Logo Header Antaranews Riau

Iran siapkan zona maritim terbatas di luar Selat Hormuz, kapal yang masuk terancam sanksi

Senin, 7 September 2026 12:16 WIB
Image Print
Peta Selat Hormuz dan pesisir Fujairah di Dubai, Uni Emirat Arab. ANTARA/Google Map/am.

Istanbul (ANTARA) - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat. Iran dalam beberapa hari mendatang akan menetapkan zona maritim baru berstatus “terbatas” di luar Selat Hormuz. Setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi, menurut pejabat keamanan Iran.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan zona baru itu akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan membentang hingga sejumlah wilayah di Teluk.

“Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi,” kata Rezaei dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran Press TV, Minggu.

Langkah tersebut berpotensi semakin memperketat lalu lintas pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Iran-Oman siapkan koridor baru
Di tengah pembatasan tersebut, Rezaei mengatakan Iran dan Oman akan menandatangani kesepakatan dalam beberapa hari mendatang mengenai pembentukan koridor baru melalui Selat Hormuz.

Menurut dia, titik masuk dan keluar koridor tersebut akan berada di bawah kendali Iran.

Rezaei bahkan menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini “sepenuhnya ditutup dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata” Iran.

Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan keras terhadap Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut masih terbuka.

Rezaei menyebut klaim Trump sebagai “kebohongan besar”.

Lalu lintas kapal disebut anjlok drastis
Rezaei mengungkapkan bahwa sebelum Iran menutup Selat Hormuz, lebih dari 100 kapal dengan total muatan lebih dari 100 juta ton kargo melintasi jalur tersebut setiap hari.

Kini, menurut dia, jumlah kapal yang melintas menyusut drastis menjadi hanya sekitar tujuh hingga delapan kapal, yang disebut membawa kebutuhan pokok bagi Iran.

“Amerika berusaha menyelundupkan lima hingga enam kapal dengan biaya besar, tetapi kapal-kapal ini biasanya diserang,” ujarnya, tanpa memberikan rincian mengenai insiden yang dimaksud.

Meski demikian, Rezaei mengatakan Iran memilih tidak menenggelamkan kapal-kapal tersebut karena sebagian membawa minyak. Menurut dia, penenggelaman kapal tanker dapat menimbulkan kerusakan lingkungan serius di kawasan Teluk.

Iran klaim uji rudal antikapal terhadap kapal perang AS
Dalam pernyataan lain yang berpotensi memperuncing ketegangan, Rezaei mengklaim Iran telah menguji rudal antikapal baru terhadap sebuah kapal Angkatan Laut AS sekitar 48 jam sebelumnya.

“Untuk pertama kalinya, kami menguji rudal antikapal kami di atas kapal perang Amerika,” kata Rezaei.

“Rudal khusus ini membuat Amerika seperti berada di neraka, dan mereka melarikan diri,” tambahnya.

Namun, Rezaei tidak menyebutkan nama kapal AS maupun lokasi pengujian tersebut. Klaim tersebut juga belum disertai rincian independen mengenai jenis rudal, sasaran, ataupun dampak yang ditimbulkan.

Teheran bantah krisis pangan akibat blokade AS
Di tengah tekanan ekonomi dan pembatasan perdagangan, Rezaei juga membantah klaim bahwa blokade ekonomi AS telah menyebabkan kelaparan meluas di Iran.

“Klaim bahwa blokade ekonomi AS menyebabkan kelaparan besar di Iran adalah kebohongan besar,” kata Rezaei kepada penyiar pemerintah Iran IRIB.

Ia mengatakan pemerintah Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut dan memastikan persediaan makanan serta kebutuhan pokok tetap tersedia.

Ketegangan AS-Iran terus meningkat
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Israel serta sejumlah kepentingan AS di berbagai wilayah di kawasan.

Pada Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mencakup sejumlah langkah untuk mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, serta mengatasi pembatasan ekonomi.

Namun, kesepakatan itu belum mampu meredakan ketegangan. Iran dan AS saling menuduh tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati, sementara perselisihan mengenai sanksi, keamanan, dan pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut.

Rencana Iran untuk memberlakukan zona maritim terbatas baru di luar Hormuz kini berpotensi menjadi babak baru dalam perseteruan tersebut, sekaligus menambah tekanan terhadap jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.

Sumber: Anadolu



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026