
Dari Pulau Tambelan, Afiq belajar menjadi TELADAN

Pekanbaru (ANTARA) - Jauh sebelum internet dan gawai membawa informasi ke ujung jari, M. Rifqi Yafiq atau Afiq mengenal kota-kota besar, gedung pencakar langit, dan berbagai tempat yang belum pernah didatanginya melalui buku.
Di Pulau Tambelan, tempat ia lahir dan besar, buku-buku seperti RPUL, atlas, dan ensiklopedia menjadi jendela untuk melihat dunia di luar pulau.
Sang ibu, Razalena, membiasakan Afiq dan tiga saudaranya membaca sejak kecil. Dari halaman-halaman buku itu, tumbuh rasa ingin tahu sekaligus keinginan untuk suatu hari melihat langsung dunia yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan tulisan.
Keinginan itu tumbuh di tengah keterbatasan. Pulau Tambelan tidak memiliki akses yang layak ke pusat-pusat pendidikan dan untuk bepergian keluar pulau dibutuhkan perjalanan panjang dengan kapal. Namun, bagi Afiq, keterbatasan akses justru menjadi alasan untuk belajar lebih jauh.
Ketika duduk di bangku SMP, ia melihat sejumlah teman sebayanya memilih bekerja sebagai nelayan dan tidak melanjutkan pendidikan. Dari sana muncul keinginan sederhana untuk menunjukkan bahwa pendidikan dapat membuka jalan yang berbeda.
“Kalau saya semakin giat belajar dan menjadi murid teladan, mungkin teman-teman saya akan ikut termotivasi,” ujarnya.
Keinginan untuk terus berkembang akhirnya membawa Afiq merantau ke kota. Namun, meninggalkan pulau tidak serta-merta menghilangkan rasa takut. Saat pertama kali berada di lingkungan baru, ia sempat merasa minder dan khawatir anak-anak kota tidak akan mau berteman dengan dirinya yang berasal dari pulau.
Ia mencoba melawan rasa takut itu melalui kegiatan seni dan sastra. Perlahan, ia mulai berani tampil dan mengikuti berbagai perlombaan.
Pandemi Covid-19 menjadi tantangan berikutnya. Ketika pembelajaran beralih daring, Afiq baru mengenal gawai dan laptop. Ia merasa tertinggal dan harus belajar dari awal.
Pengalaman itu membuatnya kembali meminta izin kepada orang tua untuk merantau lebih jauh. Ia ingin membuktikan satu hal: sejauh apa anak pulau seperti dirinya bisa melangkah.
Menemukan Jalan menjadi TELADAN
Afiq akhirnya diterima di Universitas Riau melalui jalur SNBP pada Program Studi Administrasi Bisnis. Kabar itu membanggakan sekaligus mengkhawatirkan bagi keluarganya.
Jarak yang jauh dari kampung halaman membuat perjalanan pulang membutuhkan waktu dan biaya besar, sementara orang tuanya masih membiayai pendidikan saudara-saudaranya.
Sebelum berangkat bersama ayahnya, Afiq berjanji mencari cara agar kuliahnya tidak menjadi beban keluarga.
Ia kemudian memperoleh KIP-K. Pada akhir 2023, Universitas Riau menghubunginya sebagai mahasiswa baru berprestasi untuk mengikuti seleksi Program Beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation.
Awalnya ia ragu. Namun, setelah mencari informasi lebih jauh mengenai program tersebut, Afiq akhirnya memutuskan mengikuti seleksi. Ia berlatih mengerjakan soal dan bahkan melatih kemampuan wawancara setiap hari di depan cermin.
Pada 2024, usaha itu membuahkan hasil. Afiq dinyatakan sebagai penerima beasiswa TELADAN. Baginya, kesempatan tersebut bukan sekadar dukungan untuk melanjutkan pendidikan. Lebih dari itu, program tersebut memberinya ruang untuk mengenal dirinya sendiri sekaligus mengembangkan keberanian yang sebelumnya belum ia sadari.
Melalui tahap Lead Self, Afiq belajar mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta membangun self-awareness.
“Lead Self membuka jalan pikiran saya untuk terus berkembang. Saya jadi tahu apa yang sebenarnya menjadi kekuatan saya dan bagaimana mengendalikan kelemahan yang saya miliki,” katanya.
Perlahan, anak yang dahulu kerap merasa minder itu mulai berani mengambil kesempatan. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, mengikuti kompetisi seni, hingga dipercaya menjadi Duta Bahasa Riau. Peran tersebut menuntutnya untuk berkomunikasi, memfasilitasi anak-anak, sekaligus tampil di hadapan banyak orang.
Kepercayaan dirinya tumbuh bukan karena rasa takutnya tiba-tiba hilang, melainkan karena ia mulai mengenali kemampuan yang dimilikinya dan menyadari bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Dari Percaya Diri Menjadi Pemimpin
Perubahan itu kemudian membawanya ke tahap berikutnya. Pada 2026, Afiq dipercaya menjadi President Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Riau, asosiasi penerima beasiswa TELADAN sekaligus wadah bagi para scholars untuk mengembangkan inisiatif berdampak. Di TSA, Afiq menjalani tahap Lead Others, menerapkan pembelajaran dari program TELADAN melalui kolaborasi dan kepemimpinan untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Bersama TSA Universitas Riau, ia terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan numerasi di sekolah serta panti asuhan. Salah satu pengalaman di sebuah panti asuhan di Pekanbaru membuat Afiq merenung. Ia mendengar seorang anak takut memiliki cita-cita tinggi karena menganggap kuliah terlalu mahal. Cerita itu mengingatkan Afiq pada dirinya sendiri.Ia pernah berada di tempat dengan akses pendidikan yang terbatas. Ia juga pernah merasa ragu apakah dirinya mampu melangkah lebih jauh.
Namun kini, kesempatan yang diperolehnya telah membawanya ke ruang-ruang baru, mempertemukannya dengan banyak orang, dan membuatnya berani memimpin. Ia ingin kesempatan tersebut diteruskan kepada anak-anak lain.
“Saya merasa punya responsibility sebagai mahasiswa untuk berbagi secara sukarela ilmu dan pengalaman yang saya miliki,” ujarnya.
Bagi Afiq, kepemimpinan bukan sekadar berada di depan. Kepemimpinan berarti melihat persoalan, memahami kebutuhan orang lain, dan ikut mencari solusi.
Pengalaman itu pula yang membuatnya semakin memahami arti dari kesempatan. Kesempatan untuk belajar, menurutnya, akan menjadi lebih bermakna ketika dapat membuka jalan bagi orang lain.
Di tahun 2026, TSA Universitas Riau meraih penghargaan Top 1 Best Project 2026 yang diberikan Tanoto Foundation dari 10 Universitas mitra TELADAN.
Jadi setiap project TSA secara keseluruhan per periode itu dinilai langsung oleh tim Tanoto dan di rangkingkan., menjadi salah satu pencapaian dari berbagai upaya yang dilakukan para Tanoto Scholars untuk menciptakan dampak di lingkungan sekitar.
Namun, bagi Afiq, pencapaian terbesar bukanlah penghargaan atau berbagai kesempatan yang datang setelahnya. Yang paling penting adalah perubahan cara ia memandang dirinya sendiri.
“Karena TELADAN, saya tidak lagi minder. Saya bangga bisa terkoneksi dengan berbagai orang hebat di seluruh Indonesia,” katanya.
Kini Afiq tidak lagi melihat Pulau Tambelan sebagai batas. Sebaliknya, kampung halamannya adalah bagian penting dari perjalanan yang membentuk dirinya.
Dari pulau itulah ia pertama kali mengenal dunia melalui buku. Dari keterbatasan akses, tumbuh keinginannya untuk belajar lebih jauh. Dan dari keberanian untuk merantau, ia menemukan kesempatan untuk berkembang dan memimpin.
Ia ingin membuktikan bahwa anak dari daerah dengan keterbatasan akses pun dapat memiliki mimpi besar.
“Terus aktif mengambil berbagai kesempatan selama menjadi TELADAN. Setiap peluang akan terus terbuka selama kita konsisten untuk belajar dan berkembang,” pesannya.
Bagi Afiq, merantau bukan sekadar pergi meninggalkan kampung halaman. Ia pergi untuk belajar dan suatu hari nanti ingin pulang membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar gelar.
Ia ingin membawa keyakinan bahwa anak-anak di Pulau Tambelan juga berhak bermimpi setinggi apa pun.
Anak pulau, keberanian memimpin, dan menjadi pemimpin
Bagi Afiq, kesempatan itu telah mengajarkannya satu hal sederhana: asal seseorang bukanlah batas bagi sejauh mana ia bisa melangkah. Ceritanya menunjukkan bahwa sebuah kesempatan dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri. Dari anak pulau yang dahulu mengenal dunia melalui buku, ia kini tumbuh menjadi mahasiswa yang berani memimpin dan membuka jalan bagi orang lain.
Melalui Program Beasiswa TELADAN, Tanoto Foundation membuka kesempatan bagi anak muda dengan semangat seperti Afiq. Beasiswa terbuka bagi mahasiswa S1 semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra untuk mengembangkan potensi, kepemimpinan, jejaring, dan kontribusi sosial melalui TELADAN Cohort 2027. 10 perguruan tinggi mitra tersebut yakni Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Mulawarman (Unmul). Pendaftaran dibuka hingga 7 September 2027, dan informasi lengkap dapat diakses melalui https://bit.ly/JadiTELADAN2027.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

