
Trump: Selat Hormuz bakal makin tak dibutuhkan, jalur pipa Suriah jadi alternatif
Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi global akan semakin berkurang seiring berkembangnya jalur alternatif, termasuk jaringan pipa minyak yang melintasi Timur Tengah dan Suriah.
Trump mengatakan sejumlah pipa baru kini tengah dibangun untuk mengalihkan pengangkutan minyak dari jalur laut yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz.
“Pipa-pipa sedang dibangun sekarang. Jalan melalui Suriah, yang luar biasa, sedang dibangun dan sebenarnya sudah terbuka,” kata Trump kepada wartawan, Jumat.
Menurut dia, pengangkutan minyak melalui Suriah bahkan sudah berlangsung menggunakan truk-truk berukuran besar.
“Sejumlah alternatif untuk Selat Hormuz sedang dibuat. Selat Hormuz tidak seperti dulu lagi,” ujar Trump.
Ia menambahkan bahwa pembangunan jaringan pipa di berbagai wilayah Timur Tengah pada akhirnya dapat mengurangi ketergantungan terhadap selat strategis yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.
“Mereka (Iran) pada akhirnya akan memiliki Selat Hormuz yang tidak lagi terlalu diperlukan. Pipa-pipa sedang dibangun di seluruh Timur Tengah sehingga mereka tidak perlu melalui Hormuz,” kata Trump.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Dalam unggahan di Truth Social pada Kamis, Trump menyertakan gambar yang menunjukkan sekitar 18 juta barel minyak per hari saat ini melewati Selat Hormuz. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik dengan Iran dimulai.
Pada 18 Agustus, Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran. Namun, blokade angkatan laut terhadap Iran masih diberlakukan.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur paling vital bagi perdagangan energi dunia. Sebelum eskalasi konflik, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global melewati selat tersebut.
Kini, aktivitas pelayaran dilaporkan merosot signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, hanya segelintir kapal yang masih melintas, sementara kapal tanker minyak berukuran besar dan pengangkut gas nyaris menghentikan penggunaan jalur tersebut.
Jika pembangunan jalur pipa dan rute alternatif terus berkembang, ketergantungan terhadap Selat Hormuz berpotensi berubah secara signifikan dan menggeser peta distribusi energi di Timur Tengah.
Sumber: Sputnik
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
