
SMK Kehutanan Pekanbaru belajar turunkan kadar air madu dengan teknologi water blanket

Pekanbaru, (ANTARA) - Madu bukan sekadar produk yang dihasilkan lebah. Di balik sebotol madu terdapat proses panjang yang membutuhkan pemahaman tentang lebah, sumber nektar, kadar air hingga teknologi pengolahan pascapanen.
Hal tersebut dipelajari secara langsung oleh siswa kelas III SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru melalui kegiatan praktik pengolahan madu dengan metode evaporasi menggunakan mesin water blanket.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 50 kilogram madu jenis Apis mellifera dengan sumber nektar akasia digunakan sebagai bahan praktik.
Madu tersebut dipasok oleh Madu Bertuah, produsen madu yang berbasis di Pekanbaru.
Praktik tersebut menjadi salah satu bagian dari pembelajaran vokasi agar siswa tidak hanya memahami teori mengenai hasil hutan dan sumber daya alam, tetapi juga mengenal bagaimana suatu produk hasil perlebahan diproses hingga memiliki kualitas yang sesuai untuk dipasarkan.
SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru sendiri merupakan sekolah vokasi kehutanan yang berada di bawah Kementerian Kehutanan dan memiliki orientasi pendidikan pada kemampuan akademik sekaligus keterampilan praktis peserta didik.
Madu Akasia Riau Jadi Bahan Praktik
Madu yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan madu Apis mellifera dari nektar akasia.
Jenis madu ini menjadi salah satu produk yang banyak dikembangkan Madu Bertuah karena lebah Apis mellifera ditempatkan pada kawasan yang memiliki sumber pakan berupa tanaman akasia.
Bagi Madu Bertuah, madu akasia memiliki nilai tersendiri karena berkaitan erat dengan karakter ekosistem perkebunan akasia yang banyak terdapat di Riau.
Dalam kegiatan praktik tersebut, madu tidak langsung dikemas untuk dipasarkan. Para siswa mempelajari salah satu tahapan penting dalam pengolahan madu, yakni pengurangan kadar air.
Kadar air merupakan salah satu parameter penting dalam kualitas madu. Kadar air yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko fermentasi dan mempercepat penurunan mutu madu. Penelitian mengenai pengurangan kadar air madu juga menunjukkan bahwa proses dehumidifikasi maupun evaporasi dapat digunakan sebagai metode untuk menurunkan kadar air madu.
Menggunakan Mesin Water Blanket
Dalam praktik kali ini, proses pengurangan kadar air dilakukan menggunakan mesin water blanket.
Madu ditempatkan di dalam mesin kemudian dipanaskan secara tidak langsung melalui sistem pemanas berbasis air. Selama proses berlangsung, madu juga diaduk pada bagian tengah sehingga proses penguapan berlangsung secara lebih merata.
Uap air yang keluar dari madu kemudian diarahkan menuju saluran pembuangan.
Proses tersebut dilakukan selama beberapa jam hingga kadar air madu mengalami penurunan dan konsistensinya menjadi lebih kental.
Salah satu perhatian utama dalam proses tersebut adalah pengendalian suhu.
Madu tidak diperlakukan dengan pemanasan tinggi karena komponen alami tertentu pada madu, termasuk aktivitas enzim seperti diastase, dapat dipengaruhi oleh perlakuan panas. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan semakin lama madu mengalami pemanasan, perubahan terhadap aktivitas diastase dan pembentukan HMF dapat semakin terlihat.
Karena itu, dalam praktik ini suhu madu dijaga di bawah 38 derajat Celsius dengan tujuan melakukan pengurangan kadar air secara perlahan sambil meminimalkan paparan panas terhadap madu.
Pendekatan suhu rendah tersebut juga menjadi salah satu materi penting yang dikenalkan kepada siswa dalam memahami teknologi pengolahan madu.
Tidak Hanya Water Blanket
Menurut materi praktik, pengurangan kadar air madu sebenarnya dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan.
Selain metode evaporasi menggunakan water blanket, salah satu metode lain yang dapat digunakan adalah dehumidifikasi, yakni menempatkan madu dalam ruangan dengan kondisi kelembapan udara yang dikendalikan menggunakan dehumidifier.
Kedua metode tersebut memiliki prinsip yang sama, yaitu membantu mengeluarkan sebagian kandungan air dari madu tanpa memberikan perlakuan panas berlebihan.
Penelitian mengenai pengurangan kadar air madu juga telah membandingkan metode evaporasi dan dehumidifikasi sebagai pendekatan untuk menurunkan kadar air madu.
Bagi siswa SMK Kehutanan, pembelajaran seperti ini memberikan gambaran bahwa pengetahuan kehutanan dan perlebahan tidak berhenti pada proses produksi di lapangan.
Ada proses lanjutan yang membutuhkan pengetahuan teknologi pangan, pengendalian mutu dan pengolahan hasil.
Praktik tersebut dipandu oleh Avry Pribadi, yang dikenal memiliki latar belakang penelitian di bidang lebah madu.
Avry tercatat sebagai alumni program magister pada Honey Bee Program, Department of Entomology, University of Georgia, Amerika Serikat. Dalam profil University of Georgia, disebutkan bahwa ia mempelajari berbagai aspek lebah madu dan sebelumnya telah terlibat dalam penelitian serta kegiatan penyuluhan terkait lebah madu di Indonesia.
Namanya juga tercatat dalam sejumlah publikasi ilmiah mengenai perlebahan dan madu di Indonesia.
Salah satunya adalah penelitian mengenai karakteristik madu lebah hutan Apis dorsata dari berbagai bioregion di Riau yang ditulis bersama M. Enggar Wiratmoko. Penelitian tersebut mencakup beberapa wilayah Riau, termasuk kawasan Siak yang memiliki lanskap perkebunan akasia.
Penelitian lain yang dilakukan bersama peneliti BRIN membahas karakteristik fisikokimia madu Heterotrigona itama dari beberapa wilayah di Riau.
Keterlibatan praktisi dan peneliti dengan pengalaman khusus di bidang lebah madu menjadi nilai tambah bagi kegiatan pembelajaran siswa.
Praktik Tahunan untuk Siswa Kelas III
Kegiatan praktik pengolahan madu tersebut merupakan bagian dari agenda pembelajaran untuk siswa kelas III.
Pada tahun terakhir pendidikan, siswa mendapatkan kesempatan untuk memperbanyak praktik dari berbagai teori yang sebelumnya telah mereka pelajari selama masa pendidikan.
Konsep tersebut sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
"Harapannya anak-anak tidak hanya mengetahui teorinya, tetapi ketika mereka turun ke masyarakat nanti sudah memahami bagaimana prosesnya. Mereka bisa melihat langsung dari bahan baku sampai menjadi produk," ujar Avry dalam kegiatan tersebut.
Dengan pengalaman praktik seperti ini, siswa diharapkan memiliki bekal untuk mengembangkan potensi hasil hutan bukan kayu dan produk perlebahan di tengah masyarakat.
Madu Bertuah Dipercaya Menjadi Mitra Penyedia Bahan Praktik
Pemilihan Madu Bertuah sebagai pemasok madu untuk kegiatan praktik tersebut juga berkaitan dengan pengalaman brand tersebut dalam bidang perlebahan.
Pemilik Madu Bertuah, Pak Citato, merupakan pelaku usaha sekaligus penyuluh budidaya lebah madu yang telah aktif di bidang perlebahan Riau sejak sekitar 2015.
Selama menjalankan aktivitasnya, Pak Citato tidak hanya berfokus pada produksi dan penjualan madu, tetapi juga mendampingi peternak dalam pengembangan usaha, terutama pada aspek pemasaran, kemasan serta pemasaran offline dan online.
Madu Bertuah sendiri memiliki jaringan peternakan yang tersebar di sejumlah wilayah Riau dan mengembangkan berbagai jenis serta ukuran produk madu.
Mulai dari kemasan rumah tangga hingga kemasan dalam jumlah besar.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru mempercayakan kebutuhan madu untuk kegiatan praktik kepada Madu Bertuah.
"Kami senang bisa ikut menjadi bagian dari proses belajar anak-anak SMK Kehutanan. Madu yang selama ini kami produksi bisa menjadi bahan pembelajaran, bukan hanya untuk dijual," kata Pak Citato.
Menurutnya, hubungan antara dunia pendidikan dan pelaku usaha perlebahan penting untuk terus dikembangkan.
Sebab, industri perlebahan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memahami bagaimana lebah dibudidayakan, tetapi juga memahami bagaimana hasil produksinya diolah dan mempunyai nilai ekonomi.
Dari Lebah Riau untuk Generasi Muda
Kegiatan tersebut memperlihatkan satu mata rantai yang cukup lengkap dalam industri perlebahan.
Lebah menghasilkan madu dari sumber nektar. Peternak menjaga koloni dan memanen hasilnya. Pelaku usaha mengembangkan produk dan pasar. Sementara lembaga pendidikan mempersiapkan generasi yang nantinya dapat membawa pengetahuan tersebut kembali ke masyarakat.
Bagi Madu Bertuah, keterlibatan dalam kegiatan pendidikan seperti ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perlebahan di Riau.
"Kalau ingin industri madu Riau berkembang, tidak cukup hanya bicara penjualan. Harus ada peternaknya, ada peneliti, ada sekolah yang mengajarkan ilmunya, ada teknologi pengolahan dan ada pasar," ujar Pak Citato.
Dari ruang praktik SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, 50 kilogram madu akasia Madu Bertuah pun memiliki cerita yang berbeda.
Bukan sekadar menjadi produk yang dikonsumsi, tetapi menjadi bahan belajar bagi generasi muda yang kelak diharapkan mampu mengembangkan potensi perlebahan dan hasil hutan di tengah masyarakat.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

