebihan di luar ruangan. Setelah beraktivitas di kawasan yang terpapar abu, tubuh dan pakaian perlu segera dibersihkan agar partikel abu tidak terbawa masuk ke dalam rumah.

Pakaian yang digunakan di luar rumah juga sebaiknya segera dicuci dengan bersih setelah tiba di rumah.

Selain itu, pintu dan jendela rumah dianjurkan ditutup rapat untuk meminimalkan masuknya abu vulkanik dari luar.

Tjandra menilai kondisi Jakarta dan sekitarnya pada Minggu pagi, 6 September 2026, belum memerlukan langkah pembatasan khusus. Namun, ia berharap kondisi tidak memburuk dalam beberapa hari mendatang.

"Secara umum tentu mereka yang kini ada keluhan kesehatan maka segeralah konsultasi ke fasilitas kesehatan yang ada. Juga, marilah tetap kita jaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga dengan baik," ujar profesor kehormatan di Universitas Griffith itu.

Anak Krakatau Erupsi Terus-Menerus
Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9).

Tingginya aktivitas erupsi juga menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, sebaran abu juga meluas ke sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk kawasan Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang memiliki penyakit pernapasan, dengan mengurangi paparan langsung terhadap abu dan mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026