Logo Header Antaranews Riau

PBB Kecam pembunuhan dua warga Palestina di Tepi Barat, soroti kekerasan dan krisis Gaza

Jumat, 4 September 2026 11:35 WIB
Image Print
Arsip foto - Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stéphane Dujarric mengadakan konferensi pers yang menguraikan prioritasnya untuk tahun 2026 di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, pada 29 Januari 2026. ANTARA/Selçuk Acar/Anadolu/pri. (ANTARA/Selçuk Acar/Anadolu/pri.)

Istanbul (ANTARA) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras pembunuhan dua warga sipil Palestina di Tepi Barat yang diduduki, seraya memperingatkan meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina serta memburuknya kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menyebut tewasnya Omar al-Naasan (19) dan Khalil Shehada (16) di Desa Al-Mughayyir sebagai peristiwa yang mengejutkan.

“PBB mengecam pembunuhan warga sipil, khususnya warga sipil Palestina, ini,” kata Dujarric kepada wartawan.

Menurut dia, PBB sangat prihatin terhadap berlanjutnya kekerasan di wilayah pendudukan, termasuk serangan terhadap warga sipil, properti, dan sumber penghidupan masyarakat Palestina.

Dujarric menegaskan bahwa otoritas Israel memiliki tanggung jawab untuk mencegah terjadinya kekerasan lebih lanjut serta memastikan pihak-pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawaban.

“Sudah menjadi tanggung jawab otoritas Israel untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan guna memenuhi kewajibannya dan meminta pertanggungjawaban orang-orang yang terlibat atas kekerasan ini,” tegasnya.

Bantuan Gaza Terus Didorong
Di tengah situasi tersebut, PBB juga menyoroti kondisi kemanusiaan yang semakin berat di Gaza.

Dujarric mengatakan tim PBB telah mengumpulkan ratusan paket bantuan kemanusiaan dari pos perbatasan Kerem Shalom. Bantuan tersebut antara lain berupa popok dewasa, tas sekolah, serta makanan untuk bayi dan anak-anak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, PBB bersama para mitranya telah mendukung evakuasi medis terhadap lebih dari 13.000 pasien dari Gaza, termasuk lebih dari 6.000 anak-anak.

Namun, ribuan pasien masih membutuhkan perawatan medis khusus yang hingga kini belum tersedia di Gaza.

WHO pun mendesak agar jalur rujukan medis di Tepi Barat segera dibuka kembali, termasuk akses menuju rumah sakit di Yerusalem Timur. Ambulans dan peralatan medis yang saat ini dilarang masuk ke Gaza juga diminta segera diizinkan masuk.

PBB Siapkan Gaza Hadapi Musim Hujan
Kepala Urusan Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Muhannad Hadi, mengatakan persiapan menghadapi musim hujan dan musim dingin menjadi salah satu prioritas utama selama kunjungan tiga harinya ke Gaza.

Persiapan tersebut membutuhkan tambahan dukungan dari para donor serta pencabutan pembatasan terhadap masuknya peralatan penting yang diberlakukan Israel.

Kekerasan Meningkat di Lebanon
Sementara itu, situasi keamanan di Lebanon juga menjadi perhatian PBB.

Dujarric mengatakan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mencatat peningkatan kekerasan sepanjang Agustus. Pada Rabu (2/9), UNIFIL mendeteksi 84 proyektil Israel, meningkat dibandingkan 56 proyektil yang tercatat sehari sebelumnya, Selasa (1/9).

Di sisi lain, pasukan penjaga perdamaian PBB tidak mendeteksi peluncuran proyektil oleh Hizbullah sejak 21 Juni.

PBB kembali menyerukan agar pasukan Israel menarik diri dari posisi-posisi di utara Garis Biru. Seruan tersebut disampaikan dengan mengacu pada kewajiban berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.

Sumber: Anadolu



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026