
PWNU Riau: Gus Kikin pikul tugas berat nahkodai PBNU

Pekanbaru (ANTARA) - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau KH R. Abdul Khalim Mahali menyebut bahwa KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menghadapi tugas yang sangat berat setelah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pernyataan tersebut disampaikan Kyai Mahali seusai penutupan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih, Senin (31/8) lalu.
Menurutnya, salah satu pekerjaan utama Gus Kikin adalah melakukan konsolidasi internal organisasi sekaligus mengembalikan suasana NU agar lebih teduh, rukun dan solid setelah dinamika internal yang terjadi sebelumnya.
"Tugas KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai nahkoda baru PBNU sangat berat. Di antaranya adalah konsolidasi internal organisasi serta menghadirkan NU yang adem dan rukun," ujar Kyai Mahali.
Ia menilai dinamika di tubuh PBNU sejak November 2025 hingga keputusan jajaran Syuriah PBNU memberhentikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya pada 26 November 2025 telah menimbulkan perhatian luas di tengah masyarakat.
Kyai Mahali menyebut persoalan tersebut merupakan dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah PBNU. Di sisi lain, sikap Gus Yahya yang melakukan perlawanan terhadap keputusan Syuriah PBNU juga dinilai menjadi bagian dari dinamika yang cukup serius.
"Terlepas Syuriah PBNU benar dan Gus Yahya punya hak membela diri, dinamika di tubuh PBNU telah menimbulkan eskalasi dan perpecahan serius di kalangan Nahdliyin. Inilah yang harus dirukunkan secara masif oleh Ketum PBNU baru," tegasnya.
Selain konsolidasi internal, Kyai Mahali menyebut Gus Kikin juga menghadapi tantangan besar dalam memperkuat kemandirian ekonomi organisasi. Ia mendorong NU untuk memiliki lembaga perbankan, maskapai penerbangan serta membentuk satuan tugas yang khusus menangani inventarisasi dan pemulihan aset NU di seluruh Indonesia.
Menurutnya, secara potensi jumlah warga NU yang besar dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara profesional. Ia mencontohkan, jika terdapat 125 juta warga NU dan masing-masing memberikan iuran Rp100 ribu, maka dana yang terkumpul mencapai Rp12,5 triliun.
"Jika jumlah warga NU adalah 125 juta secara statistik dan iuran Rp100 ribu per orang, maka terkumpul dana Rp12,5 triliun. Sangat cukup untuk mendirikan bank dan NU airline. Inilah di antara tugas berat Ketum PBNU yang baru," paparnya.
PWNU Riau, lanjutnya, juga berharap Gus Kikin menerapkan pola kepemimpinan yang inklusif dengan merangkul seluruh elemen Nahdliyin serta menghindari praktik eksklusivisme dalam menjalankan roda organisasi.
"Nahdliyin dan pengurus NU se-Indonesia perlu disapa dengan ramah, didengarkan keluhan atau harapan baik mereka," ungkapnya.
Kyai Mahali optimistis Gus Kikin mampu menjalankan amanah tersebut. Ia menilai latar belakang Gus Kikin sebagai cicit dan keturunan langsung Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, menjadi salah satu modal penting untuk membangun penerimaan dan persatuan di internal organisasi.
"Kita yakin Gus Kikin mampu mewujudkan harapan besar ini. Semoga kepemimpinan baru PBNU dapat membawa NU semakin solid, mandiri, inklusif dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa," ucapnya.
Pewarta : Diana Syafni
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

