Logo Header Antaranews Riau

Karakteristik unik wanita Indonesia saat memasuki transisi menopause

Senin, 7 September 2026 14:25 WIB
Image Print
Menopause coaching specialist dan ahli gizi bersertifikat MNU Alvina Olivia dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu (6/9/2026). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Perimenopause atau masa transisi menuju menopause kerap datang tanpa disadari. Alih-alih mengenali gejalanya sebagai perubahan hormonal, banyak wanita Indonesia justru menganggap keluhan yang muncul sebagai tanda penuaan, kelelahan, atau bahkan sekadar “masuk angin”.

Menopause coaching specialist dan ahli gizi bersertifikat MNU Alvina Olivia mengatakan, fase perimenopause dapat dimulai jauh sebelum seorang wanita benar-benar mengalami menopause, bahkan hingga sekitar 10 tahun sebelumnya.

“Perimenopause itu dimulai bisa 10 tahun sebelumnya. Semisal usia kita saat ini 49, berarti itu sudah dimulai pada usia 39. Kita akan merasa tubuh banyak berubah, kita tidak perlu terlalu tua untuk berada di fase perimenopause,” kata Alvina dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu.

Menurut Alvina, salah satu hal yang menarik adalah karakteristik keluhan wanita Indonesia selama masa transisi tersebut berbeda dengan anggapan umum mengenai menopause, terutama terkait gejala hot flushes atau sensasi panas mendadak.

Mengutip hasil studi Pan-Asia Menopause (PAM) yang melibatkan 1.028 wanita pascamenopause dari 11 negara dan wilayah serta sembilan kelompok etnis, penelitian tersebut mencatat 18 gejala yang dialami peserta setiap hari.

Dari studi itu, hanya 5 persen wanita Indonesia yang melaporkan mengalami hot flushes. Sebaliknya, keluhan yang lebih banyak muncul justru berupa nyeri atau pegal-pegal pada tubuh dan persendian yang dialami 93 persen responden, sementara 52 persen mengalami gangguan tidur.

Keluhan-keluhan tersebut, kata Alvina, sering kali tidak langsung dikaitkan dengan perimenopause.

Di Indonesia, nyeri badan bisa dianggap sebagai dampak bertambahnya usia, gangguan tidur dikaitkan dengan kelelahan, sementara tubuh yang terasa tidak enak bahkan dapat dianggap sebagai masuk angin dan berujung pada kebiasaan dikerok.

“Tidak ada yang mengajarkan kita (para wanita) kalau gejala itu bagian dari perjalanan menopause, enggak ada yang menyebut itu menopause,” katanya.

Estrogen Berubah, Tubuh Ikut Beradaptasi
Alvina menjelaskan bahwa perimenopause merupakan proses transisi yang wajar dialami wanita. Salah satu faktor penting dalam fase ini adalah perubahan kadar hormon estrogen yang selama ini berperan besar dalam berbagai fungsi tubuh.

Estrogen tidak hanya berkaitan dengan siklus menstruasi, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga kesehatan tulang dan otot hingga memengaruhi distribusi lemak tubuh. Karena itu, ketika terjadi perubahan hormonal, dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

“Biasanya wanita pada titik ini akan merasakan hidup menjadi lebih berat dan tidak merasa menjadi dirinya sendiri,” ujar Alvina.

Ia mengibaratkan estrogen seperti shockbreaker pada kendaraan yang membantu tubuh menghadapi berbagai perubahan. Namun, memasuki perimenopause, kemampuan sistem tersebut mengalami perubahan sehingga tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Menurut Alvina, perubahan tersebut terutama berkaitan dengan estradiol, salah satu dari tiga jenis estrogen yang paling dominan.

“Ini dikarenakan ada estradiol, satu dari tiga estrogen yang paling dominan, sehingga saat kita ngomong estrogen, itu biasanya kita lagi mengarah ke estradiol. Estradiol itu mengayun secara liar, kadang dia naik atas banget sampai lebih tinggi dari saat kita umur 20-an, terus bisa-bisa minggu depannya anjlok, seanjlok-anjloknya, lalu naik lagi, gila-gilaan bulan depannya,” tambahnya.

Bukan Sekadar Mudah Lupa atau Berat Badan Bertambah
Perubahan hormonal selama perimenopause juga dapat muncul melalui gejala yang sering dianggap tidak berkaitan satu sama lain.

Alvina menyebut, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain bertambahnya lemak di area pinggir perut, brain fog atau kabut otak, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem.

Brain fog, misalnya, dapat membuat seseorang tiba-tiba lupa apa yang hendak dilakukan atau sulit berkonsentrasi. Sementara perubahan suasana hati dapat muncul dalam bentuk mood swing yang sebelumnya tidak biasa dialami.

Beragam perubahan tersebut membuat wanita terkadang merasa dirinya “berubah” dan tidak lagi mengenali kondisi tubuh maupun emosinya sendiri.

Karena itu, Alvina mengingatkan pentingnya mengenali perubahan sejak dini dan tidak menganggap semua keluhan sebagai konsekuensi biasa dari bertambahnya usia.

Kenali Gejala dan Jangan Ragu Berkonsultasi
Alvina menyarankan wanita yang mulai merasakan berbagai perubahan pada tubuh untuk mencatat gejala yang muncul. Catatan tersebut dapat membantu melihat pola perubahan dan menjadi bahan pembicaraan ketika berkonsultasi dengan tenaga medis.

Ia juga menganjurkan agar wanita tidak menghadapi masa perimenopause seorang diri. Menceritakan perubahan yang dialami kepada orang-orang terdekat dapat membantu memberikan rasa nyaman dan dukungan emosional selama menjalani fase tersebut.

Yang tidak kalah penting, wanita yang merasa mengalami gejala perimenopause disarankan berkonsultasi dengan dokter yang memahami menopause.

Dokter, kata Alvina, diharapkan tidak hanya melihat satu keluhan secara terpisah, tetapi bersedia mendengarkan perjalanan perubahan yang dialami pasien secara menyeluruh sehingga diagnosis dan penanganan yang diberikan dapat lebih tepat.

Dengan mengenali gejalanya sejak awal, perimenopause tidak harus menjadi fase yang membuat wanita merasa kehilangan dirinya sendiri. Pemahaman yang tepat justru dapat membantu wanita mempersiapkan tubuh dan mental untuk memasuki tahap kehidupan berikutnya.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026