
Ratusan tabung Accumulator Shell dari Bintan menembus pasar Jerman

Pekanbaru (ANTARA) - Produk industri buatan Bintan kembali menunjukkan tajinya di pasar global. Sebanyak 410 tabung accumulator shell produksi PT Shelltec Hydraulic Indonesia resmi diberangkatkan menuju Jerman dalam ekspor perdana perusahaan tersebut, dengan nilai mencapai Rp1 miliar.
Pelepasan ekspor berlangsung pada Senin (24/8) di Bintan Industrial Estate (BIE), kawasan industri yang dikelola PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE) dan berada di dalam kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB/FTZ) di utara Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi industri manufaktur Bintan sekaligus menegaskan bahwa produk yang dihasilkan di kawasan FTZ mampu menembus pasar internasional dan bersaing dengan produk dari negara lain.
Kepala Kantor Bea Cukai Tanjungpinang, Joko Pri Sukmono Dwi Widodo, mengatakan 410 accumulator shell yang diekspor memiliki beragam volume dan akan digunakan sebagai komponen pendukung berbagai kebutuhan industri, termasuk sektor perminyakan dan gas bumi.
“Bea Cukai, DKUPP Bintan, dan PT BIIE bersinergi menyukseskan pelepasan ekspor ini. Nantinya, komponen accumulator shell rakitan kawasan Bintan tersebut akan dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan multinasional yang bergerak di sektor perminyakan dan gas bumi,” ujar Joko.
Menurutnya, ekspor tersebut bukan sekadar pengiriman produk ke luar negeri, tetapi juga menjadi bukti bahwa hasil produksi dari kawasan industri di Bintan telah mampu memenuhi tuntutan kualitas pasar global.
“Pencapaian luar biasa ini membuktikan bahwa produk lokal Bintan mampu memenuhi standar kualitas dan bersaing di kancah global,” lanjutnya.
Untuk memastikan ekspor perdana berjalan lancar, Bea Cukai Tanjungpinang turut hadir secara langsung dalam proses pelayanan dan pengawasan kepabeanan. Kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan industri, dan pelaku usaha menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran kegiatan ekspor.
Keberhasilan PT Shelltec Hydraulic Indonesia menembus pasar Jerman juga diharapkan menjadi pemantik bagi pelaku usaha lainnya di Kepulauan Riau. Joko berharap semakin banyak perusahaan yang berani berinovasi, meningkatkan kualitas produksi, dan memperluas pasar hingga ke mancanegara.
“Keberhasilan ini diharapkan dapat memacu para pelaku usaha lain untuk terus berinovasi dan melebarkan sayap ke pasar luar negeri demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
FTZ Jadi Penggerak Ekspor
Kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (FTZ) memiliki peran strategis dalam mendorong investasi dan aktivitas ekspor. FTZ merupakan kawasan di dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari daerah pabean.
Di kawasan ini, barang tertentu mendapatkan fasilitas kepabeanan berupa pembebasan dari bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), dan cukai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan daya tarik investasi, mendorong kegiatan produksi berorientasi ekspor, serta memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Dari Bintan, ekspor ratusan accumulator shell menuju Jerman menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana kawasan FTZ dapat menjadi pintu bagi produk manufaktur Indonesia untuk melangkah lebih jauh ke pasar dunia.
Bukan hanya membawa produk ke luar negeri, ekspor ini juga membawa pesan bahwa industri Bintan mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berstandar global.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

