Logo Header Antaranews Riau

Intelijen AS: Iran makin percaya diri dan siap lanjutkan konflik berbulan-bulan

Sabtu, 5 September 2026 11:01 WIB
Image Print
Arsip - Logo CIA terlihat di lantai kantor pusat dinas intelijen Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/as.)

Washington (ANTARA) - Iran dinilai semakin percaya diri dengan kemampuan militernya untuk menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Teheran juga disebut semakin bertekad mempertahankan konflik dengan Washington hingga berbulan-bulan ke depan.

Penilaian tersebut berdasarkan laporan intelijen terbaru AS yang dikutip The New York Times pada Jumat. Sejumlah pejabat AS yang mengetahui laporan tersebut menyebut belum ada indikasi kuat bahwa Iran siap menyepakati tuntutan Washington sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.

Situasi ini menambah ketidakpastian mengenai kapan konflik antara kedua negara akan berakhir. Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump bahkan mengaku tidak mengetahui kapan permusuhan dengan Iran akan berakhir.

Konflik terbaru bermula pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian merespons dengan serangkaian serangan balasan terhadap sasaran yang terkait dengan AS dan sekutunya di kawasan.

Pada pertengahan Juni, Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman yang diharapkan dapat menjadi jalan untuk menghentikan permusuhan. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama. Kedua pihak kembali terlibat dalam aksi saling serang.

Hingga kini, konflik belum menemukan penyelesaian permanen. Permusuhan bahkan masih berlangsung secara sporadis, sementara upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan belum menunjukkan hasil yang menentukan.

Di sisi lain, Washington terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi AS untuk menekan Teheran secara finansial agar bersedia mengakhiri konflik dan memenuhi tuntutan Washington.

Dengan belum adanya tanda-tanda kompromi yang kuat dari Iran, konflik AS-Iran berpotensi memasuki fase yang lebih panjang dan semakin sulit diprediksi.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026