Logo Header Antaranews Riau

Madu Bertuah,Madu paling Riau dari Pekanbaru

Senin, 7 September 2026 12:43 WIB
Image Print
Pelatihan madu Apis Melivera di Kampar. (ANTARA/HO-Madu Riau)

Pekanbaru, (ANTARA) - Nama Pekanbaru selama ini lekat dengan sebutan Kota Bertuah. Dari kota inilah sebuah merek madu lokal mencoba membawa identitas tersebut lebih jauh melalui produk yang bersumber dari aktivitas perlebahan di Riau.

Namanya Madu Bertuah.

Berbasis di Rumbai, Pekanbaru, Madu Bertuah mengembangkan produk madu dengan mengandalkan potensi perlebahan Riau, termasuk madu Apis mellifera yang berasal dari nektar bunga akasia (Acacia crassicarpa), tanaman yang banyak dijumpai di kawasan perkebunan akasia di Provinsi Riau.

Bagi pengelolanya, keterkaitan antara nama, lokasi usaha dan bahan baku tersebut bukan sekadar strategi branding.

"Madu Bertuah ini kami ingin menjadi madu Riau yang paling Riau. Namanya Madu Bertuah, pusat produksinya di Pekanbaru, dan salah satu madu favorit kami berasal dari nektar akasia yang memang banyak tersedia di Riau," ujar pemilik Madu Bertuah, Pak Citato.

Salah satu varian yang paling banyak diminati konsumen Madu Bertuah adalah madu Apis mellifera dari nektar akasia.

Madu tersebut dihasilkan oleh lebah yang mengumpulkan nektar dari bunga Acacia crassicarpa yang banyak dibudidayakan di kawasan perkebunan akasia Riau.

Karakter inilah yang menjadi salah satu pembeda Madu Bertuah.

Lebah Apis mellifera memang dapat dibudidayakan di berbagai daerah. Namun, sumber nektar yang tersedia di lingkungan tempat lebah mencari makan akan turut menentukan karakter madu yang dihasilkan.

Menurut pengelola Madu Bertuah, keberadaan hamparan perkebunan akasia di Riau memberikan peluang bagi berkembangnya madu berbasis nektar akasia yang memiliki identitas kuat sebagai produk perlebahan daerah.

"Lebahnya mungkin sama-sama Apis mellifera, tetapi sumber pakannya berbeda. Riau memiliki kawasan akasia yang menjadi salah satu sumber nektar penting bagi lebah kami. Itu yang membuat kami melihat madu akasia Riau sebagai salah satu potensi produk khas daerah," katanya.

Karena itu, Madu Bertuah tidak hanya melihat madu sebagai komoditas pangan, tetapi juga sebagai bagian dari potensi produk lokal yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh khas Pekanbaru.

Peternakan Tersebar dari Siak hingga Dumai

Untuk mendukung pasokan madu, aktivitas perlebahan Madu Bertuah tidak hanya berpusat di satu lokasi.

Jaringan peternakan lebahnya tersebar di sejumlah wilayah Riau, mulai dari kawasan Siak hingga Dumai.

Model tersebut memungkinkan kegiatan produksi madu berjalan dengan memanfaatkan potensi sumber pakan lebah di berbagai wilayah.

Di sisi lain, pengembangan jaringan peternakan juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan peternak dengan pasar.

Bagi industri perlebahan, pemasaran menjadi salah satu tantangan yang tidak kalah penting dibandingkan proses budidaya. Peternak dapat menghasilkan madu, tetapi tanpa akses pasar yang baik, nilai ekonomi yang diperoleh belum tentu maksimal.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Madu Bertuah sejak awal pengembangannya.

Saat ini Madu Bertuah memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 5 ton per bulan.

Produk dipasarkan dalam beberapa pilihan ukuran, mulai dari kemasan 250 gram, 500 gram, 1 kilogram reguler, 1 kilogram premium, 5 kilogram hingga 50 kilogram.

Dengan pilihan kemasan tersebut, Madu Bertuah tidak hanya menyasar konsumen rumah tangga, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha yang membutuhkan madu dalam jumlah lebih besar.

Pusat produksi Madu Bertuah berada di kawasan Rumbai, Pekanbaru.

Usaha tersebut telah memiliki legalitas P-IRT 2071471041499-29 dan sertifikasi halal dengan nomor ID14110016936960424.

Kapasitas yang dimiliki juga diarahkan untuk mendukung pelaku UMKM lokal yang ingin masuk atau berkembang di sektor produk perlebahan.

"Kami tidak ingin hanya menjual madu dengan merek sendiri. Kapasitas yang kami punya juga bisa dimanfaatkan untuk membantu UMKM lokal. Harapannya semakin banyak pelaku usaha yang bisa tumbuh melalui produk perlebahan," ujar Pak Citato.

Dari Penyuluh hingga Mengembangkan Merek Sendiri

Di balik Madu Bertuah terdapat pengalaman panjang Pak Citato dalam dunia perlebahan.

Sejak sekitar 2015, ia aktif sebagai penyuluh budidaya lebah madu di Riau. Pengalamannya tidak hanya berkaitan dengan teknik budidaya, tetapi juga dengan persoalan yang dihadapi peternak setelah madu berhasil dipanen.

Salah satu persoalan yang sering ditemui adalah pemasaran.

Tidak sedikit peternak yang mampu memelihara koloni dan menghasilkan madu, tetapi masih menghadapi kendala dalam mengemas, membangun merek, menentukan pasar, hingga menjual produknya secara offline maupun online.

Dalam perjalanannya, Pak Citato kemudian turut mendampingi sejumlah pelaku usaha dan peternak dalam pengembangan usaha perlebahan, termasuk aspek kemasan, pemasaran dan pengembangan pasar.

Pengalaman tersebut akhirnya mendorongnya membangun merek sendiri.

Madu Bertuah menjadi salah satu bentuk dari perjalanan tersebut.

"Kalau tidak lama bermain di dunia perlebahan, tentu kita tidak akan memahami bagaimana membangun produk yang benar-benar punya karakter. Kami ingin pengalaman yang selama ini didapat bisa diwujudkan dalam sebuah merek," katanya.

Madu Bertuah dan Identitas Kota Pekanbaru

Pemilihan nama Madu Bertuah juga bukan tanpa alasan.

Kata "Bertuah" merupakan bagian dari identitas yang sudah lama melekat pada Pekanbaru. Bagi pengelola Madu Bertuah, penggunaan nama tersebut menjadi cara untuk menghubungkan produk dengan kota tempat usaha ini tumbuh.

Jika Pekanbaru dikenal sebagai Kota Bertuah, maka Madu Bertuah ingin membawa semangat tersebut ke dalam produk perlebahan.

"Madu Bertuah ini lahir di Pekanbaru. Jadi kami ingin orang ketika melihat produknya langsung teringat Riau dan Pekanbaru," ujarnya.

Identitas tersebut menjadi semakin kuat karena salah satu produk unggulannya memanfaatkan madu dari nektar akasia yang berkembang di ekosistem perkebunan Riau.

Hal itu membuat madu akasia Riau memiliki peluang untuk dikembangkan bukan hanya sebagai produk konsumsi sehari-hari, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan oleh-oleh daerah.

Bagi wisatawan yang datang ke Pekanbaru, madu dapat menjadi alternatif oleh-oleh yang membawa cerita tentang potensi alam Riau.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menjual Madu

Ke depan, Madu Bertuah melihat peluang industri madu Riau masih terbuka cukup lebar.

Potensi sumber pakan lebah, keberadaan peternak, pasar produk madu dan meningkatnya minat terhadap produk pangan berbasis sumber daya lokal menjadi modal untuk mengembangkan industri perlebahan secara lebih serius.

Namun, pengembangan tersebut membutuhkan ekosistem.

Peternak membutuhkan pasar. UMKM membutuhkan produk dan pasokan yang konsisten. Konsumen membutuhkan produk yang memiliki identitas dan legalitas yang jelas.

Di titik itulah Madu Bertuah ingin mengambil peran.

Dari Rumbai, Pekanbaru, produk ini tidak hanya diposisikan sebagai merek madu, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mengangkat potensi perlebahan Riau.

Dengan kapasitas hingga 5 ton per bulan, jaringan peternakan dari Siak hingga Dumai, serta pengalaman panjang pengelolanya di dunia perlebahan, Madu Bertuah ingin membuktikan bahwa produk lokal Riau juga dapat memiliki cerita yang kuat.

Sebuah cerita yang bermula dari lebah, bunga akasia dan para peternak di Riau, kemudian berakhir menjadi sebotol madu dengan nama yang sangat dekat dengan identitas kota tempatnya lahir:



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026