Logo Header Antaranews Riau

PBB dan Mitra terus salurkan bantuan ke Gaza di tengah pembatasan dan krisis kemanusiaan

Sabtu, 5 September 2026 11:38 WIB
Image Print
gaza (Xinhua)

PBB (ANTARA) - Di tengah pembatasan akses, situasi keamanan yang masih tidak menentu, serta keterbatasan pendanaan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama para mitranya terus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga di Jalur Gaza setiap hari.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis (3/9) melaporkan bahwa tim kemanusiaan PBB sehari sebelumnya mengambil ratusan paket bantuan dari perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem. Bantuan tersebut antara lain berupa popok dewasa, tas sekolah, serta makanan pendamping bagi bayi dan anak-anak usia dini.

Koordinator Kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Ramiz Alakbarov, mengakhiri kunjungan selama tiga hari ke Gaza pada Kamis.

Dalam kunjungan tersebut, Alakbarov menegaskan bahwa persiapan menghadapi musim hujan dan musim dingin menjadi salah satu prioritas mendesak. Dukungan tambahan dari para donor diperlukan agar kebutuhan dasar warga dapat dipenuhi menjelang kondisi cuaca yang lebih berat.

OCHA juga menyerukan agar otoritas Israel mencabut berbagai pembatasan dan mempercepat proses persetujuan untuk memasukkan peralatan penting ke Gaza, termasuk oli mesin serta bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk mengoperasikan peralatan kemanusiaan.

Lebih dari 13.000 pasien dievakuasi
Di sektor kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, PBB bersama para mitranya telah membantu mengevakuasi secara medis lebih dari 13.000 pasien dari Gaza.

Lebih dari 6.000 di antaranya merupakan anak-anak.

Namun, ribuan pasien masih membutuhkan perawatan khusus yang hingga kini tidak tersedia di Gaza. WHO mendesak agar jalur rujukan medis ke Tepi Barat segera kembali dibuka, termasuk menuju rumah sakit di Yerusalem Timur.

WHO juga menyerukan dukungan untuk memulihkan sistem kesehatan dan rantai pasokan medis di Gaza sehingga ketergantungan terhadap evakuasi pasien dapat dikurangi.

Sejumlah barang yang saat ini masih dibatasi masuk, termasuk ambulans dan peralatan medis, juga diminta agar segera diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

Warga mengungsi setelah komunitas dihancurkan
Krisis kemanusiaan juga terus berlangsung di Tepi Barat. Setelah pasukan Israel menghancurkan komunitas Khirbet at Tabban di Hebron pada Rabu (2/9), PBB bersama mitra kemanusiaannya mengunjungi lokasi tersebut pada Kamis untuk menilai kebutuhan warga yang kehilangan tempat tinggal.

OCHA melaporkan bahwa para pria dari komunitas tersebut terpaksa menghabiskan malam di dalam gua bersama kawanan domba mereka, sementara para perempuan tidur di tenda.

Pada Kamis, mitra kemanusiaan PBB memberikan tenda dan selimut kepada warga yang mengungsi.

"PBB kembali menegaskan bahwa warga Palestina di seluruh wilayah Palestina yang diduduki harus dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional sebagai penduduk yang hidup di bawah pendudukan," kata OCHA.

Akses pendidikan turut terdampak
Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, gangguan juga terjadi di sektor pendidikan. Para mitra kemanusiaan melaporkan bahwa sejumlah guru tidak diizinkan memasuki Yerusalem pada Kamis.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, tercatat 224 insiden yang berdampak terhadap pendidikan di seluruh Tepi Barat.

Insiden tersebut secara langsung memengaruhi lebih dari 20.000 siswa serta sekitar 850 tenaga pendidik.

Menurut OCHA, insiden terkait akses dan kekerasan yang dilakukan oleh pemukim mencakup lebih dari tiga perempat dari seluruh kasus yang tercatat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan kemanusiaan di wilayah Palestina tidak hanya menyangkut kebutuhan pangan dan kesehatan, tetapi juga menyentuh tempat tinggal, pendidikan, serta keselamatan warga sipil.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026