Logo Header Antaranews Riau

Perempuan perlu kenali pemeriksaan kesehatan sesuai usia, Ini panduannya

Jumat, 4 September 2026 12:24 WIB
Image Print
Ilustrasi - Sejumlah warga menunjukkan kartu vaksinasi usai mendapatkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) dosis kedua di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Semarang, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc/am.

Jakarta (ANTARA) - Menjaga kesehatan perempuan tidak cukup hanya dengan memeriksakan diri ketika muncul keluhan. Sejumlah pemeriksaan kesehatan justru penting dilakukan secara berkala untuk mendeteksi penyakit sejak dini, bahkan sebelum gejalanya terasa.

Kebutuhan pemeriksaan tersebut dapat berubah seiring bertambahnya usia. Mulai dari pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, kesehatan mental, hingga skrining berbagai jenis kanker, semuanya perlu disesuaikan dengan kelompok usia dan faktor risiko masing-masing perempuan.

Menurut laporan laman Health, Rabu (2/9), yang ditinjau oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan bersertifikat di Illinois, Amerika Serikat, Kiarra King, MD, FACOG, pemeriksaan kesehatan yang dibutuhkan perempuan berbeda pada setiap dekade kehidupan.

Usia 20-an: Mulai bangun kebiasaan pemeriksaan rutin
Memasuki usia 20-an, perempuan dianjurkan mulai membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan meliputi tekanan darah, kolesterol, kanker serviks, infeksi menular seksual (IMS), hepatitis C, kesehatan mental, diabetes berdasarkan faktor risiko, serta pemeriksaan kesehatan kulit.

Skrining kanker serviks melalui Pap smear umumnya mulai dilakukan sejak usia 21 tahun. Sementara itu, perempuan dengan risiko rata-rata kanker payudara umumnya belum memerlukan mamografi rutin pada usia ini.

Meski demikian, perempuan tetap perlu mengenali kondisi normal payudaranya sendiri. Benjolan, perubahan pada kulit payudara, maupun keluarnya cairan dari puting merupakan perubahan yang sebaiknya segera dikonsultasikan kepada dokter.

Perawat dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang layanan kesehatan, Maggie Aime, MSN, RN, mengatakan kebutuhan pemeriksaan kesehatan perempuan dapat berubah seiring pertambahan usia maupun munculnya faktor risiko tertentu.

Usia 30-an: Jangan tinggalkan pemeriksaan yang sudah dimulai
Memasuki usia 30-an, pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan sejak usia 20-an tetap perlu dilanjutkan.

Untuk skrining kanker serviks, pilihan pemeriksaan menjadi lebih beragam, antara lain Pap smear setiap tiga tahun, tes human papillomavirus (HPV) setiap lima tahun, atau kombinasi tes HPV dan Pap smear setiap lima tahun. Pilihan metode dan interval pemeriksaan perlu disesuaikan dengan riwayat kesehatan masing-masing.

Skrining diabetes juga mulai direkomendasikan sejak usia 35 tahun bagi orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Usia 40-an: Saatnya mulai membahas mamografi
Pada usia 40-an, perempuan dengan risiko rata-rata kanker payudara umumnya mulai membicarakan pemeriksaan mamografi dengan dokter.

Kapan pemeriksaan dimulai dan seberapa sering dilakukan dapat berbeda pada setiap orang, terutama berdasarkan faktor risiko dan riwayat kanker dalam keluarga.

Selain kanker payudara, perhatian juga mulai diarahkan pada kanker kolorektal. Skrining umumnya mulai direkomendasikan sejak usia 45 tahun bagi orang dengan risiko rata-rata.

Pemeriksaan dapat dilakukan melalui beberapa metode, termasuk kolonoskopi setiap 10 tahun atau pemeriksaan berbasis sampel tinja yang dapat dilakukan di rumah dengan interval tertentu.

Usia 50-an: Perhatikan risiko kanker dan kesehatan tulang
Memasuki usia 50-an, berbagai pemeriksaan yang telah dilakukan pada dekade sebelumnya tetap perlu diteruskan.

Bagi perempuan dengan riwayat merokok yang signifikan, dokter dapat merekomendasikan skrining kanker paru. Pemeriksaan kepadatan tulang juga dapat mulai dipertimbangkan, terutama bagi perempuan yang telah menopause dan memiliki faktor risiko osteoporosis.

Secara umum, pemeriksaan kepadatan tulang direkomendasikan mulai usia 65 tahun bagi perempuan dengan risiko rata-rata. Namun, pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal apabila terdapat faktor risiko tertentu, seperti kebiasaan merokok atau riwayat patah tulang panggul dalam keluarga.

Jangan menunggu jadwal skrining jika muncul gejala
Selain mengikuti jadwal pemeriksaan berdasarkan usia, perempuan juga dianjurkan membangun hubungan dengan dokter yang dipercaya dan menyimpan catatan hasil pemeriksaan serta jadwal pemeriksaan berikutnya.

Riwayat penyakit dalam keluarga maupun perubahan kondisi kesehatan juga penting disampaikan kepada dokter karena dapat memengaruhi jenis dan waktu pemeriksaan yang diperlukan.

Yang tidak kalah penting, pemeriksaan tidak selalu harus menunggu jadwal skrining. Jika muncul gejala baru seperti benjolan, perdarahan yang tidak biasa, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, perempuan sebaiknya segera berkonsultasi.

Dengan mengenali pemeriksaan yang sesuai usia dan faktor risiko, perempuan dapat mengambil langkah lebih awal untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan peluang menemukan penyakit pada tahap yang lebih mudah ditangani.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026